MALANGTIMES - Balai Desa Genengan Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, mungkin berbeda dengan desa lainnya.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Hal ini dikarenakan adanya arca batu bersosok wanita dengan posisi jongkok dengan kepala yang dibenamkan dikedua lututnya.
"Serupa orang yang sedang bersedih atau merasa berdosa, sehingga begitu malunya,"kata Muklis warga Donomulyo yang berkunjung ke situs arca tanpa nama ini.
Keunikan tersebut juga dilengkapi dengan adanya dua batu tepat di depan arca. Satu berbentuk oval dengan ceruk di tengahnya, serupa lesung dan satunya lagi berbentuk segi empat serupa tungku.
Menurut cerita warga setempat, Karim (75) dulunya arca tersebut lokasinya di areal persawahan.
"Tepat di belakang kantor desa sekarang. Karena berbagai hal maka arca dan dua batu itu kita pindah ke tempat lain, ternyata sehari pindah lagi ke sawah,"tuturnya kepada MALANGTIMES, Rabu (28/12/2016).
Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu
Setelah melakukan rembuk para sesepuh, akhirnya arca dan dua batu tersebut dipindah dan dibuatkan cungkup di areal dalam balai Desa Genengan.
"Setelah dipindah ke sini, sudah tidak pindah-pindah sendiri, mas," kata Karim yang juga mengatakan dihari-hari tertentu banyak orang yang "nyekar" ke sana.
Konon, menurut cerita di masyarakat setempat, sejarah keberadaan arca tersebut berawal dari kutuk dari Mbh Mangkuleksono, pendiri dan leluhur desa kepada seorang warga.
"Cerita turun menurunnya begitu, Mbah Mangkuleksono mengutuknya menjadi batu seperti sekarang ini," kata Karim yang juga mengatakan tidak mengetahui detail sejarah arca sebenarnya, baik tahun, nama, atau asal usul keberadaannya.
