Cerbung
RUMAH API-NADA KE-9 YANG TAK USAI (7)
dd nana
Baca Juga : Selamat !! Satu Pasien Positif Corona di Lumajang Dinyatakan Sembuh
5/
Tak ada yang tetap disini. Seluruhnya begitu mudah bergoyang. Seperti kilap api dari sebuah damar yang disetubuhi angin.
Malaikatku, diringkus disuatu pagi. Oleh para lelaki berseragam dengan senjata di tangan. Kabar itu datang dalam helaan nafas yang singkat. Di antarkan mesin bernyawa bernama televisi.
Tubuhku terpaku, sayap kupu-kupu yang mulai ranum di bahuku terkelupas. Luruh helai demi helai menutupi ubin di bawahku. Warnanya merah kecoklatan.
Ya, aku tahu detak yang kau miliki masih begitu belia. Seperti detakku yang tak mampu mengusir peristiwa yang tak kuminta.
Jubah malam mulai tersenyum. Belum berakhir, belum berakhir, budakku yang ingkar.
6/
Perlakukan tubuhku sesuka kalian. Tapi, izinkan aku menemuinya. Meskipun tidak tuntas rindu ini bermuara.
Kunyahlah daging yang membuat mata kalian meneteskan syahwat, asal mata ini bersitatap dengan matanya. Ya, sekedar bersitatap.
Itu...
Apa ? ini.
Ya, apa itu.
Kalian mencurigai bungkusan ini.
Hmmm…..
Ini sayap kupu-kupu.
Sayap kupu-kupu ?
Ya, sayap kupu-kupu!
Ha…ha…ha… Apakah lelakimu memang doyannya yang sudah tidak bernyawa? Untuk apa sayap kupu-kupu.
Kalian tak akan pernah mengerti.
Ha…ha…ha… kalian memang pasangan yang serasi. Sama-sama gila. Tapi, dilihat-lihat kau cukup indah, nona. Bukan begitu, teman-teman ?
Hmmmm… oya, selain bungkusan itu, apa yang nona bawa.
Tubuh.
7/
Tubuhmu mengkerut, malaikatku. Berdarah-darah. Lihatlah, warna di tubuhmu yang pualam, kini berganti kelam.
Baca Juga : 10 Daerah Resmi Dapat Persetujuan Terapkan PSBB
Kau semakin mengecil, mengabur di mataku yang dibasahi air mata. Kenapa tidak kau kepakkan gelombangmu untuk mencipta sayap. Lantas terbang meninggalkan ruangan ini.
Lautku, kita terlalu lama menanggung segala derita yang tak terkatakan. Maka kumohon terbanglah…(bersambung).
*Penulis wartawan MALANGTIMES
