Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Sejarah Lamongan dalam Visual Fragmen

Penulis : Ardiyanto - Editor : Redaksi

25 - May - 2016, 21:38

Placeholder
Bupati Lamongan Fadeli dan istri di atas kereta melambaikan tangan ke warga Lamongan yang menyaksikan Kirab Budaya Hari Jadi Lamongan ke - 447, Rabu (25/5/2016). (Foto : Ardiyanto/LamonganTIMES)

Sejarah bagaimana lahirnya Lamongan ditampilkan dalam bentuk fragmen dalam Pasamuan Agung Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-447 di Alun-alun Kota Lamongan, Rabu (25/5/2016).

Fragmen pertama menampilkan bagaimana babak hari lahir Lamongan dimulai sejak era Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Surajaya oleh Sunan Giri IV pada 10 Dzulhijjah 976 H atau 26 Mei 1596 M.

Penggalan lakon sejarah Lamongan itu menceritakan babak sejak Hadi, nama kecil Rangga Hadi yang berasal dari Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang menuntut ilmu agama ke Sunan Giri III.

Fragmen kemudian ditutup dengan dilantiknya Rangga Hadi menjadi adipati di Lamongan dengan gelar Tumenggung Surajaya pada hari Kamis Pahing 10 Dzulhijjah 976 H. Hari yang bertepatan dengan 26 Mei 1596 masehi, inilah yang kemudian ditetapkan sebagai lahirnya Kabupaten Lamongan.

Sementara fragmen kedua membeberkan cerita yang melegenda di Lamongan, kisah Raden Panji Laras dan Panji Liris, putra kembar Adipati Lamongan ke-3. Penggalan sejarah lain di Lamongan ini masih mewakili lekatnya Lamongan dengan sejarah dakwah Islam.

Cerita ini mengisahkan bagaimana Raden Panji Laras dan Panji Liris mensyaratkan kepada putri Bupati Wirosobo, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi, agar membawa genuk berisi air penuh dan sajadah yang terbuat dari batu.

Kedua syarat tersebut banyak dipercayai sebagai perlambang agar kedua putri Bupati Wirosobo ini untuk menjadi muslimah dahulu. Air dalam genuk itu sebagai analogi air untuk wudhu dan sajadah sebagai alas shalat.

Dalam prosesi pasamuan agung itu, Bupati Fadeli bersama Wabup Kartika Hidayati dan Sekkab Yuhronur Efendi serta semua anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (forkopimda) Kabupaten Lamongan kompak mengenakan kostum ala era Tumenggung Surajaya.

Prosesi pasamuan agung itu sendiri dimulai dengan pemasangan oncer sesanti lambang daerah oleh Ketua DPRD Kaharudin di Gedung DPRD Lamongan. Lambang daerah selanjutnya dikirab keliling Kota Lamongan bersama iring-iringan mobil hias.

Bupati Lamongan Fadeli menyebutkan pesatnya perkembangan Lamongan saat ini tidak bisa dilepaskan dari pendahulunya. "Rasa hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh pendahulu-pendahulu saya yang telah ikut menancapkan pondasi yang kuat untuk membangun Lamongan yang berkelanjutan," ucapnya.

Fadeli menegaskan perlu untuk terus melakukan kerja nyata dengan memperbaiki pelayanan kepada masyarakat, dengan meninggalkan cara lama yang tidak produktif, dan melanjutkan kerja nyata yang produktif dan penuh inisiatif.

"Segala proses pelayanan yang berbelit harus dipotong. Semua proses pelayanan harus transparan dan tepat waktu sesuai yang dijanjikan," pesan Fadeli menandaskan. (*)


Topik

Peristiwa Hari-jadi-Lamongan HJL-ke-447



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ardiyanto

Editor

Redaksi

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa