Buka Semifinal Stand Up Comedy STMJ, Rektor Unikama: Komika Harus Pintar Baca Isu Sosial
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
25 - Jan - 2026, 01:55
JATIMTIMES - Suasana Auditorium Multikultural Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) berubah riuh pada Sabtu malam (24/1/2026). Ratusan penonton tampak larut dalam gelak tawa saat 15 komika terbaik tampil di babak semifinal Stand Up Comedy STMJ, ajang yang digelar hasil kolaborasi Unikama bersama Tugu Media Group.
Babak semifinal ini menjadi panggung pembuktian para finalis yang telah lolos seleksi ketat. Mereka tampil bergantian dengan materi andalan masing-masing, berusaha mencuri perhatian juri sekaligus civitas akademika yang memadati ruangan.

Penonton babak semifinal Stand Up Comedy STMJ. (Foto: istimewa)
Baca Juga : Tingkatkan Minat Baca, Disarpus Kota Kediri Hadirkan TransLiteria
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Unikama Dr Sudi Dul Aji MSi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Unikama sebagai tuan rumah ajang kreatif tersebut.
Menurut dia, kampus tidak hanya berperan sebagai pusat kegiatan akademik, tetapi juga harus hadir sebagai ruang tumbuh bagi kreativitas dan pengembangan soft skill.
Sudi menjelaskan, seni stand up comedy bukan sekadar hiburan. Di balik tawa yang tercipta, ada proses berpikir kritis dan kemampuan komunikasi yang matang.
“Membuat orang tertawa itu pekerjaan serius dan membutuhkan kecerdasan. Seorang komika harus mampu memotret keresahan sosial, mengolahnya dengan logika, dan menyampaikannya dengan teknik komunikasi yang baik. Oleh karena itu, Unikama sangat mendukung kegiatan positif seperti ini karena melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus menghibur,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah penonton.

Salah satu finalis di babak semifinal Stand Up Comedy STMJ. (Foto: istimewa)
Baca Juga : Hadapi Tantangan Era Digital, Gus Qowim Tekankan Pentingnya Pendidikan Al-Qur’an Sejak Dini
Ia juga menilai kerja sama antara institusi pendidikan dan media massa merupakan langkah strategis. Kolaborasi semacam ini dinilai mampu membuka ruang baru bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk mengasah kemampuan public speaking secara kreatif.
Sementara itu, jalannya kompetisi berlangsung ketat. Dua juri yang menilai penampilan semifinalis, yakni Dewangga dan Gilang Herlambang, memberikan penilaian tidak hanya berdasarkan kelucuan materi. Aspek penguasaan panggung, penyampaian, hingga orisinalitas ide turut menjadi poin penting dalam menentukan siapa yang layak melaju ke babak selanjutnya.
Menutup sambutannya, Sudi berharap kegiatan serupa bisa digelar secara berkelanjutan. Ia menegaskan Unikama akan terus membuka pintu kolaborasi kreatif dengan berbagai pihak, selama membawa dampak positif bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.
