Peperangan di desa Kutorenon Sukodono Lumajang di era pemerintahan Majapahit banyak menjadi inspirasi untuk sendratari yang dibawakan oleh peserta karnaval SD dan SMP yang berlangsung pada hari ini, Jumat (23/8).
Salah satunya dibawakan oleh SD Citrodiwangsan 2 Lumajang dan beberapa sekolah lainnya. Dalam sendratari ini diperagakan perang yang terjadi antara pasukan kerajaan Majapahit dengan pasukan Patih Nambi yang ada di Lumajang.
Dalam sejarah perang tersebut diuraikan, Patih Nambi sedang berada di Lumajang untuk menjenguk Arya Wiraraja yang sedang sakit.
Karena Arya Wiraraja tak kunjung sembuh, Raja Majapahit keKabar itu kemudian sampai kepada Raja Majapahit Prabu Kertanegara mengirim utusan untuk menjenguk Arya Wiraraja.
Namun utusan Raja Kertanegara itu berhati busuk. Bukannya melaporkan keadaan Arya Wiraraja yang sakit, namun justru memfitnah Patih Nambi yang disebut sedang menyiapkan pasukan untuk menyerang Majapahit.
Prabu Kertanegara pun termakan hasutan itu, dan mengirim pasukan ke Lumajang dan perang pun tak dapat dihindarkan. Dan perang itu pun dimenangkan oleh Majapahit, sementara Patih Nambi tewas dalam peperangan.
Sisa-sisa peperangan itu sampai kini masih ada. Sebuah benteng yang hancur masih abadi, dan dinyatakan sebagai situs sejarah yang dilindungi. Namanya Situs Biting, di desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Lumajang.
Sementara Pendopo Bupati Lumajang mengabadikan nama Arya Wiraraja sebagai pendopo Kabupaten Lumajang.
Sampai berita ini kami turunkan acara Karnaval Agustusan masih berlangsung.
