Gunung Wilis Kebakaran, 46 Hotspot Terdeteksi di Perbatasan Nganjuk-Ponorogo
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
17 - Sep - 2026, 06:55
JATIMTIMES - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan puncak Gunung Wilis, tepatnya di wilayah perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Ponorogo, Rabu (16/9/2026) malam. Kobaran api terlihat dari kejauhan dan terpantau dari Kantor BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk.
Prakirawan BMKG Nganjuk, Setiyaris, memantau adanya titik api pada pukul 19.16 WIB. Api terpantau bergerak ke arah timur dan barat menuju wilayah Kabupaten Nganjuk.
Baca Juga : Lahan Makam di Sukun Kota MalangTerbakar, Area Seluas 100 Meter Persegi Terdampak
"Saat ini, posisi api masih relatif jauh dari kawasan permukiman penduduk. Meskipun demikian, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai," tulis Setiyaris, dikutip detikjatim, Kamis (17/9/2026).
Pemantauan BMKG tersebut berlangsung setelah pada siang harinya terdeteksi 46 titik panas (hotspot) di kawasan puncak Gunung Wilis. Titik panas tersebut tersebar di dua kabupaten.
Sebanyak delapan titik berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Sementara di wilayah Ponorogo terdapat 24 titik di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, dan 14 titik lainnya di Desa Krisik, Kecamatan Pudak.
BPBD Nganjuk segera melakukan monitoring untuk mengetahui kondisi di lokasi. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Nganjuk, Purwo Hadi Setyo Wicaksono, mengatakan titik api masih berada cukup jauh dari permukiman warga.
"Untuk jarak titik api dari pemukiman warga saat ini sekitar 15 kilo meter. Saat ini kami masih melakukan inventarisir personel," ujar Purwo, sebagaimana dikutip Voice Indonesia, Kamis (17/9/2026).
Sekitar pukul 20.00 WIB, kobaran api terlihat semakin membesar. Namun, BPBD menyebut kondisi masih relatif aman karena lokasi kebakaran berada sekitar 15-16 kilometer dari permukiman.
Petugas masih melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan api sekaligus mengantisipasi kemungkinan kebakaran meluas.
Adapun penanganan karhutla di puncak Gunung Wilis tidak mudah. Medan yang berada di tengah kawasan hutan dan sulit dijangkau kendaraan membuat personel gabungan harus berjalan kaki menuju lokasi.
"Untuk saat ini kita masih memantau, untuk pemadaman personel harus berjalan kaki, karena medan di tengah hutan tidak bisa dilalui kendaraan," jelas Purwo.
Keterbatasan akses juga membuat pemadaman dilakukan secara manual. Personel menggunakan ranting pohon untuk membantu menangani kobaran api karena peralatan pemadaman berukuran besar sulit dibawa menuju titik kebakaran.
Baca Juga : Musim Hujan 2026 Mulai Datang, Daerah Mana yang Lebih Dulu Diguyur Hujan?
BPBD Nganjuk telah menginventarisasi personel bersama jajaran TNI dan Polri untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan.
BMKG Nganjuk mengingatkan kondisi vegetasi yang kering dapat mempercepat penyebaran api. Arah maupun kecepatan angin juga dapat berubah dan memengaruhi pergerakan kobaran.
Saat pemantauan pada Rabu malam, cuaca di sekitar wilayah tersebut dilaporkan cerah berawan. Angin bertiup dari selatan dengan kecepatan sekitar 5 km/jam, sedangkan suhu udara berada di kisaran 22 derajat Celsius.
Setiyaris meminta warga, terutama yang tinggal di sekitar lereng Gunung Wilis, tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari petugas.
"Hindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran terbuka di sekitar kawasan yang vegetasinya sedang kering," tandasnya.
BPBD Nganjuk juga meminta masyarakat tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar. Pengawasan dan patroli di wilayah rawan karhutla diperketat melalui koordinasi dengan perangkat daerah dan para camat.
Selain petugas, BPBD meminta masyarakat dan relawan desa ikut melakukan pemantauan serta segera melaporkan jika menemukan titik api atau potensi kebakaran agar dapat ditangani dengan cepat.
