Klarifikasi BNPB Soal 94 Pengungsi Gempa NTT Meninggal: Mayoritas Lansia
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
18 - Sep - 2026, 12:11
JATIMTIMES - BNPB memberikan penjelasan mengenai data 94 warga yang meninggal dunia saat berada di pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Puluhan korban tersebut dipastikan tidak meninggal akibat trauma fisik langsung maupun tertimpa bangunan saat gempa terjadi. Keterangan itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan melalui unggahan Instagram BNPB.
BNPB sebelumnya melakukan verifikasi dan validasi data bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Proses tersebut dilakukan di tujuh kabupaten yang terdampak gempa.
Baca Juga : Update Petisi Hentikan Sound Horeg di Jatim: Tembus Lebih dari 65 Ribu Tanda Tangan
Dari hasil pemeriksaan, 94 warga yang meninggal di pengungsian sebagian besar merupakan kelompok lanjut usia (lansia). Kematian terjadi karena komplikasi penyakit kronis yang sebelumnya sudah diderita.
"Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus," tutur Berton, seperti dikutip dari YouTube BNPB, Jumat (18/9/2026).
Berton sebelumnya menyampaikan data mengenai korban meninggal dalam konferensi pers daring BNPB pada Selasa (15/9/2026).
Saat itu, dia menjelaskan terdapat perbedaan antara korban yang meninggal secara langsung akibat gempa dengan warga yang meninggal ketika berada di pengungsian.
"Korban yang meninggal secara langsung akibat gempa bumi itu 48 orang, tetapi secara tidak langsung yang ada di pengungsian ada 94 orang," katanya.
BNPB kemudian melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap data tersebut bersama Kemenkes. Hasil verifikasi memastikan 94 warga yang meninggal di pengungsian tidak termasuk korban yang meninggal akibat trauma fisik langsung atau runtuhan bangunan ketika gempa terjadi.
Baca Juga : Disnaker Bakal Periksa K3 Pasca Insiden Ledakan di PT SPA Lamongan
Menurut Berton, penanganan medis telah dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu. Pelayanan tersebut diberikan untuk menangani kondisi warga terdampak, termasuk para pengungsi yang membutuhkan perawatan.
Berton juga memastikan kebutuhan dasar dan pelayanan kesehatan bagi penyintas gempa tetap berjalan.
"Sejak hari pertama, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan medis, obat-obatan, termasuk peralatan lain yang dibutuhkan terus bergerak menjangkau pengungsi, baik terpusat maupun mandiri," ucap dia.
