Dewi Sekartaji
Dewi Sekartaji

Topeng Malangan atau wayang topeng merupakan sebuah tradisi dan kebudayaan asli Malang. Sejarah Topeng malangan ini sendiri berkaitan erat dengan Kerajaan Kanjuruhan.

Di dalam sejarah Kerajaan Kanjuruhan, raja yang paling dikenal adalah Raja Gajayana karena pada masa pemerintahannyalah kerajaan ini mengalami masa keemasan. 

Baca Juga : Trending Twitter! Buku Karya Tere Liye Jadi Barang Bukti Aksi Vandalisme Anarko

Budaya topeng ini muncul pada masa pemerintahan Raja Gajayana sekitar abad ke-8 Masehi yang dimaksudkan sebagai sandiwara atau tontonan hiburan bagi Sang Raja dan rakyatnya. 

Budaya ini merupakan hasil asimilasi antara budaya India dan Jawa-Kanjuruhan, karena pada masa tersebut banyak pedagang dari India yang berdagang di Kanjuruhan.

Cerita yang sering dikisahkan dalam wayang topeng ini biasanya adalah cerita pewayangan India, seperti Ramayana dan Mahabarata, menariknya lagi kebudayaan ini terkadang ada hubungannya dengan religi hingga membuatnya sebagai pertunjukan yang sakral pada masa itu. 

Tetapi sejak pemerintahan Raja Erlangga, kesenian topeng ini diubah menjadi kebudayaan biasa dan hanya sebagai seni tari saja. Adapun maksud lain dari pemakaian topeng ini adalah untuk mendukung fleksibilitas penari sehingga tidak perlu menggunakan riasan yang pada jaman dulu memang sulit untuk dilakukan.

Kebudayaan wayang topeng ini akhirnya menjadi seni budaya khas Malang, yang merupakan satu seni pertunjukan yang dimainkan oleh manusia tapi tidak memperlihatkan wajah asli sang pemain yaitu Wayang Topeng Malang. Sesuai namanya, para pemain dalam pertunjukan ini menggunakan topeng sebagai penutup muka.

Ciri khas Malang tampak nyata dalam seni Wayang Topeng Malang ini. Salah satu ciri khas tersebut adalah pahatan karakter wajah seseorang pada kayu yang nampak lebih nyata. Selain itu, ragam warnanya juga lebih beragam dibanding topeng dari daerah lainnya.

Warna-warna tersebut yaitu merah, putih, kuning, hijau, dan hitam. Arti dari warna-warna tersebut, secara berturut-turut  melambangkan keberanian, kesucian, kesenangan, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Ada lebih kurang dari 76 karakter tokoh yang terdapat dalam seni yang berkembang sejak jaman Hindu-Buddha ini.

Hingga akhirnya hanya ada enam karakter yang paling menonjol dalam wayang topeng tersebut, yaitu ;


1. Panji Asmoro Bangun

Raden Panji merupakan tokoh protagonis yang mengatur naik turunnya konflik dalam suatu cerita. Warna hijau pada wajah melambangkan bahwa ia seorang yang baik hati. Sifat jujur, sabar, gesit dan perwira ditunjukkan oleh matanya yang berbentuk bulir padi. Sedangkan dari bibirnya yang sedikit terbuka mengartikan bahwa ia lembut dan berbudi luhur. Titik emas diantara alisnya menunjukkan bahwa ia adalah keturunan dewa. Alisnya berbentuk nanggal sepisan, berhidung mancung, dan juga terdapat kumis.

2. Dewi Sekartaji

Sama seperti Raden Panji Asmoro Bangun yakni alisnya nanggal sepisan, berhidung mancung dan memiliki titik emas di antara alisnya. Wajahnya berwarna putih menunjukkan bahwa ia seorang yang suci, lembut, dan baik hati.


3. Gunung Sari

Sahabat Raden Panji ini memiliki mata sipit, berkumis panjang. Warna wajahnya sama seperti Dewi Sekartaji yaitu putih yang melambangkan seorang yang baik hati dan suci.


4. Dewi Ragil Kuning

Adik dari Raden Panji ini bersifat aktif. Warna wajahnya yang kuning melambangkan kesenangan.


5. Klana Sewandana

Klana merupakan tokoh antagonis yang menjadi musuh dari Raden Panji. Klana digambarkan sebagai sosok yang memiliki mata besar atau mata kedhelen, hidungnya berbentuk pagotan, mulutnya berbentuk jambe sinegar setangkep, jambang yang serupa ronce melati, serta jenggotnya yang brewok. Tokoh ini memiliki wajah berwarna merah yang berarti bahwa ia seorang pemarah dan juga pemberani.


6. Bapang

Memiliki warna wajah merah, hidung panjang, dan mata yang besar. Warna wajah sahabat Klana Sewandana ini melambangkan sifat pemarah dan pemberani.

Itulah karakter tokoh utama dalam Wayang Topeng Malang. Bentuk wajah atau topeng yang berbeda membuat para lakon dituntut untuk bisa menyesuaikan sifat mereka yang juga berbeda-beda. Dan tugas kitalah untuk melestarikan kebudayaan tersebut sebagai salah satu aset bangsa Indonesia.