MALANGTIMES - Bambusa Cornua Munro atau dikenal dengan nama Pring Embong (Bambu Embong) merupakan spesies tanaman bambu langka. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Bahkan jenis bambu ini sudah dinyatakan tidak bisa lagi ditemukan di belahan dunia mana pun alias punah sama sekali, kecuali di Kabupaten Malang.
Berusia antara 50.000-25.000 sebelum Masehi (SM), Bambusa Cornua Munro tergolong bambu purba. Spesies ini termasuk salah satu generasi awal dari spesies bambu-bambu yang ada di dunia atau merupakan awal dari evolusi bambu dunia.
Baca Juga : Kasus Covid-19 Terus Bertambah, Bupati Malang Klaim Penyebabnya Tertular dari Luar
Penemu pertama bambu ini adalah Dr Thomas Horsfiel bersama Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafles pada 1810-1815. Kemudian Sijfert Hendrik Koorders pada 1896 menemukan kembali tanaman itu di Sumbertangkil, Tirtoyudo, dan menuliskannya dalam buku berjudul Teysmannia halaman 615 yang dipublikasikan pada 1910.
Pada halaman buku tersebut tertera, Den 27 Juni 1896 bloeiend, bij Soember tangkil, district Toeren, res. Pasoeroean, op ± 400500 M. zeehoogte, in licht, altijdgroen gemengd woud; wild. -Pring-embong, Jav. (Kds. 23693 β,). Terjemahan bebasnya, “Pada tanggal 27 Juni 1896 tumbuh berbunga di Sumbertangkil, Distrik Turen, Karesidenan Pasuruan, pada ketinggian ± 400-500 meter di atas permukaan air laut, pada daerah terang, menghutan hijau; tumbuh liar. Orang Jawa menyebutnya: Pring Embong/Bambu Embong (Kds. 23693 β,).”
Berangkat dari tulisan berusia sekitar seabad ini, tahun 2015 Tim Ekspedisi Bambusa Cornuta Munro yang dipimpin oleh Besar Edy Santoso menemukan kembali anak hilang ini di di Dusun Sumbertangkil, Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo. Walaupun keberadan Pring Embong ini tinggal sedikit, yaitu delapan titik saat ditemukan, tetapi nilai penemuannya sangatlah besar bagi dunia flora dunia.
Pemerintah Kabupaten Malang pun dibuat takjub saat itu dengan keberadaan bambu purba yang ditemukan di wilayahnya. Bupati Malang Dr Rendra Kresna langsung merespons penemuan tersebut dengan tindakan nyata, yaitu akan mengembangkan jenis bambu itu.
"Itu kekayaan flora langka dunia dan ternyata tumbuh di Tirtoyudo. Tentunya sangat berharga sekali. Karena itu, kita kembangkan biar tidak punah. Kini, Pring Embong itu ada di Taman bambu Desa Sanankerto, Kecamatan Turen. Di tempat asalnya tetap dijaga," kata Rendra, Senin (05/06).
Pengembangan Pring Embong di Boon Pring Andeman, Turen, yang memang merupakan destinasi wisata hutan bambu ini selain untuk melengkapi jenis bambu yang telah ada, seperti bambu petung, bambu petung hitam, bambu apus, bambu tutul, bambu ampel, bambu wulung, bambu kuning, bambu pagar, bambu Budha, bambu amplex, bambu Angus Tifolis, juga untuk semakin menguatkan citra Kabupaten Malang sebagai daerah wisata yang kaya dengan berbagai pesona alam langka dan hanya ada di bumi Arema ini.
Dari sudut wisata, tentunya keberadaan Pring Embong ini akan jadi daya tarik di mata dunia. Selain itu di Jawa, jenis bambu aslinya tinggal Pring Apus, kini bertambah dengan Pring Embong," ujar Rendra yang juga menjelaskan jenis lainnya berasal dari luar negeri, seperti Pring Pethung yang berasal dari Malaca/Malaysia.
Baca Juga : Pasien Positif Tambah 3, Laman Pemkab Malang Masih Cantumkan 7 Kasus
Fungsi Pring Embong juga sangat bermanfaat dalam kontek lingkungan alam. Pasalnya, Pring Embong ini mempunyai sifat yang berbeda dengan bambu-bambu lainnya. Yaitu perkembangbiakannya tidak merumpun ke atas, melainkan ke samping, menjalar dan mengikat satu sama lainnya. Perkembangbiakannya ini justru memberikan keuntungan karena mencegah erosi dan longsor, khususnya jika ditanam di lereng-lereng perbukitan.
Selama ini masyarakat setempat mengetahui bambu tersebut hanyalah sebagai tanaman yang tidak menarik, mengganggu, dan merusak keindahan sekitarnya. Dianggap tidak berfaedah karena batangnya kecil, masyarakat justru menggunakannya untuk memukul anjing. Padahal, pucuk daun Pring Embong bisa untuk jamu asam urat. Bambunya yang kecil dibanding dengan jenis bambu lainnya bisa untuk lidi dupa kualitas tinggi.
Sejak ditemukan tahun 2015, pring purba dan hanya tumbuh di Kabupaten Malang ini telah dilaporkan kepada organisasi internasional bambu dan rotan serta organisasi bambu dunia di Prancis.(*)
Info Grafik : MalangTimes
