Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Bukan Orang Barat, Ternyata Inilah Penemu Benua Kutub Selatan

Penulis : Desi Kris - Editor : Yunan Helmy

17 - Jun - 2021, 17:56

Placeholder
Ilustrasi (Foto: soundofhope.org)

INDONESIATIMES - Sebuah studi terbaru menyatakan manusia pertama yang menemukan Antartika bukanlah pelaut dari Barat, melainkan orang Polinesia (negara-negara di kawasan Pasifik Tengah dan Selatan). Benua terdingin atau yang disebut juga Benua Kutub Selatan itu  ditemukan orang Polinesia sekitar 1.300 tahun yang lalu.

Para peneliti di Selandia Baru menyelidiki sejarah lisan tentang seorang penjelajah Polinesia yang memata-matai benua pegunungan es yang tak tersentuh matahari. Untuk menemukan buktinya, mereka lantas menyaring "gray literature" atau laporan sejarah yang tidak diterbitkan dalam jurnal peer-review serta mengintegrasikannya dengan sejarah lisan dan karya seni pribumi.

Baca Juga : Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

Dilansir melalui theguardian.com, menurut sebagian besar laporan bersejarah, penyelaman mendalam ke dalam sejarah pribumi ini lantas mengungkapkan bahwa orang Polinesia-lah yang kemungkinan menemukan benua paling selatan itu lebih dari satu  milenium sebelum orang Barat pertama melihatnya pada tahun 1820.

"Koneksi Māori (penduduk asli asal Polinesia yang tinggal di Selandia Baru) ke Antartika dan perairannya telah menjadi bagian dari kisah Antartika sejak sekitar abad ketujuh," tulis para peneliti dalam penelitian itu. 

Setelah orang Eropa pertama mencapai Antartika pada abad ke-19, segelintir orang Maori bergabung dalam pelayaran mereka sebagai awak kapal dan bahkan profesional medis. Kemudian, orang-orang Yunani kuno berteori bahwa Antartika ada karena keberadaan benua yang lebih rendah diperlukan untuk menyeimbangkan Kutub Utara di belahan bumi utara.

Orang Yunani kemudian menamakan benua hipotetis ini sebagai "Antarktikos," atau tanah yang "berlawanan dengan Arktos," konstelasi berbentuk beruang (Ursa Major dan Ursa Minor) di utara. Penjelajah laut, terutama pada zaman eksplorasi selama tahun 1400-an hingga 1600-an, mencoba menemukan Antartika, termasuk Kapten James Cook pada 1700-an. Namun tidak ada yang berhasil.

Sebagian besar buku sejarah menyebutkan bahwa Antartika kali pertama terlihat pada tahun 1820, meskipun tidak jelas siapa yang pertama melihatnya. Encyclopedia Britannica menyebutkan, bisa saja orang yang pertama melihat Antariksa yakni seorang perwira di Angkatan Laut Kekaisaran Rusia, seorang perwira di Angkatan Laut Kerajaan Inggris, atau seorang kapten asal Amerika.

Namun menurut studi terbaru yang diterbitkan online pada 6 Juni melalui Journal of the Royal Society of New Zealand, orang-orang Barat itu justru adalah pendatang baru.

"Menurut sejarah lisan berusia 1.300 tahun sebelumnya dari kelompok Māori yang berbeda, penjelajah Polinesia Hui Te Rangiora (juga dikenal sebagai i Te Rangiora) dan krunya berlayar ke perairan Antartika di atas kapal Te Ivi o Atea," tulis peneliti utama studi Priscilla Wehi, ahli biologi konservasi di University of Otago di Selandia Baru.

Baca Juga : Senyum, Cara Terbaik Menutup Luka

"Dalam beberapa narasi, Hui Te Rangiora dan krunya terus ke selatan, jauh ke selatan. Dengan melakukan itu, mereka kemungkinan adalah manusia pertama yang melihat perairan Antartika dan mungkin benua," lanjutnya. 

Para peneliti mencatat, jika tanggal awal 600-an ini benar, penjelajah pribumi menemukan Antartika bahkan sebelum Suku Maori tiba di Selandia Baru antara tahun 1200 dan 1300. Pada saat itu, nenek moyang Suku Māori tinggal di Polinesia.

Pencapaian navigasi masyarakat adat di Pasifik "diakui secara luas". Misalnya etnografer Selandia Baru Elsdon Best mendokumentasikan Suku Māori dari akhir 1800-an hingga awal 1900-an dan menemukan bahwa Māori melintasi Pasifik semudah penjelajah Barat menyeberangi danau.

Tak cuma itu. Tim  peneliti juga menemukan bukti pendukung berdasarkan laporan tahun 1899 oleh etnolog S. Percy Smith dengan melihat nama Māori "Te tai-uka-a-pia," di mana "tai" mengacu pada "laut", "uka" berarti "es" dan "a-pia" berarti "seperti goresan," yang terlihat seperti salju ketika dikikis.

Dalam laporannya, Smith menulis bagaimana Suku Maori ingin melihat pemandangan luar biasa yang menurut laporan para pelancong di atas kapal Te Ivi o Atea telah dilihat. Penggambarannya antara lain lautan beku, batu-batu yang tumbuh dari laut, hewan laut yang menyelam ke kedalaman, dan hal lain seperti batu yang puncaknya menembus langit, tanpa vegetasi di atasnya.


Topik

Serba Serbi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Desi Kris

Editor

Yunan Helmy