Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Wisata

Mitos Ngeri Soal Cuban Rondo, Begini Kata Sejarawan Malang

Penulis : Hezza Sukmasita - Editor : Lazuardi Firdaus

27 - Oct - 2017, 17:46

Placeholder
Foto : Google Images

MALANGTIMES- Kawasan wisata Cuban Rondo menawarkan kemolekan air terjun di ketinggian 48 meter di Pujon, Malang. Namun di balik keindahannya, Cuban Rondo menyimpan mitos yang cukup ngeri bagi Pasangan muda-mudi yang berkunjung ke sana.

Konon berkunjung ke Cuban Rondo dapat membuat hubungan cinta pasangan muda-mudi kandas di tengah jalan. Hal itu tidak lepas dari kisah seorang Putri bernama Dewi Anjarwati yang melakukan pertapaan di batu besar di bawah air terjun lantaran rasa duka yang begitu mendalam pasca menjanda ditinggal mati suami tercintanya bernama Raden Baron Kusumo.

Baca Juga : Tak Lagi Sakral, Pemandian Wendit Kian Dieksploitasi, Masyarakat Teriak

Menurut cerita yang beredar Raden Baron Kusumo meninggal usai bertarung melawan Joko Lelono yang mencoba merebut istrinya Dewi Anjarwati. Pertarungan sengit terjadi di sekitar air terjun Cuban Rondo hingga menewaskan sang suami.

Tak jarang akibat mitos ini banyak muda-mudi takut untuk berwisata ke tempat ini. Melihat hal tesebut seorang ahli sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menganalisa mitos yang beredar di masyarakat.

Dwi mengatakan, keyakinan-keyakinan yang muncul tersebut tidak lepas dari penamaan kawasan tersebut. Dwi menyebutnya sebagai mitos toponimi. Yaitu mitos yang berkaitan dengan nama suatu wilayah.

“Lantaran nama kemudian muncul cerita-cerita dan kepercayaan-kepercayaan yang merebak di masyarakat seperti ini. Nama rondo kan berarti status seorang perempuan karena perpisahan. Ini keyakinan-keyakinan yang dikaitkan dengan toponiminya,” jelas Dwi.

Jika dilihat dari letak Cuban Rondo yang berada di lereng utara Gunung Kawi sudah semestinya kawasan ini menjadi kawasan yang disucikan. Melihat, Gunung Kawi merupakan salah satu dari tujuh gunung di Pulau Jawa yang disucikan. Maka tidak heran jika di tempat ini dulunya sering dijadikan sebagai tempat bertapa.

Dwi menjelaskan pada banyak legenda, seringkali digambarkan seorang perempuan dalam status janda yang tinggal terasing di lembah atau di gunung. Cerita-cerita tersebut tidak jarang dihubungkan dengan sumber air. Dwi melihat perempuan single ini digambarkan di tempat terpencil karena mereka pantang untuk menikah lagi seperti di masa Hindu Budha. Sehingga mereka memutuskan untuk menjadi tapasi atau pertapa perempuan.

Baca Juga : Mantapkan TPU Sukun Menuju Kawasan Heritage, Data Makam Tokoh dan Sejarah Makam Terus Digali

“Mereka mengasingkan diri dari dunia yang ramai di lembah hutan. Di sana juga sudah ada kumpulan-kumpulan pertapa perempuan seperti yang diceritakan pada beberapa relief,” imbuh Dwi.

Bagi Dwi, adanya sebuah mitos bukan untuk ditakuti. Akan menjadi hak setiap masyarakat untuk mempercayai mitos maupun tidak.

“Perlakuan kepada mitos itu hanya dua, mau dipercayai atau tidak kebenarannya itu tidak masalah,” tandasnya.


Topik

Wisata wisata-Coban-Rondo wisata-air-terjun air-terjun-malang wisata-malang mitos-coban-rondo sejarah-coban-rondo Sejarawan-Malang Dwi-Cahyono



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hezza Sukmasita

Editor

Lazuardi Firdaus