5 Jurusan Kuliah Tersulit di Dunia, Dilihat dari IPK dan Waktu Belajar

Reporter

Mutmainah J

Editor

A Yahya

18 - Sep - 2026, 10:07

Ilustrasi kuliah. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Memilih jurusan kuliah tidak hanya soal minat dan prospek pekerjaan. Setiap program studi memiliki tingkat tantangan akademik yang berbeda, mulai dari banyaknya materi yang harus dipahami hingga waktu belajar yang perlu disediakan mahasiswa setiap pekan.

Sejumlah jurusan bahkan dikenal memiliki beban perkuliahan yang cukup berat karena menggabungkan teori kompleks, praktikum, penelitian, hingga kemampuan analisis. Berdasarkan data yang dirangkum Research.com, terdapat lima jurusan yang memiliki kombinasi tuntutan akademik cukup tinggi jika dilihat dari rata-rata Grade Point Average (GPA) atau IPK dan waktu belajar mahasiswa dalam satu minggu.

Baca Juga : Khutbah Jumat 18 September 2026: Kemarau Makin Panjang, Saatnya Menjaga Air dan Memperbaiki Diri

Dalam data tersebut, semakin rendah rata-rata GPA dan semakin banyak waktu yang digunakan untuk belajar, dapat menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya tuntutan akademik yang dihadapi mahasiswa. Berikut lima jurusan yang masuk dalam daftar tersebut.

1. Studi Hukum

Studi Hukum tercatat memiliki rata-rata GPA sebesar 3,35 dengan waktu belajar sekitar 13,73 jam per minggu. Jumlah gelar yang diberikan dari bidang ini mencapai 555.

Perkuliahan hukum tidak hanya berkutat pada hafalan peraturan. Mahasiswa juga dituntut memahami sistem peradilan, peraturan perundang-undangan, kebijakan publik hingga berbagai bentuk penalaran hukum.

Banyaknya bacaan, penelitian, analisis kasus dan penyusunan argumentasi membuat mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca serta menulis yang baik. Informasi yang sangat banyak juga harus diolah dan disusun secara sistematis.

Setelah lulus, bidang pekerjaan yang dapat ditekuni cukup beragam, termasuk administrasi publik, dukungan hukum, paralegal dan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan operasional hukum. Sebagian lulusan juga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah hukum.

2. Ilmu Komputer

Selanjutnya ada Ilmu Komputer dengan rata-rata GPA 3,00. Mahasiswa pada bidang ini menghabiskan sekitar 10,5 jam per minggu untuk belajar, sementara jumlah gelar yang diberikan mencapai 47.906.

Ilmu Komputer merupakan bidang yang memadukan matematika, logika, pemrograman dan penalaran abstrak. Materi yang dipelajari dapat mencakup algoritma, struktur data, basis data, sistem operasi, arsitektur komputer hingga pengembangan perangkat lunak.

Tantangannya tidak berhenti pada memahami teori. Mahasiswa juga harus mengerjakan proyek dan melakukan debugging ketika program yang dibuat mengalami kesalahan. Proses tersebut membutuhkan ketelitian sekaligus kemampuan menemukan solusi dari sebuah masalah.

Lulusan Ilmu Komputer dapat masuk ke berbagai bidang, seperti pengembangan perangkat lunak, analisis data, keamanan siber dan perancangan sistem komputer.

3. Ilmu Bumi Lingkungan

Environmental Earth Science atau Ilmu Bumi Lingkungan memiliki rata-rata GPA 2,96 dengan waktu belajar sekitar 15,3 jam per minggu. Jumlah gelar yang diberikan tercatat sebanyak 8.894.

Jurusan ini memiliki cakupan ilmu yang cukup luas karena menggabungkan sejumlah disiplin sains, di antaranya geologi, kimia, biologi, fisika, ekologi dan ilmu lingkungan.

Mahasiswa dapat mempelajari berbagai persoalan yang berkaitan dengan bumi dan lingkungan, seperti perubahan iklim, kualitas udara, tanah, ekosistem, pencemaran serta pengelolaan sumber daya alam.

Selain pembelajaran di kelas, terdapat pula praktikum dan kegiatan lapangan. Mahasiswa juga perlu melakukan pengolahan data serta mencari solusi terhadap persoalan lingkungan dengan menggunakan pendekatan dari berbagai bidang ilmu.

Baca Juga : Cara Mencapai Mindfulness dalam Islam

4. Kimia

Kimia berada di antara jurusan dengan tuntutan akademik tinggi dalam daftar Research.com. Jurusan ini memiliki rata-rata GPA 2,77, sementara waktu belajar mahasiswa mencapai sekitar 18,06 jam setiap minggu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Kimia membutuhkan waktu belajar yang cukup besar. Jumlah gelar yang diberikan juga tercatat mencapai 22.156.

Di bangku kuliah, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai zat dan reaksi kimia. Mereka juga harus menjalani berbagai praktikum yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Materi yang dipelajari dapat meliputi senyawa, reaksi kimia, larutan, analisis kuantitatif, penggunaan instrumen hingga perancangan eksperimen. Kesalahan kecil dalam proses praktikum maupun perhitungan dapat memengaruhi hasil yang diperoleh.

Setelah menyelesaikan pendidikan, lulusan Kimia dapat berkarier di laboratorium, penelitian dan pendidikan. Mereka juga dapat melanjutkan studi ke bidang yang masih berkaitan dengan kimia maupun kesehatan.

5. Ekonomi dan Kebijakan Lingkungan

Jurusan terakhir adalah Ekonomi dan Kebijakan Lingkungan. Bidang ini mencatat rata-rata GPA 2,95 dengan waktu belajar sekitar 15,3 jam per minggu. Sementara itu, jumlah gelar yang diberikan mencapai 9.522.

Sesuai namanya, bidang tersebut menggabungkan beberapa disiplin ilmu, terutama ekonomi, lingkungan, kebijakan publik dan pengelolaan sumber daya.

Mahasiswa perlu memahami bagaimana persoalan lingkungan dapat berkaitan dengan keputusan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Analisis data, insentif ekonomi, pilihan kebijakan serta dampaknya terhadap lingkungan menjadi bagian dari materi yang dipelajari.

Tantangan lainnya adalah mahasiswa harus mampu melihat satu persoalan dari beberapa sudut pandang sekaligus. Sebuah masalah lingkungan tidak hanya dianalisis berdasarkan aspek sains, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dan kebijakan yang diterapkan.

Tidak Berarti Semua Mahasiswa Mengalami Tingkat Kesulitan yang Sama

Daftar jurusan kuliah tersulit tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran berdasarkan indikator tertentu, bukan ukuran mutlak mengenai kemampuan atau pengalaman setiap mahasiswa.

Minat, metode belajar, latar belakang pendidikan dan kemampuan masing-masing orang dapat membuat pengalaman menjalani sebuah jurusan berbeda. Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan tingkat kesulitan ketika memilih program studi, tetapi juga melihat minat, kemampuan, kurikulum dan rencana karier setelah lulus.