Soroti Penurunan Angka Pernikahan, Puguh DPRD Jatim Ingatkan Dampaknya

27 - Jan - 2026, 10:49

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Puguh Wiji Pamungkas.

JATIMTIMES - Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Puguh Wiji Pamungkas menyoroti fenomena menurunnya angka pernikahan di Indonesia, termasuk di Jatim. Fenomena ini menurutnya merupakan persoalan serius dan patut menjadi perhatian bersama.

Puguh mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan signifikan hingga sekitar 30 persen. Kondisi ini dinilainya paradoksal jika dibandingkan dengan situasi demografi Indonesia saat ini yang tengah memasuki era bonus demografi.

Baca Juga : Kodim 0804/Magetan Garap Cepat KDKMP: 162 Titik Lahan Terpetakan, Target Rampung April 2026

“Fenomena pernikahan yang semakin turun ini terjadi paling tidak dalam satu dekade terakhir, dengan penurunan sekitar 30 persen. Ini menjadi kondisi yang paradoksal, karena Indonesia, termasuk Jawa Timur, sedang berada di era bonus demografi,” ujar Puguh, Selasa (27/1/2026).

Menurutnya, saat ini struktur penduduk Indonesia justru didominasi oleh generasi usia produktif, yakni generasi milenial dan Gen Z, yang secara usia berada pada fase ideal untuk menikah. Secara logika, dominasi usia produktif tersebut seharusnya berbanding lurus dengan meningkatnya angka pernikahan.

“Usia-usia pernikahan sekarang sedang berada di puncaknya, didominasi oleh Gen Z dan milenial. Logikanya, karena jumlahnya besar, angka pernikahan juga seharusnya meningkat,” jelas legislator PKS itu.

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Puguh mencontohkan, penurunan angka pernikahan terlihat jelas di sejumlah kota besar di Jatim seperti Surabaya, Batu, Malang, dan beberapa daerah lainnya.

Ia menilai, fenomena ini tidak lepas dari adanya perubahan persepsi generasi muda terhadap makna pernikahan. Jika sebelumnya pernikahan dipandang sebagai sebuah ritual sakral dalam kehidupan, kini pandangan tersebut mulai bergeser.

“Gen Z mengalami perubahan persepsi terhadap pernikahan. Pernikahan sudah tidak lagi dianggap sebagai ritualitas yang sakral. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi, mulai dari persoalan ekonomi, jaminan masa depan, hingga ketidaksiapan mental,” paparnya.

Puguh menegaskan, tren penurunan angka pernikahan ini harus dibaca sebagai alarm serius bagi keberlangsungan demografi di Jawa Timur maupun Indonesia secara umum. Jika dibiarkan tanpa langkah antisipatif, kondisi ini berpotensi menimbulkan ancaman besar terhadap struktur demografi di masa depan.

“Salah satu ancamannya adalah terjadinya aging population, yaitu kondisi di mana jumlah penduduk lanjut usia lebih besar dibandingkan jumlah usia muda dan produktif,” terangnya.

Baca Juga : Batal Masuk Agenda Revitalisasi 2026, Pasar Besar Hanya Akan Dilakukan Perawatan Rutin

Ia mencontohkan fenomena yang terjadi di Jepang, di mana rendahnya angka pernikahan dan kelahiran menyebabkan minimnya generasi penerus. Akibatnya, beban penduduk usia produktif untuk menopang kelompok usia lanjut menjadi sangat besar.

“Kalau generasi muda tidak menikah dan tidak ada proses regenerasi, sementara perjalanan kehidupan terus berjalan, maka Gen Z dan milenial akan menua. Akhirnya yang terjadi adalah aging population, lebih banyak kelompok usia senja dibandingkan usia produktif,” ujarnya.

Menurut Puguh, kondisi tersebut bukan hanya ancaman demografi, tetapi juga berpotensi menjadi persoalan serius bagi keberlangsungan demokrasi dan pembangunan bangsa. Sebab, sumber daya manusia merupakan elemen kunci dalam menopang kekayaan alam, industri, dan sistem sosial sebuah negara.

“Sebesar apa pun sumber daya alam dan industri yang kita miliki, tanpa sumber daya manusia yang cukup dan berkualitas, negara tidak akan bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.

Karena itu, Puguh mendorong pemerintah untuk menjadikan isu penurunan angka pernikahan sebagai perhatian serius, dengan menyusun langkah-langkah mitigasi yang komprehensif dan melibatkan berbagai instrumen negara serta elemen masyarakat.

“Ini harus menjadi isu yang terus dikampanyekan di tengah masyarakat, agar tumbuh kewaspadaan dan kesadaran bersama bahwa penurunan jumlah penduduk dan ancaman aging population adalah persoalan nyata yang perlu diantisipasi sejak sekarang,” tutupnya.