Kendi atau tempat air berbahan gerabah atau keramik umumnya punya bentuk standar. Yakni bagian bawah bulat seperti buah labu, berleher dan bercorong kecil sebagai jalan menuang air. Namun di tangan seniman keramik Malang Ponimin, kendi dikreasikan dengan memadukan berbagai unsur filosofis.
Misalnya, kendi dirupakan seperti sumber mata air yang mengundang banyak orang berkerumun di sekitarnya. Sosok-sosok manusia itu tampak berebut mendapatkan sebanyak-banyaknya air. Ada pula kendi yang berwujud sosok perempuan atau ibu. Dengan menggendong anak, perut ibu itu berlubang di tengah layaknya corong kendi pada umumnya.
Sebanyak 40 patung keramik dengan ukuran sekitar 30 sentimeter hingga 60 sentimeter karya Ponimin saat ini tengah dipamerkan di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jalan Mojopahit.
Ponimin menerangkan, 40 keramik itu dibagi menjadi 17 tema yang mengeksplorasi hubungan filosofis kendi dengan kehidupan. "Tema utama pameran tunggal ini Kendi Patirtan Kehidupan yang eksplorasinya berdasar aliran deformatif figuratif," ujar dosen Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Ponimin menguraikan, bentuk dasar kendi dipilih untuk menyampaikan kegelisahannya terhadap perilaku masyarakat saat ini. Terutama, masih banyak yang tidak menyadari pentingnya menjaga keberlangsungan air sebagai sumber kehidupan. "Kendi itu kan wadah air yang mulai ditinggalkan karena munculnya dispenser, teko plastik dan lainnya," ujarnya.
Selain itu, bahan dasar kendi yang berasal dari tanah ataupun keramik merupakan bahan natural yang sejak dulu digunakan. Sebab, unsur air dan tanah dari air minum dan kendi tradisional dapat saling melengkapi. "Ada penelitian yang pernah saya baca, penggunaan kendi itu secara higienitas dan kandungan mineralnya lebih baik dibanding peralatan plastik," terangnya.
Bukan hanya menggali dari sisi ilmiah, Ponimin juga mengulik sejarah penggunaan kendi. Beberapa patung keramik yang dipamerkan, menurutnya terinspirasi dari relief-relief yang ditemukan di Candi Kidal, Tajinan, Kabupaten Malang. Di relief tersebut digambarkan tokoh Garudea diminta mencari sumber air suci kehidupan untuk menyelamatkan nyawa ibunya. "Membela ibu itu membela hidup, dengan air suci. Jika ditarik ke implementasi yakni menjaga sumber air, dari tanah dan juga lingkungan," paparnya.
Selain dipamerkan di gedung DKM, Ponimin mengungkapkan sebagian karyanya juga akan diboyong untuk dipamerkan di India pertengahan November mendatang. "Ada pameran dan workshop terakota di India, dana saya berkesempatan menjadi salah satu peserta agenda seni internasional itu," pungkasnya. Pameran Seni Keramik Tunggal Kendi Patirtan Kehidupan sendiri dapat dinikmati hingga Selasa (31/10/2017) mendatang. (*)
