7 Cara Mendidik Anak agar Punya EQ Tinggi, Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Dilatih Sejak Dini

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

19 - Sep - 2026, 07:28

Orang tua sedang mengajari anaknya. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Namun, kecerdasan anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik atau nilai yang diperoleh di sekolah.

Kemampuan memahami perasaan, mengendalikan emosi, berempati, serta menjalin hubungan dengan orang lain juga perlu dibentuk sejak dini. Kemampuan tersebut dikenal sebagai kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ).

Baca Juga : Ramalan Zodiak 19 September 2026: Ada yang Makin Dekat dengan Keberuntungan

Dilansir dari Parents, kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health bahkan menemukan bahwa keterampilan sosial dan emosional anak ketika berada di taman kanak-kanak dapat membantu memprediksi keberhasilan mereka di masa mendatang.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kecerdasan emosional yang lebih tinggi dapat memberikan perlindungan terhadap sejumlah gangguan mental, termasuk depresi.

Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak beranjak besar untuk mengajarkan keterampilan mengelola emosi. Sejumlah kebiasaan sederhana berikut bisa mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kenalkan berbagai macam emosi kepada anak

Anak belum tentu langsung mampu memahami apa yang sedang dirasakannya. Ketika marah, kecewa, atau sedih, mereka terkadang hanya bisa menangis atau menunjukkan perilaku tertentu.

Orang tua dapat membantu dengan mengenalkan nama-nama emosi kepada anak. Misalnya marah, kecewa, malu, takut, terluka, senang, bahagia, bersemangat, dan penuh harapan.

Saat melihat anak sedang marah, misalnya, orang tua bisa mengatakan, "Ibu/Ayah melihat tanganmu mengepal dan kakimu menghentak-hentak. Sepertinya kamu sedang sangat marah. Benar begitu?"

Dengan cara tersebut, anak perlahan belajar mengenali hubungan antara apa yang dirasakan dan kata yang tepat untuk menggambarkannya.

2. Dengarkan perasaan anak dan tunjukkan empati

Anak bisa saja menangis atau marah karena hal yang bagi orang dewasa terlihat sederhana. Dalam kondisi seperti ini, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap perasaan anak berlebihan.

Cobalah mengakui perasaan mereka terlebih dahulu. Bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti, tetapi mereka perlu memahami bahwa emosinya tetap bisa diterima.

Misalnya ketika anak kecewa karena tidak boleh pergi bermain sebelum membereskan kamar. Orang tua bisa mengatakan bahwa merasa kesal karena tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkan merupakan hal yang wajar.

Cara ini dapat membantu anak memahami bahwa berbagai emosi memang bisa muncul, tetapi setiap emosi perlu disampaikan dengan cara yang tepat.

3. Tunjukkan bagaimana cara mengelola emosi

Anak merupakan peniru yang baik. Apa yang dilakukan orang tua dalam menghadapi suatu masalah dapat menjadi contoh bagi mereka.

Karena itu, orang tua dapat membiasakan diri mengungkapkan perasaan menggunakan kata-kata. Misalnya, "Ibu merasa kesal ketika melihat anak-anak saling mendorong" atau "Ayah senang sekali karena teman-teman datang makan malam."

Anak pun akan belajar bahwa rasa marah, kecewa, maupun bahagia dapat disampaikan tanpa harus berteriak atau melakukan tindakan yang merugikan.

Penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara kecerdasan emosional orang tua dan pola asuh yang mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak.

4. Jangan selalu memberikan solusi, ajak anak berpikir

Ketika anak menghadapi masalah, orang tua sering kali ingin langsung turun tangan. Padahal, anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar mencari jalan keluar sendiri.

Misalnya anak kesal karena saudaranya terus mengganggu ketika sedang bermain gim. Orang tua bisa mengajaknya memikirkan beberapa pilihan yang dapat dilakukan.

Setelah beberapa solusi ditemukan, diskusikan bersama apa kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan. Biarkan anak ikut menentukan langkah yang akan diambil.

Baca Juga : Hasil Bumi Perdana Dipanen, Warga Joyosuko Gelar Festival sebagai Bentuk Syukur

Begitu pula ketika anak melakukan kesalahan. Daripada hanya memarahinya, ajak mereka membicarakan apa yang bisa dilakukan secara berbeda pada kesempatan berikutnya.

Dengan demikian, anak belajar bahwa masalah dapat dihadapi dengan tenang dan dicari solusinya.

5. Bahas kembali kejadian yang membuat anak emosi

Ada kalanya anak memberikan reaksi yang kurang tepat ketika menghadapi situasi tertentu. Kondisi tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran setelah emosinya mereda.

Dilansir dari Understood, orang tua dapat mengajak anak mengingat kembali bagaimana mereka merespons suatu kejadian dan mendiskusikan pilihan lain yang mungkin dilakukan.

Contohnya, anak merasa frustrasi ketika mengerjakan PR matematika hingga melempar buku ke lantai. Setelah suasana tenang, tanyakan apa yang membuatnya marah.

Kemudian, ajak anak memikirkan cara yang lebih baik untuk menghadapi situasi serupa. Dengan begitu, anak belajar dari pengalaman tanpa merasa terus-menerus disalahkan.

6. Biasakan anak peduli dan membantu orang lain

Kecerdasan emosional juga berkaitan erat dengan empati. Salah satu cara untuk menumbuhkannya adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk membantu orang lain.

Orang tua bisa mengajak anak membantu kerabat atau teman yang sedang sakit, mengantarkan bantuan, maupun mengikuti kegiatan sosial yang sesuai dengan usianya.

Tanggung jawab merawat hewan juga dapat menjadi pengalaman untuk mengajarkan kepedulian. Anak akan memahami bahwa ada kebutuhan makhluk lain yang harus diperhatikan, bukan hanya kebutuhannya sendiri.

Kegiatan sederhana seperti ini dapat menjadi latihan bagi anak untuk melihat keadaan dari sudut pandang orang lain.

7. Jangan ragu memanfaatkan dukungan dari sekolah

Orang tua tidak harus bekerja sendiri dalam mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak. Sekolah juga bisa menjadi lingkungan penting untuk melatih keterampilan tersebut.

Cobalah mencari tahu apakah sekolah menyediakan pembelajaran sosial dan emosional atau kegiatan yang membantu anak membangun hubungan dengan teman sebaya.

Jika anak memiliki persoalan emosional yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut, bantuan profesional juga bisa dipertimbangkan. Beberapa bentuk terapi dapat membantu anak mengenali dan mengelola emosi, termasuk melalui latihan keterampilan sosial.

Pada akhirnya, membangun EQ anak membutuhkan proses dan dilakukan secara bertahap. Orang tua tidak harus menggunakan cara yang rumit. Mengajak anak berbicara tentang perasaan, memberikan contoh, mendengarkan keluhannya, hingga membimbingnya mencari solusi bisa menjadi langkah awal.

Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten sejak dini dapat membantu anak semakin mengenali dirinya sekaligus belajar memahami perasaan orang-orang di sekitarnya.