MALANGTIMES - Mungkin, belum banyak masyarakat umum yang mengetahui keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wisata Edukasi di Talangagung.
Taman ini terletak 500 m dari Jalan Raya Talangagung Kepanjen, tepatnya setelah Jembatan Metro dari arah Malang-Blitar, kearah desa Sumedang. Dengan luas areal 3,5 Ha, TPA Wisata Edukasi Talangagung, menjadi jujukan wajib para peneliti, masyarakat, dinas atau pemda baik dalam maupun luar negeri dalam rangka belajar menangani sampah yang menjadi permasalahan besar di kota-kota.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
“Hari ini (06/08/2016) sebenarnya akan ada kunjungan dari Jakarta, tetapi tadi membatalkannya menjadi hari Minggu. Biasanya setiap hari selalu ada yang berkunjung untuk belajar,” terang Koderi, Inovator TPA Wisata Edukasi Talangagung.
Di TPA Wisata Edukasi Talangagung , gambaran tentang TPA sampah yang kotor, bau, gersang dan tempat vektor penyakit, akan sirna. Saat memasuki gapura TPA yang sedang direnovasi, pengunjung akan langsung disambut dengan rimbunnya pepohonan. Udara sejuk dan hijaunya pepohonan akan menyapa indera kita.
Ruang Terbuka HIjau (RTH) di kiri kanan jalan dengan beberapa gazebo untuk rest-area, semakin menghapus kesan kumuh laiknya TPA sampah.
Menurut Koderi, TPA Talangagung dulu sama nasibnya dengan TPA-TPA lainnya, sebagai tempat akhir pembuangan sampah. Baru tahun 2008, dengan adanya Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 mempergunakan prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) akhirnya wajah TPA Talangagung diubah.
Dalam pengelolaan sampah yang dibuang di TPA Talangagung, sudah menggunakan sistem semi sanitary landfill dan semi control landfill. Dengan sistem tersebut kirimanan sampah organik dan anorganik sebanyak 190 meter kubik setiap harinya bisa diolah dan menghasilkan biogas yang dimanfaat sebagai bahan bakar alternatif pengganti elpiji untuk warga sekitar.
“Sampai saat ini hampir 250 Rumah Tangga di sekitar TPA sudah mempergunakan biogas sebagai bahan bakar untuk memasak,” Kata Dedi, Staff TPA Talangagung.
Selain biogas, TPA Talangagung juga sudah mampu mengolah sampah organik menjadi pupuk melalui proses komposting dan pembuatan pupuk organik plus yaitu pencampuran pupuk komposting dengan pupuk kandang. Limbah sampah di TPA ini juga mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 500 hingga 750 watt.
Perubahan konsep dan paradigma dalam menangani sampah, dari yang kumpul dan buang menjadi 3R yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat maupun dari luar kota dan luar negeri.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
“Inilah yang akhirnya membuat TPA Talangagung menjadi TPA Wisata Edukasi yang selalu menjadi jujugan mahasiswa, siswa, peneliti, badan/instansi pemda seindonesia, bahkan para peneliti dari luar negeri,”papar Koderi.
“Inilah yang akhirnya membuat TPA Talangagung menjadi TPA Wisata Edukasi yang selalu menjadi jujugan mahasiswa, siswa, peneliti, badan/instansi pemda seindonesia, bahkan para peneliti dari luar negeri,”papar Koderi.
Dengan keberhasilan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan bernilai guna bagi masyarakat sekitar, TPA Talangagung telah diganjar beberapa penghargaan seperti Penghargaan Nasional dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dengan Top 25 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2015 maupun Piala Kalpataru untuk inovator TPA Wisata Edukasi, yaitu Koderi.
“TPA Wisata Edukasi Talangagung adalah arahan bapak Bupati, DR. H. Rendra Krishna juga dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang maupun Kabid Kebersihan, Pertamanan juga seluruh masyarakat Talangagung , sehingga menjadi seperti ini,” pungkas Koderi.
