Indonesia telah diakui dunia sebagai salah satu negara penghasil tanaman tembakau terbaik. Kualitas tembakau lokal sangat diperhitungkan di pasar internasional. Hasil pertanian yang sering disebut sebagai "emas hijau (green gold)" ini banyak ditemui di berbagai wilayah di tanah air dengan ciri atau varietas unggulannya masing-masing.
Begitu pun Kabupaten Blitar. Sebagai daerah dengan tanah yang subur, di masa lampau Kabupaten Blitar pernah menjadi wilayah penghasil tembakau terbaik dengan menelurkan varietas bernama tembakau Selopuro. Tembakau ini pernah mendunia pada masa dasawarsa 1960-1970-an. Namun dalam perkembangannya, tembakau Selopuro tenggelam dan merosot popularitasnya karena kalah bersaing dengan varietas lain.
Sisa-sisa kejayaan tembakau Selopuro masih dapat dijumpai saat ini. Di daerah Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, masih banyak petani tembakau dan penjual tembakau Selopuro. Meski rasanya tidak sama lagi karena bercampur dengan varietas tembakau lain, semangat mereka tidak surut dengan dalih melestarikan warisan leluhur.
Merosotnya pamor tembakau Selopuro sejalan seiring dengan tiarapnya pabrik rokok di Kabupaten Blitar. Di masa kejayaan, di Selopuro banyak terdapat pabrik rokok yang menyerap banyak tenaga kerja. Kini seiring perkembangan jaman, hanya ada satu pabrik rokok di daerah ini yakni pabrik rokok Kusuma Laksa Perkasa. Pabrik rokok berlokasi di Dusun Gading RT 01 RW 06, Desa Selopuro ini memproduksi rokok kretek dengan merek Manggala.
Meski masa-masa indah itu telah berlalu, kenangan akan kejayaan tembakau Selopuro masih membekas di ingatan warga setempat. Kenangan tentang tembakau Selopuro seperti diungkapkan Jimat (50), warga setempat yang juga mandor pabrik rokok Kusuma Laksa Perkasa. Lelaki paruh baya ini masih ingat betul tembakau Selopuro menembus pasar dunia di masa silam.
“Dulu pernah jaya (tembakau Selopuro). Di masa jaya dulu disini (Selopuro) banyak pabrik rokok. Sekarang pabrik rokok tinggal satu, ya pabrik saya ini,” paparnya kepada BLITARTIMES, Jumat (29/11/2019).
Menurut Jimat, ambruknya tembakau Selopuro disebabkan bercampurnya varietas tembakau Selopuro dengan varietas tembakau lain. Selain itu banyak tembakau Selopuro “palsu” yang menyebabkan harga tembakau khas Blitar ini anjlok di pasaran.
“Ambleknya salah satunya, orang sini beli tembakau di Jombang. Diproses disini kemudian diakui tembakau Selopuro, tembakau Somolo. Padahal tembakau Somolo itu hanya ada di sini, tidak ada di daerah lain, ciri khas tembakau Selopuro. Akhirnya tembakau Selopuro kehilangan keasliannya,” jelas dia.
Dikatakannya, di masa kejayaan dulu, mayoritas warga Selopuro bekerja di sektor tembakau, baik petani maupun pengrajang. Kondisi ini kini berkebalikan, saat ini mayoritas warga Selopuro bekerja di sektor lain di luar tembakau.
”Termasuk ibu saya, dulu bekerja sebagai pengrajang tembakau,” ujarnya bercerita penuh kenangan dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Himawan Prabowo, menegaskan salah satu program prioritas pemerintah daerah di sektor pertanian saat ini ialah memurnikan kembali varietas tembakau Selopuro. Tembakau Selopuro sendiri saat ini dalam pemurnian dan varietasnya rencana akan di-launching tahun 2021 mendatang.
Sub sistem agar tembakau lokal khas Blitar kembali menemukan jati dirinya juga dirintis Dinas Pertanian dengan membuka akses pasar untuk hasil produksi tembakau lokal.
“Tahun depan kami akan mempertemukan petani dengan pelaku pasar. Ada dari PT Djarum, Sampoerna dan lainnya. Karena apa? Kami melihat di daerah lain, tembakau lokal ini sangat laku karena tembakau lokal itu punya cita rasa dan aroma yang khas. Harapan kami setelah pertemuan dengan pelaku pasar, akan ada sinkronikasi antara petani dengan pelaku pasar. Apa yang dilakukan petani bisa sesuai dengan permintaan pasar dan hasilnya bisa langsung ditangkap oleh pasar. Untuk varietasnya, tembakau khas Blitar yakni tembakau Selopuro akan kita launching tahun 2021,” papar Himawan.
Menanggapi program Pemkab Blitar memurnikan varietas Tembakau, Jimat sebagai salah satu pelaku usaha memberikan dukungan penuh. “Sangat bagus ini, karena sekarang ini tembakau Selopuro sudah rusak, artinya sudah bukan aslinya. Padahal tembakau Selopuro ya hanya tembakau varietas yang ada disini, salah satunya tembakau Somolo itu,” pungkasnya.(kmf)
