MALANGTIMES - Singhasari Literasi Festival memiliki rangkaian kegiatan mulai seminar, mengupas sejarah, rekontruksi hingga mengunjungi candi-candi Kerajaan Singosari. Semua rangkaian kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Dengan pertimbangan menjaga nilai budaya dan sejarah besar tentang Malang, Pemkab Malang akan mendokumentasikan seluruh bukti-bukti penting yang terungkap terkait sejarah Kerajaan Singosari beserta nilai budaya yang melingkupinya menjadi sebuah buku khusus.
Baca Juga : Usul Pemakaman Nakes Covid-19 di TMP & Anugerah Bintang Jasa Berujung Bully untuk Ganjar
Bupati Malang, Dr Drs Rendra Kresna, BcKU, SH, MM mengatakan buku yang akan ditulis terkait sejarah penting Kerajaan Singosari ini sengaja dibuat untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah dan budaya yang selama ini belum terungkap.
“Berawal dari perjalanan Mahesa Cempaka ini, kita akan gali dan kita kupas kesamaan buda, seni, dan agama di Singhasari Literasi Festival ini. Karena, sejarah akan memberi pengetahuan luas kepada masyarakat tentang banyak hal yang belum pernah kita ketahui,” ujar Rendra usai membuka Singhasari Literasi Festival di Pendapa Agung Kabupaten Malang, Kamis (29/9/2016) malam.
Ditambahkan, sistem heritage antara Kerajaan Singosari, Malang dengan Kerajaan Singaraja, Bali saling berkaitan dan memiliki hubungan erat dari sisi sejarah. Kesamaan itu bisa dilihat dari penemuan berupa dwipala, bentuk arca dan peninggalan benda lainnya.
Dia menceritakan sejarah berangkat dari Candi Jago yang mengisahkan salah satu Raja Singosari yang bernama Mahesa Cempaka. Mahesa Cempaka ini memerintah Kerajaan Singosari bersama Wisnu Wardhana.
Mahesa Cempaka ini keturunan dari Ken Arok dan Ken Dedes. Sementara, perkawinan antara Tunggul Ametung dan Ken Dedes mempunyai anak Anusapati. Kemudian Anusapati memiliki keturunan anak bernama Wisnu Wardhana.
Untuk menghindari dendam hubungan persaudaraan, Anusapati dan Wisnuwhardana bersepakat memimpin Kerajaan Singosari dengan dua raja. Namun dengan sistem kepemimpinan itu Mahesa Cempaka sama sekali tidak memiliki rasa dendam.
Baca Juga : Usul Pemakaman Nakes Covid-19 di TMP & Anugerah Bintang Jasa Berujung Bully untuk Ganjar
Karena sifatnya yang bijaksana, ia tak ingin dalam satu kerajaan ada dua matahari (dua raja), akhirnya ia keluar dari Kerajaan Singosari, untuk hijrah membangun pemerintahan, kebudayaan dan agama di Singaraja, Bali, bahkan sampai ke Negara Peru.
“Akhirnya Mahesa Cempaka menikah dengan orang Bali, dan memiliki keturunan. Selain itu, ia juga punya istri di Vietnam, Asia. Jadi hidupnya melalangbuana ke mana-mana,” beber Rendra.
Rendra berpesan satu hal, ‘Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini’.
