JATIMTIMES - Jika membahas soal keraton, pasti banyak fokus yang tertuju pada Keraton Yogyakarta atau Keraton Solo. Nyatanya banyak yang tak mengetahui keberadaan Keraton di Surabaya.
Seperti melansir akun TikTok @lovesuroboyo_ yang diolah dari sumber Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Surabaya Tourism. Terdapat sebuah kampung tempat berdirinya Keraton Surabaya, sehingga dijuluki Kampung Keraton.
Baca Juga : Tim Negosiasi Sudah Bergerak Selamatkan Pilot Susi Air yang Ditawan OPM
Lokasi Kampung Keraton berada di tengah Jalan Kramat Gantung dan Pahlawan. Terdapat peninggalan sebuah gapura yang tingginya sekitar 4 meter diduga menjadi tempat pintu masuk keraton. Di atas gapura terdapat sebuah ruang dilengkapi pintu yang digunakan untuk Menara pantau.
Di samping Kampung Keraton terdapat Kampung Carikan atau tempat tinggalnya para carik. Tugas carik ini untuk menerima tamu Adipati.
Selain itu, keberadaan Alun-Alun Contong juga ada kaitan erat dengan Keraton Surabaya. Termasuk, ada juga Kampung Kawatan. Dulu di kampung ini banyak dijumpai tumbuhan pakis yang lembut.
Kemudian ada juga Kampung Bubutan. Diambil dari kata Butotan atau pintu gerbang. Sementara di sebelah barat ada Kampung Kranggan sebagai tempat para pembuat keris.
Kampung-kampung inilah yang kemudian menjadi latar belakang penamaan jalan-jalan di Surabaya.
Singkat Cerita tentang Keraton Surabaya
Mengutip goodnewsfromindonesia, sejarah Keraton Surabaya diawali dari pertempuran sengit dengan tentara Mongol yang kemudian dimenangkan oleh Raden Wijaya. Sejak tahun 1293, Hujung Galuh berganti nama menjadi Curabhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya. Sistem pemerintahannya pun menjadi kekeratonan atau kerajaan.
Tahun berlalu, Surabaya pun menjadi sebuah kawasan yang semakin tangguh. Terletak strategis dekat laut dengan pusat kota yang berada di tepi sungai, membuat daerah yang kala itu dipimpin oleh Pangeran Jayalengkara menjadi incaran Kerajaan Mataram.
Pada puncak kejayaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung, Surabaya menjadi satu-satunya daerah yang tidak dapat ditaklukkan, karena pertahanannya yang begitu kuat.
Serangkaian penyerbuan pun dilakukan pada tahun 1620 sampai dengan 1625, namun selalu gagal. Pasalnya, Keraton Surabaya dikelilingi oleh tembok setinggi empat meter sehingga musuh selalu kesulitan untuk menaklukannya.
Selalu gagal melakukan aksi serangan secara langsung, Sultan Agung pun tidak kehabisan taktik. Ia melemahkan Surabaya dengan menyerang sekutu dari ibu kota Jawa Timur tersebut.
Baca Juga : Dalami Peristiwa Keracunan Massal Mahasiswa UB, Polisi Libatkan Saksi Ahli
Sultan Agung kemudian mengirim pasukan untuk menyerang Sukadana, (Kalimantan Selatan), yang selalu memberikan bantuan pasukan ke kota Surabaya. Ia juga mengirim pasukan untuk menyerang Pulau Madura, yang ia anggap sebagai aliansi Surabaya.
Setelah dianggap lemah, pada tahun 1625, penyerbuan besar-besaran ke Surabaya mulai dilakukan. Walaupun Pangeran Pekik, anak dari Pangeran Jayalengkara, telah berhasil mempertahankan kota dan memukul mundur pasukan Mataram hingga Wirosobo, namun Mataram tetap tidak kehabisan akal.
Pasukan Mataram lantas membendung Kali Mas, anak Kali Brantas yang mengaliri kota dan merupakan sumber utama kehidupan masyarakat Surabaya. Caranya dengan menenggelamkan ratusan pohon kelapa yang ditopang oleh bambu, kemudian setiap pohon kelapa diberinya bangkai binatang.
Akibatnya, Surabaya menjadi kekurangan air bersih dan krisis pangan. Hanya sedikit air yang mengalir, pun sudah tercemar dengan bangkai. Tak sedikit penduduk yang mati kelaparan dan terkena wabah penyakit.
Tidak tega melihat penderitaan rakyatnya, Pangeran Jayalengkara pun pergi menemui Tumenggung Mangunoneng, Panglima Mataram, untuk meminta bendungan tersebut dibongkar. Pada peristiwa inilah Pangeran Jayalengkara memutuskan untuk menyerah. Sejak saat itu pula Surabaya menjadi milik Mataram.
Bukti Peninggalan Keraton Surabaya
Setelah Mataram berhasil menguasai, sisa kejayaan Keraton Surabaya semakin tidak tampak saat Belanda mulai masuk. Surabaya jatuh ke tangan penjajah Belanda pada tahun 1755. Pusat pemerintahan yang semula merupakan keraton pun diganti. Keraton Surabaya pun dibabat habis oleh Belanda.
Meskipun tidak ada bukti sejarah yang berbentuk sebuah monumen, berbagai literatur sejarawan Surabaya dan Belanda memperkirakan jika Keraton Surabaya dahulunya meliputi kawasan Kebonrojo sebagai Taman Keraton, Tugu Pahlawan sebagai Alun-alun Utara dan Alun-alun Contong (Baliwerti – Bubutan) yang merupakan bagian dari Alun-alun Selatan.
