Bedah Buku

"Televisi di Amerika Sama Seperti Smartphone di Indonesia Saat Ini"

Jul 09, 2015 23:05
Susana bedah buku berjudul "Identitas dan Kenikmatan" karya Prof Ariel Heryanto, oleh Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) dan jurusan Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, pada Kamis, (9/7/2015) sore, di halaman gedung A FISIP, UB
Susana bedah buku berjudul "Identitas dan Kenikmatan" karya Prof Ariel Heryanto, oleh Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) dan jurusan Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, pada Kamis, (9/7/2015) sore, di halaman gedung A FISIP, UB

MALANGTIMES - Pada tahun 1960-an, Televisi di Amerika sama seperti Smartphone di Indonesia saat ini. Orang tua mengeluh anak-anaknya lebih memilih menonton televisi dibanding belajar, sama seperti di Indonesia saat ini.

Begitu jelas Prof Ariel Heryanto dalam acara bedah buku berjudul "Identitas dan Kenikmatan" yang digelar oleh Center for Culture and Frontier Studies (CCFS) yang bekerjasama dengan Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (9/7/2015).

Bedah buku tersebut digelar di halaman Gedung A FISIP, UB Malang. Acara tersebut menghadirkan Prof Ariel Heryanto sebagai penulis. Untuk pembanding hadir DR Antoni, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB.

Ariel Heryanto yang juga profesor School of Culture History and Language di Australian National University ini menjelaskan, bahwa masalah identitas yang tulis dalam buku karangannya adalah study yang bermula ketika masa Orde Baru (Orba) runtuh. "Saat itu, nilai-nilai sudah dibangun," katanya.

Menurut Ariel, sebuah perubahan itu identitasnya dan kenikmatannya berbeda bergantung pada waktunya. "Misalnya, di Amerika Serikat. Tepatnya pada tahun 1960-an, televisi di Amerika sama seperti Smartphone di Indonesia saat ini, orang tua mengeluh anak-anaknya lebih memilih menonton televisi dibanding belajar. Hal itu sama seperti di Indonesia saat ini," tegasnya.

Menjelang akhir diskusi, Ariel Heryanto menambahkan, bahwa teramat banyak orang yang mempertentangkan apa yg harus tidak dipertentangkan dan tidak harus menggunakan kekerasan serta cara pertumpahan darah dalam mempertahankan identitas.

Sementara itu, DR Antoni menambahkan, bahwa perubahan itu tidak diam tapi bergerak. "Bergerak sesuai masanya," katanya singkat. (*)

Topik
Bedah Buku

Berita Lainnya

Berita

Terbaru