Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Tradisi Musik Patrol, Dijadikan Ajang Silaturahmi hingga Pencarian Teman oleh Pemuda Banyubunih 

Penulis : Imam Faikli - Editor : A Yahya

17 - Apr - 2022, 02:57

Placeholder
Tampak, sejumlah pemuda Desa Banyubunih saat melakukan pemukulan musik patrol di halaman kantor Desa Banyubunih (Foto: Badrut Tamam for JatimTIMES) 

JATIMTIMES - Budaya membangunkan orang sahur dengan cara berpatroli melewati gang-gang di kampung sudah ada sejak dahulu. Biasanya, kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak remaja dengan cara berkeliling. 

Kegiatan membangunkan orang sahur itu, biasanya dilakukan antara pukul 00.00-03.30 WIB. Pada umumnya kebudayaan bangun sahur dengan menggunakan kentongan dapat dan banyak ditemui di mayoritas daerah di pulau Jawa. Bahkan, menabuh kentongan di saat jam makan sahur merupakan sebuah ritual yang selalu dipraktekan oleh masyarakat pulau Jawa. 

Baca Juga : Jatim Rajai Turnamen Pagar Nusa 2022, Gubernur Khofifah Kucurkan Bonus

Di Pulau Madura, tepatnya di Desa Banyubunih, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, tradisi membangunkan orang sahur cenderung lebih modern. Sebab tradisi membangunkan orang sahur yang semula hanya memukul pentungan itu, saat ini lebih modern dengan pemukulan musik patrol layaknya musik orkes. 

Bahkan, tradisi membangunkan orang sahur ini kalau di Desa Banyubunih, tidak hanya dijadikan untuk membangunkan orang sahur semata, disana juga dijadikan sebagai ajang silaturahmi antar pemuda lintas desa, bahkan lintas kecamatan hingga kabupaten. 

"Kalau dulu, tradisi membangunkan warga untuk sahur itu dilakukan dengan alat seadanya saja, cukup dengan pentungan dan satu buat drum sudah cukup, sekarang jauh lebih modern dan lengkap musiknya," jelas salah satu pemuda Banyubunih, Badrut Tamam, kepada BangkalanTIMES, Sabtu (16/4/2022). 

Badrut Tamam yang dikenal dengan sapaan Reza ini mengaku, bahwa tradisi pemukulan musik patrol ini dilakukan hanya saat bulan puasa tiba, selain untuk membangunkan warga untuk sahur, pihaknya mengaku bahwa tradisi ini juga dilakukan sebagai ajang silaturahmi untuk memperbanyak teman antar desa, kecamatan hingga kabupaten. 

"Silaturahmi itu dikonsep dengan pemukulan musik patrol dengan cara mengelilingi. Musik dengan layaknya musik orkes masa kini itu dilantunkan dengan diiringi lagu-lagu dangdut lawas hingga masa kini, tentunya ini menjadi kebiasaan bahkan sudah menjadi budaya saat bulan puasa tiba," ungkap Reza. 

Baca Juga : Camat Blimbing Beri Penjelasan soal Pria Tunawicara Asal Kota Malang Ditemukan di Bekasi

Selain itu, dia menjelaskan bahwa munculnya musik patrol dengan model modern di Banyubunih ini kisaran sejak tahun 2014-2015. "Alhamdulillah, sampai saat ini tradisi musik patrol di Banyubunih masih tetap ada," kata dia. 

Meski, saat ini sudah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bahwa pemukulan musik patrol tidak lagi terpusat di simpang tiga ujung utara Desa Banyubunih. "Saat ini pemukulan musik patrol dilakukan dengan cara berkelilingi sambil mengendari mobil truk," kata dia. 

"Semoga pemuda Banyubunih terus kompak, sehingga tradisi pemukulan musik patrol ini terus konsisten dilakukan setiap meskipun hanya di bulan puasa saja," imbunya, seraya menutup pembicaraan.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Imam Faikli

Editor

A Yahya

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya