Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Asal-usul Sarung dan Eksistensinya sebagai Alat Pemersatu Bangsa

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

30 - Nov - 2018, 21:58

Placeholder
Ilustrasi (Foto: Ngopi Bareng)

Bagi orang Indonesia, pasti sudah sangat familiar dengan yang namanya sarung. Ya, sarung adalah kain yang biasa dipakai oleh para kaum laki-laki terutama untuk beribadah. Sarung sendiri merupakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa atau tabung.

Dalam pengertian busana dan fashion, sarung berarti sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh mulai dari pinggang ke bawah.

Di kalangan santri dan lelaki muslim sendiri, memakai sarung atau biasa disebut sarungan sudah merupakan kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan. Penggunaannya pun sangat luas, misalnya untuk santai di rumah hingga pada penggunaan resmi seperti ibadah atau upacara perkawinan. Pada umumnya penggunaan kain sarung pada acara resmi terkait sebagai pelengkap baju daerah tertentu.

Dilansir dari lifestyle.kompas.com sarung diperkirakan muncul di Indonesia pada abad ke 14 yang dibawa oleh pedagang Arab dan India. Berdasarkan catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman yang terkenal dengan sebutan futah. Seiring berjalannya waktu, sarung di Indonesia menjadi busana yang identik dengan budaya muslim, dan digunakan sebagai busana sehari-hari.

Sejak Kolonial Belanda menguasai Indonesia, gaya busana seperti celana panjang untuk pria, serta rok dan gaun untuk wanita mulai terkenal di Nusantara. Kelompok pertama yang memakai pakaian ala Belanda ini adalah orang-orang Jawa yang mengenyam pendidikan barat, seperti para siswa STOVIA, sekolah pelatihan guru kolonial, dan sekelompok priyayi yang menjadi pegawai negeri berpangkat rendah.

Tren busana ini menyebar dengan cepat, karena banyaknya sekolah kolonial yang dibuka selama dekade pertama abad ke 20, tepatnya sejak penerapan politik etis Belanda. Sejak saat itu, pria pribumi biasanya mengenakan celana panjang dengan topi.

Berdasarkan memoar yang ditulis Pangeran Djajadiningrat dari Kesultanan Banten, sampai sekitar tahun 1902, masyarakat Jawa masih memakai sarung, jas model Jawa dan kain tutup kepala yang disebut destar. Mereka juga tidak memakai sepatu sebagai alas kaki, melainkan sandal kain.

Namun, generasi tua tidak menyukai adanya perubahan dalam gaya berbusana ini. Mereka beranggapan jika Jawa dan sarung adalah dua hal yang telah lama ada dan tak dapat dipisahkan. Di sisi lain, banyak orang Jawa berusia muda yang mengenyam pendidikan Barat sehingga celana telah dianggap sebagai simbol kemajuan, kebebasan, dan modernitas.

Para pedagang pun tertarik dengan tren dan merasa pemakaian celana meringankan hubungan bisnis dengan orang Eropa dan Tionghoa.

Sekitar tahun 1910, seorang pengusaha dari Batam bernama Haji Muhammad menyatakan, sarung dan turban tak lagi efisien dipakai di tempat kerja. Akhirnya, ia mengganti pakaiannya dengan celana panjang, jaket, kopiah dan sepatu. Gaya berpakaian seperti itu diklaim mempermudah untuk berurusan dengan mitra bisnis yang sebagian besar orang asing. Lambat laun, sarung pun dianggap sebagai pakaian yang ketinggalan zaman.

Meski demikian, saat ini eksistensi sarung tidak dapat tergantikan, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi.

Di beberapa daerah, pemakaian sarung masih dianggap sebagai simbol status. Meski sarung lebih sering dipakai di daerah Jawa Timur, hampir di setiap rumah penduduk Indonesia pasti menyimpan sarung.

Bagi umat Islam, sarung biasanya dipakai untuk beribadah. Beberapa orang juga memakainya sebagai selimut atau ayunan untuk bayi yang baru lahir. Para pria yang melakukan patroli untuk menjaga keamanan desa di malam hari juga kerap memakainya sebagai penghalau dinginnya angin malam.

Selain itu, sarung juga menjadi pakaian yang identik dengan momen membahagiakan seperti Idul Fitri. Ini terbukti dengan meningkatnya angka penjualan sarung pada momen lebaran.

Eksistensinya hingga kini menjadikan sarung dianggap sebagai salah satu budaya Indonesia yang menyatukan bangsa kita. Sejarah dulu mengatakan bahwa sarung digunakan sebagai pakaian untuk melawan penjajah, termasuk budaya barat yang dibawa masuk dan dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai di Indonesia. Kini, pakaian ini dapat ditemukan di seluruh Nusantara dan dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat.(*)


Topik

Peristiwa Sarung sejarah-sarung santri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni