MALANGTIMES - Malang ternyata juga memiliki batik yang disebut dengan Batik Malangan. Walaupun tidak sepopuler batik lainnya serta sejarah yang masih bisa diperdebatkan oleh peneliti sejarah dan budaya.
Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh
Menurut Ketua Java Culture, Ki Soleh, jejak sejarah batik Malang tidak ada yang mengungkap secara eksplisit tentang awal mula kemunculan batik serta budaya batik Malang.

"Jika kita cermati bersama, bisa jadi kegiatan membatik ini merupakan budaya yang ditularkan oleh Kerajaan Mataram kuno saat menguasai Kerajaan Singosari pada tahun 1222 M," terangnya.
Sejarah batik Malang diawali dari batik khas pedalaman Malang yang telah dipakai dalam upacara adat sejak sebelum tahun 1900-an. Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro.

Motif ini dipakai sebagai udheng (laki-laki) dan sewek (perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.
Sampai saat ini, batik Malang masih belum begitu familiar bagi masyarakat Indonesia. Namun penggalian motif batik Malang masih terus diusahakan oleh Pemerintah Malang bersama organisasi-organisasi terkait lainnya. Hal ini dilakukan agar jangan sampai batik Malang menjadi punah dan tetap bertahan menjadi warisan budaya Indonesia.
Motif batik Malangan sebenarnya kaya ragam, seperti yang disampaikan Dwi Cahyono, sejarahwan Malang yang menyatakan Batik Malangan memiliki tiga ciri pokok batik, yakni pertama pada tanahan atau dasar yang diambil dari motif batik di Candi Badut yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan tahun 760 Masehi.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Komponen kedua berupa motif pokok (hias isian) diisi dengan gambar tugu Malang yang diapit oleh rambut singa pada sisi kiri dan kanannya sebagai lambang Kota Malang. Serta komponen ketiga adalah motif hias untuk tumpal (pinggiran plus isen-isen) yang diisi tiga sulur yang membentuk sebuah rantai.
"Motif hias berupa sulur-sulur bunga yang dimaksudkan untuk menggambarkan Malang sebagai kota bunga," terangnya.
Menurut Fitinline, situs jahit online yang berkantor di Jogja dan pemenang Indonesia Womenpreneur Competition 2012, motif batik Malangan antara lain, Sawat Kembang Pring (motif bambu Jawa sakbarong), Dele Kecer (hijau-merah), Teratai Singo,.
Juga ada, Kembang Kopi (gambar kopi dibelah dua berwarna hitam), Kembang Juwet (biru-hijau), Kembang Tanjung (kuning-sawo matang, bentuk bunga bulat tengah pinggir bergerigi), Kembang Jeruk (coklat), Kembang Manggar (putih-kuning), Kembang Mayang (merah-kuning), dan Kembang Padma (teratai).
"Batik Malangan itu kaya corak dan tidak kalah dengan batik kota lainnya. Tinggal bagaimana kita semua, pemerintah, pengusaha batik, seniman, sejarahwan budayawan dan masyarakat untuk menjaga, melestarikan dan kembangkan batik Malangan agar terus hidup," pungkas Dwi Cahyono.
