MALANGTIMES- Kesenian bantengan kini kembali moncer dan dikenal wisatawan maupun masyarakat sebagai kesenian rakyat khas Kota Batu.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Sebelum kembali ngetren, kesenian rakyat ini pada tahun 90-an sempat vakum bertahun-tahun. Saat itu tidak adanya regenerasi dari para pelaku seni pencak silat yang mendasari tarian bantengan.
Hingga tahun 2008, putra Kota Batu bernama Agus Riyanto menggugah kembali kelompok-kelompok kecil kesenian bantengan yang tengah mati suri tersebut.
Pria yang tinggal di Kelurahan Ngaglik ini mendatangi para sesepuh bantengan di Kota Batu dan Malang Raya. Mereka diajak kembali mementaskan seni bantengan dari kampung ke kampung.
Selain itu juga membantu regenerasi dengan melatih para pemuda menari bantengan.
Beragam upaya dilakukan oleh pria 49 tahun ini. Dirinya pun tidak segan-segan membantu kelompok-kelompok bantengan untuk membuat kepala banteng secara suka rela.
Salah satu motivasi terbesarnya adalah meneruskan perjuangan dari sang kakek yang tahun 80-an memiliki padepokan pencak silat.
”Setelah kakek saya meninggal tahun 1985, pencak silat maupun bantengan vakum karena tidak ada lagi yang meneruskan,” ungkap bapak tiga anak ini.
Usaha Agus pun tidak sia-sia. Dari tahun ke tahun peminat bantengan dari kalangan pemuda terus bertambah. Mereka bersedia menari di satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya dengan suka rela.
Kini warga Kota Batu maupun wisatawan dapat menikmati tarian rakyat ini. Baik yang digelar secara kolosal maupun karnaval. Minimal dua hingga empat kali dalam satu bulan.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Jumlah kelompok kesenian bantengan di Kota Batu pun bertambah banyak, lebih dari seratus kelompok yang aktif di setiap desa.
Tidak hanya di Kota Batu, bantengan pun bergema di wilayah Malang Raya dan membentuk komunitas besar bernama Bantengan Agung Jaya Nuswantara. Agus sendiri dipercaya untuk menjadi ketuanya.
Event besar pun selalu diadakan tiap tahun yang biasanya digelar di Stadion Brantas Kota Batu.
Tidak hanya penggemar dari dalam negeri, bantengan makin banyak diminati oleh warga negara asing yang berkunjung ke Kota Batu.
Mereka sering datang ke Kota Batu hanya untuk mempelajari kesenian bantengan lebih dalam. Lalu mengajak kolaborasi dengan kesenian mereka masing-masing.
”Awalnya hanya teman-teman di empat negara yang kolaborasi, yaitu Australia, Selandia Baru, Irlandia, dan Jepang. Sekarang sudah ada 20 negara,” ungkap pria lulusan SMA Immanuel Kota Batu ini.
Kini pria yang akrab disapa Agus Tubrun ini berharap kesenian bantengan yang merupakan kesenian khas Batu ini tetap lestari dan dikenal di dalam negeri maupun luar negeri.(*)
