Muhammad Yahya, Ahli Strategi Perang Kemerdekaan dan Mobilisator Tangguh dari Malang

Aug 14, 2017 10:04
Muhammad Yahya, pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dari Malang.
Muhammad Yahya, pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dari Malang.

MALANGTIMES - Sudah 72 tahun Indonesia merdeka. Tahun demi tahun berlalu dan menjadikan hari kemerdekaan sebagai sejarah yang tak terlupakan. Tetapi, tirai dan hiruk pikuk kemerdekaan seakan menghalangi beberapa nama yang seakan dilupakan oleh zaman.  

Ya, tidak semua pejuang kemerdekaan dikenal luas oleh masyarakat secara umum. Untuk itu, di bulan kemerdekaan ini MalangTIMES mencoba menelusuri beberapa nama yang punya jasa besar bagi Indonesia tapi tidak semua masyarakat, khususnya di Malang Raya, mengenal nama tersebut.

Baca Juga : KH Masjkur Termasuk Pendiri TNI, Khofifah: Perjuangannya Harus Diteladani

Bagi kaum pesantren, mungkin nama ini tidak asing lagi. Ya, KH Muhammad Yahya yang namanya sudah terkenal sebagai salah seorang mursyid thariqoh. Tapi bagi kebanyakan masyarakat umum, mungkin masih banyak yang belum tahu siapa KH Muhammad Yahya.

Dilahirkan tahun 1900 di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Kiai Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas pesantren. Singkat cerita, tahun 1930, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Ismail dan dinikahkan dengan putri angkatnya, Siti Khodijah. Namun sayangnya, baru usia lima tahun pernikahannya, Kiai Ismail wafat. Otomatis, Kiai Yahya-lah yang menggantikan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Gadingkasri Malang.

“Saat memimpin Pesantren Gading ini, Kiai Yahya terpanggil untuk mewakafkan hidupnya untuk membela kehormatan bangsa,” ujar KH Abdurrahman,  putra ke-5 Kiai Yahya.

Menurut dia, Kiai Yahya terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Kemanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun. Kiai Yahya juga ikut merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Malang dan sekitarnya.

“Bahkan saat Rais Akbar NU pada saat itu, KH Hasyim Asy’ari, menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya termasuk juga salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan,” terangnya.

Keikutsertaannya dalam pertempuran tersebut atas permintaan langsung dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Baca Juga : Mengenal Jenderal Mayor Imam Soedjai, Tokoh Perjuangan Malang-Lumajang yang Belum Banyak Dikenal

Sementara itu, cucu Kiai Yahya, Gus Muhammad Minan Salafi, mengungkapkan bahwa semasa perang kemerdekaan, Pondok Pesantren Gading sering dijadikan sebagai pusat gerakan dalam menyusun strategi. Karena letaknya yang strategis, hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. “Di Pondok Gading lah, Mbah (Kiai Yahya) itu menggerakkan masyarakat dan santri untuk ikut berperang,” katanya.

Demikian pula ketika meletusnya pemberontakan DII/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan akan merembet ke daerah lain, maka Kiai Wahid Hasyim yang saat itu sebagai wakil dari pemerintah memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di tempat inilah digelar rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten Yusuf dan Kiai Yahya menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

“Kiai Yahya di kalangan dikenal karena sikap pemberaninya. Beliau punya empat tugas utama, yakni tugas motivator, tugas intelijen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat secara umum. Tidak heran jika beliau dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh,” pungkasnya. (*)

Topik
Muhammad YahyaAhli Strategi PerangHUT 72 Kemerdekaan RIMalang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru