Selain dimanjakan dengan sajian kuliner tradisional, Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) juga menawarkan barang-barang lawas. Satu di antaranya ialah mata uang zaman dahulu. Mulai dari zaman Kerajaan Majapahit sampai mata uang masa kolonial ditawarkan di stan Malang Tempo Doeloe (MTD).
Much Muzqi atau akrab disapa Cak Mat ialah penjual mata uang lawas itu. Ia menuturkan mata uang masa Kerajaan Majapahit yang ia punya didapatkan dari seorang kolektor yang rutin mengirimkan beberapa benda lawas ke lapak miliknya. Mat membuka lapak koleksi barang antik di Pasar Besar Malang.
"Ini mata uang masa Kerajaan Majapahit yang saya punya. Ada uang perak dan uang emas juga. Untuk harga saya tawarkan mulai Rp 50.000 sampai ada juga yang ratusan ribu bergantung kelangkaan barang yang saya punya," jelasnya saat ditemui media online MalangTIMES, pada Minggu (12/11/2017).
Ditanya soal mata uang yang dipakai di era Kerajaan Kanjuruhan, Mat menjelaskan mata uang pada zaman itu nampaknya sama dengan yang dipakai pada era Majapahit. "Kalau zaman kerajaan Gajayana kayaknya sama dengan yang dipakai waktu zaman Majapahit," kata dia.
Diolah dari berbagai sumber, kerajaan Majapahit memiliki mata uang sendiri yang dikenal dengan nama gobog yakni uang logam yang terbuat dari campuran perak, timah hitam, timah putih, dan tembaga. Bentuknya koin dengan lubang di tengahnya.
Meski Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) tahun ini hanya digelar satu hari saja, tetapi Mat mengaku sudah mampu menjual mata uang lawas dalam jumlah yang lumayan. "Ya lumayan ada saja yang beli dari pagi sampai saat ini," ujar dia.
Selain menjual mata uang tempo dulu, Mat menjelaskan ada beberapa barang antik lain yang ia tawarkan. Mulai dari kamera, radio, dan beberapa lembar perangko lawas. Barang-barang antik koleksi Mat dipajang rapi di sebuah etalase kaca sehingga pembeli bisa dengan mudah menemukan koleksi antik tersebut. (*)
