Jika di daerah lain pada umumnya, seorang pria harus melamar wanita sebelum akhirnya resmi menikah, maka di Tulungagung dan sekitarnya yang terjadi justru sebaliknya.
Konon, tradisi wanita melamar pria di Tulungagung ini ada yang mengatakan dipengaruhi cerita rakyat yaitu Ande-Ande Lumut dan Klenting Kuning.
Pada sejarah legenda yang dipercaya, Ande-ande Lumut yang merupakan penyamaran dari Raden Panji Inukertapati adalah putra dari Mbok Rondo Dadapan.
Ketampanannya telah menarik keinginan Klenting bersaudara untuk datang bertamu ke rumahnya dan meminta Ande-ande Lumut menikahinya.
Tak terkecuali Klenting Kuning yang singkatnya diterima lamarannya dan menjadi istri Ande-ande Lumut. Peristiwa datangnya para Klenting pada Ande-ande Lumut inilah yang melatarbelakangi tradisi lamaran tersebut.
"Tapi tidak juga semua meyakini tradisi yang telah berjalan turun temurun dari legenda itu, ini warisan budaya yang telah dipercaya masyarakat dan pengaruh dari hindu (india). Di sana hingga kini juga wanita melamar laki-laki dalam arti jika sudah sepakat antar keluarga maka wanita datang terlebih dahulu ke keluarga laki-laki," kata Linggo Prabancana (40) seniman multi bakat dan pegiat budaya sekaligus dalang wayang kulit asal Mirigambar Sumbergempol.
Pada praktek dan kesan umumnya, banyak yang menganggap bahwa tradisi lamaran ini merendahkan harkat dan derajat kaum wanita.
Karena di daerah lain, pihak mempelai prialah yang melakukan lamaran. Akhirnya memantik kesan negatif seakan-akan wanita mengemis status istri pada pria, meminta-minta untuk dinikahi.
"Tradisi itu adalah bangunan sejarah yang telah menjadi keyakinan, jadi itu sah jika kita menjaga karena prosesi ini hanyalah formalitas adat," paparnya.
Kebiasaan di Tulungagung, sebelum mempelai wanita melamar, calon mempelai pria sudah dipanggil orangtua sang wanita untuk dimintai keseriusannya dalam membina rumah tangga. Jika benar-benar serius, barulah pihak wanita menjalankan prosesi lamaran sesuai adat.
"Tidak ada istilah wanita ditolak saat melakukan lamaran. Karena yang terjadi sudah ada pembicaraan, hanya saja adat ini selalu menjadi lagu wajib sebelum pernikahan tiba," tambah Linggo.
Tradisi dengan keunikannya adalah kekayaan khazanah budaya dari rangkaian sejarah masa lalu. Sama halnya dengan tradisi lamaran di Tulungagung ini, keunikan ini menandakan sebuah ciri khas yang tidak bisa ditemui di daerah lain.
Linggo justru menegaskan bangsa ini hidup dalam atmosfer multikultur, tradisi-tradisi seperti ini harus tetap dilestarikan karena merupakan wujud kebanggaan pada budaya bangsa Indonesia.
"Jangan justru hilang karena masuknya budaya lain yang kelihatannya lebih bagus, padahal itu akan menghilangkan sejarah dan kearifan lokal," tuturnya.
