Atraksi tari tradisional yang juga dapat dinikmati pengunjung festival Kampung Genitri Tempo Doeloe di Jalan Pisang Candi Barat, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Atraksi tari tradisional yang juga dapat dinikmati pengunjung festival Kampung Genitri Tempo Doeloe di Jalan Pisang Candi Barat, Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Turut menyemarakkan HUT Ke-104 Kota Malang, warga RW 04 Kelurahan Pisang Candi kembali menggelar festival Kampung Genitri Tempo Doeloe.

Dibuka sejak Senin (23/4/2018) hingga Sabtu (28/4/2018) besok, wisatawan dapat belajar soal sejarah tempat-tempat di sekitar lokasi festival. Tak hanya itu. Beragam jajanan lawas bisa dinikmati pengunjung.

Ada 150 stan yang berdiri di sepanjang Jalan Pisang Candi Barat yang siap memanjakan lidah. Sebagian besar menjual jajanan tradisional, seperti gethuk, cenil, putu, hingga gulali. Para penjual gulali atau permen tradisional itu dengan piawai menunjukkan keahlian membuat beragam bentuk hiasan dari gula leleh yang diberi pewarna. Harganya pun ramah di kantong, mulai dari Rp 2 ribu hingga belasan ribu rupiah.

Selain jalan-jalan menikmati suasana pasar pedesaan, berbagai atraksi seni dan budaya juga digelar setiap hari. Mulai dari tari-tarian, musik patrol, gamelan, bantengan, dan lain-lain. Pengunjung juga bisa belajar dan bermain.

Ketua pelaksana Kampung Genitri Tempoe Doeloe Teo Sudarto mengungkapkan, tahun ini penyelenggaraan Kampung Genitri Tempo Doeloe sudah memasuki edisi ketiga. "Event ini menjadi media untuk menampilkan potensi seni dan budaya dari warga. Misalnya ada kampung akustik. Juga musik kontemporer gabungan sanggar seni se-Malang Raya," terangnya.

Festival tersebut, lanjut dia, merupakan hasil gagasan tokoh masyarakat setempat untuk mengingatkan kembali sejarah asal-usul Kampung Genitri. Sebab, sebelum diubah menjadi Jalan Pisang Candi Barat, kampung yang berada di belakang kampus Universitas Merdeka Malang itu dikenal dengan nama Genitri. Menurut penuturan warga setempat, nama Genitri merujuk pada pohon genitri atau Elaeocarpus Ganitrus yang dulunya banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Saat ini pohon tersebut juga masih dapat dijumpai meski jumlahnya tinggal sedikit. "Saat ini banyak yang sudah tidak tahu Kampung Genitri. Sehingga diharapkan festival ini bisa menjadi upaya agar generasi muda tidak lupa. Sekaligus ada harapan agar bisa melestarikan kesenian warga," tambahnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Malang Achmad Supriadi menambahkan bahwa event tersebut bakal masuk menjadi salah satu agenda wisata Kota Malang. Achmad menyebut, kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara juga diharapkan bisa memacu aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

"Kami harap warga bisa memasukkan kegiatan ini dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Sehingga kami bisa menggelar workshop untuk meningkatkan kebudayaan yang ada," tuturnya. (*)