KKN Unikama 2026 Tak Sekadar Kerja Bakti, Limbah Desa Diubah Jadi Sumber Nilai Ekonomi

16 - Sep - 2026, 06:04

Evaluasi pelaksanaan KKN Unikama 2026 yang ditutup di Aula Sarwakirti Unikama (ist)

JATIMTIMES - Kulit jeruk, tongkol jagung hingga kotoran sapi selama ini lebih banyak dipandang sebagai sisa aktivitas pertanian dan rumah tangga. Dalam KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) 2026, sejumlah material tersebut justru dicoba diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.

Pendekatan itu menjadi salah satu temuan dalam evaluasi pelaksanaan KKN Unikama 2026 yang ditutup di Aula Sarwakirti Unikama, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga : Istri Purbaya Singgung Orang Jahat Usai Suami Dicopot Jadi Menkeu: Kebenaran Akan Terungkap

KKN tahun ini mengusung tema Integratif Berdampak untuk Transformasi Desa Berkelanjutan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dan Inovasi Teknologi. Dari hasil pemantauan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev), program mahasiswa tidak hanya bergerak pada satu persoalan desa.

1

Perwakilan Tim Monev, Dr. Uun Muhaji, M.Pd., memetakan program kerja mahasiswa ke dalam tujuh kelompok besar. Yakni lingkungan dan pengelolaan limbah; pertanian, peternakan dan ketahanan pangan; digitalisasi desa dan UMKM; pemberdayaan ekonomi dan pengembangan UMKM; administrasi, tata kelola dan pelayanan desa; pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan sosial; serta infrastruktur dan pemetaan wilayah.

Di antara bidang tersebut, lingkungan, digitalisasi dan ekonomi tercatat memiliki intensitas program yang tinggi.

Pada persoalan lingkungan, mahasiswa mengembangkan sejumlah pendekatan seperti pemanfaatan maggot, pembuatan kompos, pupuk organik cair (POC), eco-enzyme, eco-stove dan biopori.

Namun, yang menarik dari program tersebut bukan sekadar teknologi yang digunakan, melainkan bagaimana limbah ditempatkan sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan.

"Program-program unggulan KKN pada tahun ini memiliki variasi pendekatan yang sesuai dengan potensi dan permasalahan lokal masing-masing desa," kata Uun dalam laporan Monev.

Ia menyebut pendekatan ekonomi sirkular menjadi salah satu kekuatan program tahun ini melalui pola waste to resource.

Kulit jeruk, misalnya, diolah menjadi sabun. Tongkol jagung dimanfaatkan menjadi silase. Sementara kotoran sapi diolah menjadi pupuk yang memiliki nilai guna.

Pola semacam itu menempatkan persoalan sampah dan limbah tidak semata sebagai urusan pembuangan. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dicoba masuk kembali ke dalam rantai pemanfaatan masyarakat.

Di sisi lain, mahasiswa juga membawa pendekatan berbasis teknologi ke desa. Program yang dikembangkan mencakup sistem SiMama, peta digital dan pendampingan pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi UMKM.

Artinya, agenda KKN tidak hanya berkutat pada aktivitas produksi. Administrasi, akses legalitas usaha, pelayanan desa dan pemetaan wilayah juga menjadi bagian dari intervensi mahasiswa.

Tim Monev kemudian tidak berhenti menghitung produk yang berhasil dibuat. Evaluasi dibagi dalam tiga tingkatan, yakni output-oriented, outcome-oriented dan impact-oriented.

Pada tingkat output, mahasiswa menghasilkan berbagai produk fisik dan digital. Di antaranya website, modul, produk olahan dan peta wilayah.

Tahap berikutnya adalah outcome, ketika hasil program mulai digunakan oleh pihak yang berada di desa. Produk tersebut disebut telah dimanfaatkan BUMDes, kelompok tani, pelaku UMKM hingga perangkat desa.

Baca Juga : Musim Hujan 2026 Mulai Datang, Daerah Mana yang Lebih Dulu Diguyur Hujan?

Sementara pada tingkat impact, evaluasi diarahkan pada perubahan yang muncul di masyarakat. Sejumlah program menunjukkan dampak berupa peningkatan pendapatan warga, pengurangan volume sampah, efisiensi pelayanan publik dan perubahan perilaku konsumen.

Persoalan keberlanjutan menjadi bagian lain yang muncul dalam evaluasi tersebut. Sebab, masa KKN memiliki batas waktu, sementara program yang diperkenalkan mahasiswa membutuhkan pengelolaan setelah mereka meninggalkan desa.

Salah satu bentuk penguatan keberlanjutan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Di Kecamatan Poncokusumo, misalnya, terdapat kerja sama yang melibatkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN BTS) dan Dinas Pertanian Kabupaten Malang.

Direktur DP3M Unikama, Prof. Dr. Mujiono, M.Pd., meminta program yang telah dirintis tidak berhenti ketika periode KKN selesai.

"Pelaksanaan KKN bukan tinggal berhenti sampai ketika Anda selesai melakukan itu, tetapi harus ada bentuk sustainability atau keberlanjutan program yang dapat dilanjutkan oleh kelompok KKN berikutnya atau diintegrasikan ke dalam tugas akhir mahasiswa," ujar Mujiono.

Ia juga mendorong dosen untuk menindaklanjuti potensi yang ditemukan di desa melalui hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Menurut Mujiono, mahasiswa juga perlu mempertahankan hubungan kerja sama yang telah dibangun dengan masyarakat. Dari tanggapan yang diterima kampus, masyarakat memberikan respons yang sangat positif terhadap kehadiran mahasiswa Unikama selama KKN.

Penutupan KKN sekaligus menjadi momentum pemberian penghargaan kepada Dosen Pembimbing Lapang (DPL) dan kelompok mahasiswa yang dinilai memiliki capaian terbaik.

Untuk kategori DPL Terbaik, penghargaan Terbaik 1 diberikan kepada Riswanda Himawan, S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Bahasa dan Sastra. Terbaik 2 diraih Moh. Ahsan, S.Kom., M.T., dosen Fakultas Sains dan Teknologi. Sedangkan Terbaik 3 diberikan kepada Yuniar Ika Putri Pranyata, M.Pd., dosen Fakultas Sains dan Teknologi.

Pada kategori Kelompok KKN Terbaik, Terbaik 1 diraih Kelompok KKN Desa Wonokerso, Pakisaji. Terbaik 2 diraih Kelompok KKN Desa Dengkol, Singosari. Terbaik 3 diraih Kelompok KKN Desa Sutojayan, Pakisaji.

Adapun penghargaan khusus Video KKN Terbaik diberikan kepada kelompok KKN Desa Baturetno, Singosari. Kelompok tersebut mendapatkan apresiasi atas kreativitas dalam mempublikasikan potensi dan kegiatan pemberdayaan desa melalui media visual.