MALANGTIMES - Kondisi Pasar Besar Malang (PBM) saat ini bisa dibilang sangat bahaya. Pasar tradisional yang dibangun sejak 1900 tersebut, kondisi konstruksinya sangat memprihatinkan. Sewaktu-waktu bisa ambruk dan mengancam keselamatan warga.
Status bahaya PBM ini bukan isu belaka yang tanpa kajian akademis. Status bahaya ini diterapkan oleh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) setelah melakukan uji forensik yang dilakukan pada Juni 2016 lalu.
Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19
Rapuhnya konstruksi PBM terjadi karena pasar terbesar di Malang Raya tersebut sudah beberapa kali terbakar. Terakhir kali, PBM terbakar pada 26 Mei 2016 lalu. Dan hingga sampai saat ini, pasar dibiarkan mangkrak tanpa ada penanganan serius dari Pemkot Malang. Pada Mei lalu, 3.300 kios hangus terbakar.
Sebelumnya, PBM juga pernah terbakar pada 2014. Hanya saja level kebakarannya relatif kecil, hanya menghanguskan dua kios saja. Tahun 2002 juga tercatat sempat terjadi dua kali kebakaran, hanya saja api tidak meluas.
Kebakaran relatif besar terjadi pada 2003. Pada tahun ini kebakaran menyebabkan lantai dua dan lantai tiga ditempati Matahari Departement Store hangus total. Kebakaran 2003 menyebabkan pemkot merenovasi bangunan sebagian. Pasar juga ditambah satu lantai lagi di bangunan.
Sebelumnya, pada 1985, PBM juga mengalami kebakaran hebat di sisi timur pada pada 1985. Akibat kebakaran ini PBM mengalami perubahan drastis. Awalnya, pasar yang semula dua lantai diubah menjadi empat lantai.
Pengerjaan renovasi PBM baru selesai pada 1990 dengan bentuk yang lebih modern dan dilengkapi Matahari Departement Store sebagai pusat perbelanjaan modern.
PBM sendiri merupakan pasar tradisional tertua di Kota Malang. Pasar ini telah ada sejak zaman Belanda. Pasar ini sebelumnya lebih dikenal sebagai Pasar Pecinan karena lokasinya dekat dengan kawasan Pecinan.
Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat
PBM baru dibangun resmi oleh Pemkot Malang pada 1919. Pengerjaan pembangunan ini memakan waktu 5 tahun dan baru selesai pada 1924 dengan tatanan yang lebih tertata dan modern.
Saat itu pemerintah membangun 20 los terbuat dari beton dan mengatur jarak antara satu los dengan yang lainnya dibuat 2 meter untuk mencegah kebakaran.
Namun karena pasar berkembang lebih cepat dari pembangunannya maka jarak antar los akhirnya ditutup dengan seng untuk menambah ruang usaha sehinggak keadaan pasar terkesan kacau, gelap, dan sirkulasi udara menjadi berkurang.
Pada 1932 hingga 1934 pasar ini berkembang pesat karena lokasinya yang strategis. Karena sudah tak bisa menampung semua pedagang yang ingin berjualan di PBM, maka pemkot akhirnya membangung pasar-pasar lain seperti di Bunul, Kebalen, Oro-Oro Dowo, Embong Brantas, dan Lowokwaru. Dan sejak 1973 bangunan pasar yang semula satu lantai diubah menjadi dua lantai.
