Persija Jakarta dan Arema yang mempunyai hubungan baik. Bahka, suporternya juga memiliki kesamaan yang tidak terduga. Bagaimana tidak, saat menjadi juara dua tim tersebut harus menunggu hingga 17 tahun lamanya.
Persahabatan nampaknya sangat kental jika dihubungkan dengan nama Arema-Persija. Dua tim besar yang memiliki sejarah panjang di persepakbolaan nasional ini 10 terakhir ini tampak semakin kompak dengan sama-sama merebut gelar juara kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia.
Untuk Arema sendiri, dalam catatan sejarah pernah meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional tahun 1992/1993 yang kala itu masih bernama Galatama.
Setelah gelar juara itu, Arema yang membiayai tim secara pribadi (bukan APBD) mengalami masalah finansial yang akhirnya berujung pada degradasi pada musim kompetisi Divisi I 2003.
Namun tak membutuhkan waktu lama, Singo Edan kembali naik ke Divisi Utama pada setahun kemudian atau tahun 2004 setelah berhasil juara Divisi I.
Kemudian tren Arema semakin naik karena mampu menjuarai dua kali berturut Copa Indonesia kala itu yang kini berganti nama menjadi Piala Indonesia pada tahun 2005 dan 2006.
Usai nama yang sedemikian berkembang dengan pelatih Benny Dollo dan pemain seperti Firman Utina, Franco Hitta, Emalue Serge hingga I Putu Gede saat menjuarai Copa Indonesia, Arema kembali mengalami penurunan dan berujung pada prestasi yang tidak stabil.
Namun, semakin tahun tren itu berubah pada kompetisi musim 2009/2010 yang saat itu juga Arema menjadi juara Indonesia Super League (ISL).
Praktis dari tahun ke tahun dengan gelar juara yang didapat, Arema harus menunggu hingga 17-18 tahun lamanya untuk kembali meraih gelar juara mulai 1992/1993 hingga 2009/2010.
Sementara itu, Persija Jakarta yang baru saja meraih gelar juara pada kompetisi Liga 1 musim 2018 ini juga mempunyai histori dalam kembali merebut gelar juara seperti Arema.
Terakhir kali Persija meraih gelar juara pada kompetisi kasta tertinggi adalah tahun 2000/2001 yang saat itu masih bernama Liga Indonesia.
Dengan nama-nama pemain seperti, Mambalou Mbeng Jean, Luciano Leandro, Agus Indra Kurniawan dan tentunya Bambang Pamungkas, Persija mampu menjadi yang nomor satu di persepakbolaan Indonesia kala itu.
Dan musim-musim berikutnya Persija rata-rata hanya mampu menapaki 8 besar dan semifinal Liga Indonesia. Dan ketika kompetisi dirubah sistemnya, Macan Kemayoran ini mendapati klasemen yang tidak jauh dari 10 besar.
Dan penantian hingga 17-18 tahun lamanya seperti yang dialami Arema kembali terjadi pada tim kebanggaan The Jak Mania itu. Yaitu tahun 2018 tepatnya Persija mampu mengangkat kembali piala kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.
Saat itu pertandingan terakhir Persija menang 2-1 dari Mitra Kukar. Dua gol diciptakan pemain asing yang sedang moncer saat ini, yakni Marko Simic.
Berikut adalah sebagian kecil persamaan Arema dengan Persija menurut MalangTIMES. Tentu banyak lagi kesamaan dari tim yang memiliki warna jersey biru dan orange tersebut.
