MALANGTIMES - Tingginya angka penyakit diare di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, disebabkan kebiasaan warga buang air besar (BAB) di sungai. Kebiasaan tidak sehat ini membuat dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) tergerak dan turun tangan.
Di Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, enam orang dokter muda UB itu mengajak masyarakat setempat menyadari pentingnya gaya hidup sehat. "Mengubah mindset yang paling penting karena meski sudah ada kamar mandi di rumah atau di tempat umum, bila pola pikir mereka masih saja BAB di sungai, ya sama saja," ujar Alfian Dwi Sukma, ketua tim dokter muda UB, kepada MALANGTIMES, Selasa (10/10/2017).
Baca Juga : Ketua Satgas Covid-19 Tulungagung : Satu Dokter Positif, Tapi Kondisinya Membaik
Warga setempat masih melakukan berbagai aktivitas di sungai yang mereka anggap tempat 'suci'. Karena kebiasaan ini, angka diare di Talangsuko paling tinggi di Kabupaten Malang, yakni mencapai 14 persen.
"Karena airnya mengalir, jadi mereka anggap bersih. Lalu mereka biasa mandi, BAB, dan cuci baju di sungai. Dampaknya salah satunya penyakit diare yang akhirnya menjangkiti warga," imbuh Alfian.
Mengubah pola pikir warga Talangsuko tidak mudah. Dokter muda itu lantas mengajak kelima rekannya untuk mambaur dengan warga. Mereka adalah Hemas Abidah, Meilia Zainudin, Dessy Aprilia, Fatma Rahmalia, dan Novita Qurrota.
"Tanpa embel-embel dokter, saya ajak mereka. Kami nggak lagi pakai jas putih dokter. Intinya kami membaur ke warga dan menggerakkan mereka untuk menggunakan jamban," kata dokter muda kelahiran 1994 itu.
Alfian mengungkapkan, warga Kecamatan Turen memiliki sarana dan fasilitas kamar mandi umum paling banyak di Kabupaten Malang. Sayang, fasilitas ini belum dimanfaatkan warga dengan baik.
"Penduduk desa ini hampir seluruhnya memiliki jamban. Namun keterbiasaan untuk menggunakannya masih rendah. Oleh sebab itu, kami terus melibatkan elemen masyarakat untuk ikut andil dalam mengubah mindset gaya hidup sehat," papar dia.
Baca Juga : 6 Gunung Erupsi Bersamaan, Mulai di Tanah Jawa, Maluku, hingga Sumatera
Berbagai elemen masyarakat setempat mereka sentuh. Upaya ini mendapat dukungan dari kepala desa Talangsuko. Demi mengubah pola pikir warga itulah, mereka sepakat membentuk kader.
"Maksudnya di sini supaya tidak berhenti di kami saja. Kami lakukan langkah-langkah konkret. Ada kader dan upaya untuk membangun kembali jamban yang rusak," imbuhnya.
Perbaikan dan pembangunan jamban umum itu masih membutuhkan upaya berkelanjutan. "Banyak kendala, termasuk dana dan lain-lain. Tapi kami akan terus pantau," tandasnya. (*)
