Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Kesehatan

Dokter Spesialis Paru Beberkan Bahaya Rokok Elektrik, Vape Bikin Paru-Paru Kolaps?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

13 - Jul - 2023, 16:31

Placeholder
Salah satu jenis vape mod. (Foto: Bukalapak)

JATIMTIMES - Rokok elektrik atau vape semakin digandrungi oleh kalangan usia dewasa muda. Mereka pengguna vape mengklaim rokok elektrik lebih aman dan bergaya dibanding rokok tembakau. Benarkah demikian? 

Dokter Paru di Mayapada Hospital, dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR menjelaskan soal daya rusak rokok elektik di paru-paru. 

Baca Juga : Guru yang Disiram Air Keras Alami Buta Usai Ditolak RS, drnewstwit: Jangan Salahkan RS!

"Daya rusak rokok elektronik, yang baru beken belum ada dua dekade, cukup berat ternyata ya," tulis dr. Irandi, dikutip akun Twitternya pada Selasa (12/7/2023). 

Ia mengaku baru saja menangani pasien paru kolaps, sebagai atelektasis atau pneumotoraks. Pasien tersebut memiliki usia muda dan merupakan user vape selama tiga bulan pemakaian.

Dijelaskan dr. Irandi, atelektasis artinya paru nguncup karena udara tidak bisa keluar masuk dan paru cenderung kisut.

"Rokok-el bikin radang saluran napas dan ada produksi dahak. Kalau berlangsung terus menerus, saluran napas jadi rusak dan menyumbat," ujar dr. Irandi. 

Kemudian dr. Irandi juga menjelaskan soal pneumotoraks. Menurut dia, karena akumulasi partikel kecil yang dihirup dari rokok elektrik merusak struktur paru sehingga terjadi cedera tingkat mikro. 

"Bila berlanjut terus, pinggiran paru bisa robek dan udara kejebak di rongga dada, gak bisa keluar. Musti ditoblos chest tube," kata dr. Irandi. 

Lebih lanjut dia menegaskan bahwa gejala rokok elektrik dan rokok tembakau konvensional hampir sama. Yakni ada sesak dan batuk. 

"Sesak Pneumotoraks dirasa secara cepat makin berat, kalau Atelektasis bervariasi tergantung derajat ketertutupan saluran napas. Batuk sebagai kompensasi proses yang terjadi di dalam dada," tandas dia. 

Baca Juga : Hati-Hati, Jangan Lakukan Ini Saat Menolong Orang Pingsan atau Kecelakaan

 

Lantas mengapa masih jarang ada makalah ilmiah soal vape. Dokter Irandi menjelaskan kemungkinan penyebabnya ada dua hal. Yakni dokter sedang banyak kerjaan dan kasus yang ditangani masih belum cukup. 

"Bentuk publikasi ilmiah dampak rokok elektrik lebih cocok sebagai agregat atau studi epidemiologi, dibanding sebagai laporan keterangan," ucap dia. 

Kesimpulan dari uraian itu, dr. Irandi menegaskan jika rokok elektrik tidak lebih aman dibanding rokok konvensional. 

"Penyakit terkait rokok elektrik tidak perlu menunggu waktu lama untuk muncul. Silakan konsumsi, and I'll be seeing you in the emergency ward," tegasnya. 

dr. Irandi juga menambahkan pasien yang ditangani rata-rata pengguna vape mod. Vape mod sendiri adalah rokok elektrik yang sudah dimodifikasi. 

"Rerata user vape mod. Pengguna iQos, belum ketemu," tulis dr. Irandi. 


Topik

Kesehatan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri