Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa Mengenal Lebih Dekat 5 Desa Wisata Prioritas Kabupaten Malang (4)

Wilayah Ngantang Merupakan Medan Perang Para Pejuang Melawan Tirani dan Kompeni

Penulis : Nana - Editor : Redaksi

20 - Jun - 2017, 23:13

Placeholder
Gapura astana Karaeng Galesong, seorang pejuang dari Kerajaan Gowa yang bersama Trunojoyo melawan Mataram dan Kompeni di Ngantang Kabupaten Malang. (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Trunojoyo atau Panembahan Maduretno (1649 - 1680)  seorang bangsawan Madura, pernah menjadikan wilayah Ngantang sebagai tempat persembunyian sekaligus perlawanannya  terhadap pemerintahan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram yang disponsori penuh oleh VOC Belanda.

Perlawanan Trunojoyo terhadap tirani Mataram di tahun 1677 bisa dikatakan berhasil saat pasukannya mampu membuat Amangkurat I melarikan diri dan meninggal dalam pelarian. 

Baca Juga : Quraish Shihab Tegaskan Wabah Covid-19 Bukan Azab Allah

Adipati Anom dinobatkan menjadi Amangkurat II, dan Mataram secara resmi menandatangani persekutuan dengan VOC untuk melawan Trunojoyo.

Persekutuan ini dikenal dengan nama Perjanjian Jepara (September 1677) yang isinya Sultan Amangkurat II Raja Mataram harus menyerahkan pesisir Utara Jawa jika VOC membantu memenangkan terhadap pemberontakan Trunojoyo.

"Perjanjian Jepara inilah yang akhirnya membuat markas  Trujoyono di Surabaya diserang Belanda dan direbutnya," kata Agus Wibowo, peminat dan penulis sejarah kejaraan nusantara, Selasa (20/6/2017).

Trunojoyo melarikan diri ke Kediri, Batu dan Ngantang serta terus melawan Mataram dan Kompeni dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Cornelis Speelman.

Sampai akhirnya tanggal 27 Desember 1679  di lereng Gunung Kelud, Trunojoyo menyerah kepada Kapitan Jonker. 

"1680 Trunojoyo dihukum mati di Payak, Bantul oleh Amangkurat II setelah ditangkap dan diserahkan oleh Kompeni,"ujar Agus yang menyampaikan Ngantang dipilihnya menjadi tempat persembunyian dan perlawanan Trunojoyo karena lokasinya yang dikurung gunung.

Selain Trunojoyo, Ngantang juga menjadi daerah perjuangan bagi para pengikut Untung Surapati, yakni Sunan Mas. Sunan Mas beserta pasukannya menyerang serdadu kompeni dan prajurit Mataram di Kota Kediri. 

Pasukan Sunan Mas yang telah mendapat bantuan berangkat dari Pasuruan melalui Ngantang. Ternyata di sana mereka berpapasan dengan serdadu kompeni dan pasukan Mataram. Pertempuran hebat tak terelakkan.

Baca Juga : Kabupaten Malang Belum Merasa Perlu Terapkan PSBB

Sayangnya, pasukan Sunan Mas dari Pasuruan ini kalah akibat serdadu kompeni menghujani mereka dengan meriam.

Jejak perlawanan pejuang lainnya di Ngadas adalah Karaeng Galesong dari kerajaan Gowa yang direbut Belanda tahun 1669.

Menurut Agus, Karaeng Galesong bersama Trunojoyo lah yang memimpin perlawanan kepada Belanda dan Mataram. 

"Galesong yang memimpin armada laut dan dari catatan sejarah pasukannya yang memporak porandakan pasukan Mataram,"ujarnya. 

 Karaeng Galesong menetap dan dimakamkan di desa Hantang (sekarang Ngantang), beliau oleh warga setempat dipanggil Mbah Raja/Rojo. 


Topik

Peristiwa Gapura-astana-Karaeng-Galesong Trunojoyo VOC-Belanda



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nana

Editor

Redaksi