JATIMTIMES - Jika Yogyakarta istimewa maka Solo adalah sederhana. Namun demikian, Yogya dan Solo sejatinya tidak bisa dipisahkan. Sejarah kedua daerah ini dipersatukan oleh kerajaan besar yang di masa lalu menyatukan tanah jawa yakni Kasultanan Mataram Islam.
Sama seperti saudara mudahnya Yogyakarta, Solo atau Surakarta menyimpan banyak peninggalan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Agung Surakarta. Kemegahan masjid ini bisa disaksikan hingga saat ini. Masjid yang berada di barat Alun-alun Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu kini menjadi salah satu destinasi wisata religi dan ikon wisata Kota Surakarta.
Baca Juga : Berikut Ini Daftar Fasilitas Pengecasan Kendaraan Listrik Sepanjang Rest Area Tol Trans Jawa dan Sumatra
Di tulisan kali ini, JATIMTIMES akan mengajak pembaca untuk sedikit mengulas sejarah dari Masjid Agung Surakarta. Beberapa sumber catatan sejarah menyebutkan, dahulu Masjid Agung Surakarta bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat dan dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Sejak awal berdirinya, masjid ini memiliki posisi penting dalam penyebaran Agama Islam di Solo.
Pembangunan Masjid Agung Surakarta tak bisa dilepaskan dari peran penting Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan budaya Jawa, raja tidak hanya menjadi pemangku kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tapi juga sebagai penyiar agama. Selain itu, pemilihan lokasi masjid yang dekat dengan keraton terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang juga dibangun di dekat keraton dan alun-alun keraton.
Sumber lain menyebutkan, Masjid Agung Surakarta dibangun sejak perpindahan pusat pemerintahan Mataram Islam dari Kartasura ke Desa Sala pada tahun 1745. Kebijakan pemindahan ibukota ini diambil oleh Pakubuwono II setelah Keraton Kartasura hancur lebur akibat peristiwa Geger Pecinan yang dipimpin Raden Mas Garendi cucu dari Amangkurat III.
Berdasarkan memori kolektif sebagian warga Kartasura dan Surakarta sebagaimana dikutip arkeolog Inajati Adrisijanti, bahan bangunan Masjid Agung Kartasura ikut dibawa pindah ke Surakarta dalam rangkaian momentum istimewa tersebut. Sesuai tradisi Islam, andil setiap orang dalam pembangunan masjid memang tak boleh diabaikan, bahkan meskipun masjid itu dipindahkan. Pada kenyataannya, kini Masjid Agung Karaton Kartasura tidak lagi dapat dijumpai. Lahan bekas Masjid Agung Kartasura di sebelah barat alun-alun tinggal dikenal penduduk sekitar melalui toponimi atau nama tempat yang tersisa dalam tradisi lisan warga setempat.
Tradisi lisan yang menyatakan bahwa Masjid Agung Kartasura dibawa ke Desa Sala ini memang masuk akal dan relevan.Alasan pertama, artefaknya (kayu) dianggap sakral oleh masyarakat dan meniru pola Masjid Agung Demak sebagai acuan sehingga tidak boleh dicampakkan begitu saja kendati ibu kota Mataram Islam sudah porak-poranda. Kedua, komponen masjid adalah syarat utama bagi siapa pun yang hendak mendirikan kerajaan dinasti Mataram Islam baru. Ketiga, masjid sebagai simbol konkret raja memegang politik pengislaman yang diperkuat dengan gelar Sayidin Panatagama Kalipatullah. Keempat, bangunan Masjid Agung Kartasura tidak permanen alias terbuat dari kayu, sehingga konstruksi kayu masjid bisa ikut dipindahkan ke Surakarta.
Beberapa sumber pun menyebutkan Masjid Agung Kasunanan Surakarta dibangun sejak Pakubuwono II memindahkan ibukota Mataram Islam ke Desa Sala. Di era Pakubuwono II, Masjid Agung Kasunanan Surakarta dibangun belum semegah yang kita lihat saat ini. Tampaknya, yang terpenting dalam benak raja pada waktu itu adalah mendirikan terlebih dulu rangka kayu masjid dari Kartasura.
Maklum saja, Pakubuwono II masih fokus beradaptasi dengan lingkungan Desa Sala yang dipenuhi rawa, penataan keraton yang baru serta mengatur manajemen pemerintahan selepas pemindahan ibu kota kerajaan. Berkaca pada kondisi itu, tidak mengherankan bila pembangunan Masjid Agung berjalan lamban. Diperkirakan, wujud bangunan masjid baru benar-benar tampak dan dianggap siap digunakan kerabat istana bersama warga sekitar pada masa kepemimpinan Pakubuwono III (1749-1788).
Dugaan bahwa masjid itu dibangun pada periode Raja Pakubuwono II diperkuat dengan penjelasan sejarawan Darsiti Soeratman dalam disertasinya berjudul Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1893-1939 yang menyebutkan Masjid Agung Surakarta didirikan oleh Pakubuwono II. Namun, lantaran tiga tahun kemudian ·selepas Paku Buwana II menempati keratonnya yang baru itu· beliau mangkat, pembangunan masjid akhirnya dilanjutkan oleh raja-raja yang memerintah berikutnya. Dilanjutkan oleh Pakubuwono III dan setelahnya yang banyak memberikan saham dalam pembangunan dan perbaikan masjid itu adalah Pakubuwono IV, Pakubuwono VII dan Pakubuwono X.
Bentuk Masjid Agung Surakarta dirancang sama dengan Masjid Demak. Bentuk joglo dan beratap tajuk susun tiga yang melambangkan kesempurnaan kaum muslim dalam menjalani kehidupannya, yakni Islam, iman, dan ikhsan (amal). Hal ini tak dapat dipisahkan dari persepsi umat Islam Jawa atas Masjid Demak yang digolongkan sebagai pusaka yang tak ternilai. Karenanya, wajar saja kalau Masjid Demak dijadikan pedoman membangun masjid oleh para penguasa dinasti Mataram Islam ·termasuk Raja Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono II.
Babad Tanah Jawi mendokumentasikan bagaimana Pakubuwono I melukiskan kesakralan Masjid Agung dan makam sewaktu dia mengenang pusaka-pusaka keraton: "Betapa sedihnya hati saya bahwa semua pusaka telah diambil oleh putra saya raja (Amangkurat III). Tetapi, saya tahu bahwa sekalipun semua barang pusaka yang lain pun diambil, namun kalau saja Masjid Demak dan Makam Kadilangu tetap ada, maka itu sudah cukup. Hanya dua inilah yang merupakan pusaka sejati Tanah Jawa".
Baca Juga : Ke Banjarmasin, 2 Wisata Religi Ini Miliki Interior Menarik dan Perlu Dikunjungi
Masjid Agung Surakarta dibangun diatas lahan 1 hektar. Bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter mampu menampung sekitar 2.000 jamaah. Sepanjang perjalanannya, masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi.
Bangunan yang pertama dibuat adalah bagian utama masjid. Penambahan pertama dilakukan oleh Raja Pakubuwono IV, yang memberikan kubah di bagian atas masjid. Tidak seperti kubah pada umumnya yang bergaya Timur Tengah, kubah pada masjid ini bergaya Jawa. Bentuknya menyerupai paku bumi.
Penambahan berikutnya dilakukan oleh Pakubuwono X. Raja terbesar Kasunanan Surakarta ini membangun sebuah menara di sekitar masjid serta sebuah jam matahari untuk menentukan waktu solat. Pakubuwono X juga menyempurnakan bentuk Masjid Agung Surakarta dengan pembangunan pintu bercorak gapuran bangunan Jawa beratap limasan diganti menjadi bercorak Timur Tengah. Gapuran terdiri dari tiga pintu, dengan pintu yang berada di tengah lebih luas dari kedua pintu yang mengapitnya. Bentuk gapuran gaya timur tengah ini bisa disaksikan hingga saat ini.
Raja terakhir yang ikut serta dalam pembangunan Masjid Agung Surakarta adalah Pakubuwono XIII. Raja yang saat ini tercatat sebagai penguasa Kraton Kasunanan ini membangun kolam yang mengitari bangunan utama masjid. Pembangunan kolam ini dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam masjid dalam keadaan bersih. Selain itu, Pakubuwono XIII juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan.
Selain penguasa kraton, Pemerintah Kota Surakarta juga ikut andil dalam pengembangan Masjid Agung Surakarta. Masih di area masjid, pemkot melakukan penambahan beberapa bangunan dengan fungsi berbeda-beda. Diantaranya perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.
Zaman telah berganti, berbeda dengan saudaranya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Karaton Kasunanan Surakarta kini tak lagi daerah istimewa. Namun Masjid Agung Surakarta yang penuh sejarah itu hingga kini tetap dan masih menjadi pusat tradisi Islam di Kota Solo.
Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama, seperti sekaten dan maulud nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari Raja Surakarta kepada masyarakat.
