KOTABATU - Desa Gunung Sari Kota Batu adalah gudangnya bunga peacock pegunungan. Bunga mungil dari keluarga aster ini banyak dimanfaatkan untuk memperindah dekorasi panggung perayaan, pernikahan ataupun seminar.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Bunga jenis ini tumbuh dan mekar tak mengenal musim. Hanya saja air hujan yang terus mengguyur di musim kemarau membuat kualitas bunga peacock tak sebaik biasanya.
”Kalau kena hujan terus menerus bunganya jadi menghitam di bagian tepi kelopaknya," kata Yati, salah seorang petani bunga peacock.
Meski hujan tidak mengurangi produksi bunga secara signifikan, namun petani harus kerja ekstra untuk memotong bagian bunga yang menghitam. ”Kelopak yang hitam-hitam biasanya dihilangkan biar kelihatan tetap segar," imbuhnya.
Tanaman peacock akan berbunga setelah usia empat bulan sejak ditanam. Sedangkan masa panennya seminggu sekali.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Setelah panen, bunga diikat pada ukuran tertentu dan dijual dengan harga Rp 10 ribu per ikat. Dari lahan seluas 500 meter persegi milik Yati, bisa menghasilkan 50 ikat tiap kali panen.
Hasil panen itu diserahkan kepada pengepul. Di tangan pengepul bunga berwarna putih, ungu dan pink ini didistribusikan di sekitar Pulau Jawa hingga Bali.(*)
