JATIMTIMES - Jika berbicara buah durian, pasti yang terlintas dalam pikiran orang-orang adalah kulitnya yabg berduri dan baunya yang kuat.
Namun, berbeda dengan buah durian pada umumnya, durian asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini tidak memiliki duri alias gundul.
Baca Juga : 3 Tingkatan Sabar yang Harus Dimiliki Umat Muslim
Buah ini pertama ditemukan di Dusun Trenggaluh, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat pada 2007 lalu.
Buah durian ini disebut memiliki daya adaptasi yang cukup luas. Kini durian gundul itu mulai dikembangkan di NTB dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.
Dikutip dari @duniamedia, durian gundul ini hanya ada satu di alam semesta. Adapun penemu pertama durian gundul ini ialah M. Reza Tirtawinata yang juga kepala Divisi Penelitian dan Laboratorium PT Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor, saat itu.
Bentuk durian ini mirip dengan buah sukun tapi berwarna cokelat. Ukurannya juga hampir sama dengan sukun atau melon. Rata-rata satu buah durian gundul ini beratnya hampir 1 kilogram.
Keunggulan dan keunikan yang dimiliki buah ini terletak pada buahnya yang tidak memiliki duri seperti pada durian umumnya. Daging buah si gundul ini berwarna kuning muda dengan rasa manis. Daging buahnya tebal, hampir sama dengan dengan buah durian umumnya.
Tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai sedang dengan ketinggian 250-700 dpl.
Sementara, beralih ke Swedia, negara tersebut memiliki makanan khas yang bahan utamanya ikan difermentasi.
Ikan fermentasi itu dinamakan surstomming. Makanan kaleng itu memiliki aroma yang sangat busuk. Bahkan seorang chef, Malin Soderstrom, menyebut surstomming seperti bau telur busuk.
Surströmming sering dimakan di luar ruangan, saat pesta kebun atau di balkon. Sebab, baunya bisa bertahan hingga berhari-hari.
Adapun pembuatan surstomming ini yakni ikan haring yang ditangkap di Baltik diasinkan setelah ditangkap dan dibiarkan berfermentasi selama berbulan-bulan dalam tong sebelum dikalengkan. Dengan kata lain, surstomming ini adalah ikan busuk yang aman untuk dimakan.
Menurut Fredrick, yang bekerja di pabrik surströmming, makanan tersebut berasal dari ratusan tahun yang lalu dan dimakan saat tidak ada lagi yang bisa dimakan.
Bagaimana, dari dua makanan yang berbeda di atas, kamu tertarik untuk nyobain yang mana?
