NU Berdiri Karena Trust, Bukan Karena Trah

Reporter

Mahrus Ali

Editor

Redaksi

09 - Sep - 2026, 08:00

Mahrus Ali

JATIMTIMES - Ada satu hal yang barangkali perlu selalu kita ingat ketika berbicara tentang Nahdlatul Ulama. NU tidak dilahirkan dari trah, tetapi dari trust. Bukan semata-mata sanad darah, melainkan sanad kepercayaan.

Para muassis tidak mendirikan NU untuk membangun kerajaan keluarga. Bukan pula untuk membuat sebuah rumah besar yang pintunya hanya boleh dibuka oleh mereka yang memiliki hubungan darah dengan para pendirinya.

Baca Juga : Kampus di Persimpangan: dari Menara Ilmu ke Ruang Pemeriksaan

NU lahir dari kegelisahan para kiai pesantren dan kiai kampung melihat zaman yang bergerak terlalu cepat, sementara agama membutuhkan akar agar tidak tercerabut dari tanah tempat ia tumbuh.

NU lahir dari para kiai yang menyadari bahwa Islam tidak cukup hanya diwariskan melalui nama. Ia harus dijaga melalui ilmu, adab, akhlak, keteguhan iman, keberanian membela kebenaran, dan kesetiaan kepada kemaslahatan umat.

Di sinilah kita menemukan makna sanad yang sesungguhnya. Sanad bukan hanya urutan nama guru dan murid. Sanad adalah amanah. Ia bukan sekadar pertanyaan: siapa gurumu? Tetapi juga: apa yang engkau warisi dari gurumu, dan untuk apa ilmu itu engkau gunakan?

Dalam Qanun Asasi, KH Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya persatuan, kasih sayang, saling menolong, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai jalan untuk saling merusak. Nasihat tersebut terasa semakin penting ketika organisasi sebesar NU berhadapan dengan zaman yang penuh persaingan kepentingan.

Sebab sebuah jam'iyyah tidak akan kokoh hanya karena struktur yang rapi. Ia akan kokoh apabila orang-orang di dalamnya masih memiliki adab dan kepercayaan.

Sejarah NU sendiri menunjukkan bahwa kebangkitan itu tidak datang secara tiba-tiba. Bahkan tumbuh melalui proses panjang termasuk darah dan nyawa.

Jauh sebelum NU berdiri, KH Abdul Wahab Hasbullah telah menanam benih pergerakan melalui Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Sejarah resmi NU mencatat bahwa gerakan-gerakan tersebut menjadi bagian penting dari embrio kebangkitan pesantren sebelum lahirnya NU pada 31 Januari 1926.

Tiga gerakan itu seperti tiga kaki sebuah meja. Nahdlatul Wathan membangun kesadaran kebangsaan, Tashwirul Afkar membangun kesadaran intelektual, dan Nahdlatut Tujjar membangun kesadaran ekonomi.

Agama, pemikiran, dan kesejahteraan masyarakat tidak dipisahkan. Itulah cara berpikir para pendahulu. KH. Wahab Hasbullah tidak hanya memikirkan bagaimana orang menjadi saleh secara pribadi. Ia juga memikirkan bagaimana masyarakat memiliki pendidikan, bagaimana umat memiliki kekuatan ekonomi, dan bagaimana kaum muda memiliki kesadaran kebangsaan.

Bahkan sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada KH Wahab dalam salah satu catatan NU berbunyi: “Kewajiban kita sebagai Muslim adalah mengajak yang bodoh untuk belajar dan yang pintar untuk mengajar.” Kalimat itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam

Di sana tidak ada kesombongan intelektual. Orang pintar tidak diperintahkan mempertontonkan kepintarannya, tetapi mengajar. Orang yang memiliki ilmu tidak diperintahkan menjadikan ilmunya sebagai tangga kekuasaan, tetapi sebagai jalan untuk mengangkat mereka yang belum mengetahuinya.

Bukankah inilah salah satu ruh pesantren?

Ilmu harus kembali kepada manusia. Karena itu, apabila hari ini seseorang memiliki ilmu tetapi kehilangan adab, memiliki jabatan tetapi kehilangan keteladanan, memiliki pengaruh tetapi kehilangan kepercayaan, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

Sebab ukuran kebesaran seorang kader NU bukan sekadar seberapa tinggi kursinya, tetapi seberapa banyak manfaat yang ditinggalkannya.

KH. Hasyim Asy'ari juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Dalam Qanun Asasi, beliau mengutip prinsip Al-Qur'an tentang berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.

Pesan tersebut sesungguhnya bukan hanya nasihat untuk masyarakat biasa. Tapi juga berlaku bagi mereka yang sedang memegang amanah organisasi. Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Sebab jabatan dalam tradisi pesantren bukan mahkota. Jabatan adalah beban amanah. Mungkin karena itulah sejarah NU sejak awal tidak dibangun oleh satu orang saja.

Ada KH Hasyim Asy'ari. Ada KH Abdul Wahab Hasbullah. Ada KH Bisri Syansuri. Ada KH Abbas Buntet. Ada para kiai pesantren dari berbagai daerah. Ada pula jejaring ulama Nusantara yang membawa sanad keilmuan dari berbagai pusat keilmuan Islam.

Bahkan dalam sejarah lahirnya nama Nahdlatul Ulama terdapat gagasan bahwa kebangkitan itu bukan sesuatu yang muncul dari ruang kosong. KH Mas Alwi Abdul Aziz, sebagaimana dicatat dalam sejarah NU, menjelaskan bahwa penggunaan istilah Nahdlatul Ulama mengandung makna kebangkitan yang telah bersambung dengan perjuangan ulama sebelumnya melalui sanad keilmuan dan perjuangan.

Ini penting, karena nahdlah bukan sekadar bangkit untuk menduduki kursi. Nahdlah adalah bangkit dari keterbelakangan, bangkit dari kebodohan, bangkit dari kemiskinan, bangkit dari penjajahan, bangkit dari ketidakadilan, dan bangkit untuk menjaga agama agar tetap memiliki akar di tengah perubahan zaman.

Karena itulah perjuangan KH Wahab tidak berhenti pada pengajian. Beliau bergerak melalui pendidikan, pemikiran, ekonomi, dan kebangsaan. Pesantren tidak memilih untuk menjadi penonton sejarah. Pesantren masuk ke dalam sejarah. Dan ketika penjajahan mengancam martabat bangsa, para kiai tidak bertanya terlebih dahulu: berapa keuntungan yang akan kita dapatkan

Mereka bertanya: apa yang harus kita lakukan agar agama, umat, dan tanah air tetap terjaga?

Dari rahim pemikiran seperti inilah kemudian lahir keberanian-keberanian besar yang kemudian terkenal dengan fatwa jihad fisabilillah dengan pelopor Rois Akbar KH. Hasyim Asyari.

NU bukan hanya organisasi keagamaan dalam arti administratif. NU tumbuh sebagai gerakan sosial-keagamaan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, ekonomi, kebangsaan, kemerdekaan, dan kehidupan masyarakat.

Maka menjadi kurang tepat apabila kebesaran NU hari ini hanya diukur dari siapa anak siapa, cucu siapa, murid siapa, atau berasal dari pesantren mana.

Trah adalah bagian dari sejarah. Tetapi trah bukan satu-satunya ukuran kelayakan.

Darah bisa diwariskan, nama bisa diwariskan, pesantren bisa diwariskan, tetapi integritas tidak bisa diwariskan secara otomatis.

Ilmu harus dicari, adab harus dilatih, kepercayaan harus dibangun, pengabdian harus dibuktikan. Karena itulah sanad keilmuan selalu lebih luas daripada sanad darah.

Seorang anak kiai boleh memiliki darah seorang ulama. Tetapi ia tetap harus belajar. Ia tetap harus mengaji. Ia tetap harus menjalani proses panjang untuk menjadi manusia yang layak dipercaya.

Sebaliknya, seorang anak petani, nelayan, pedagang atau guru kampung tidak boleh merasa rendah hanya karena tidak memiliki trah besar.

Jika ia belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga adab, mengabdi kepada umat, dan menjadi manusia yang dipercaya masyarakat, maka ia telah berada di dalam mata rantai sanad perjuangan itu.

Bukankah para kiai kampung selama puluhan tahun menjaga NU tanpa pernah masuk ke gedung-gedung pusat?

Baca Juga : Setelah Tambakberas, Tantangan NU Sesungguhnya Baru Dimulai

Mereka menghidupkan masjid, mereka mengajar anak-anak mengaji, mereka memimpin tahlil, mereka mengurus madrasah, mereka menjadi tempat masyarakat bertanya ketika menghadapi kematian, pernikahan, kelahiran, konflik keluarga, kemiskinan, bahkan persoalan kehidupan sehari-hari.

Mereka mungkin tidak memiliki jabatan, tetapi mereka memiliki kepercayaan. Dan terkadang, kepercayaan seperti itu jauh lebih mahal daripada jabatan.

Karena jabatan memiliki masa, kepercayaan memiliki umur yang lebih panjang. Jabatan bisa selesai ketika surat keputusan berakhir. Kepercayaan bisa tetap hidup bahkan setelah seseorang dikuburkan.

Itulah sebabnya NU seharusnya tidak pernah kehilangan hubungan dengan akar rumputnya. Sebab NU yang jauh dari kiai kampung akan kehilangan salah satu sumber kekuatannya.

NU yang hanya berbicara dari podium tetapi tidak mendengar suara masyarakat akan perlahan kehilangan ruhnya, dan NU yang terlalu sibuk mengurus struktur tetapi lupa mengurus umat, pada akhirnya hanya akan memiliki organisasi tanpa denyut. Padahal NU dibangun bukan untuk menjadi panggung. NU dibangun untuk khidmah. Jabatan di dalam NU hanyalah alat.

Ketua bukan pemilik NU, pengurus bukan pemilik NU, PBNU pun bukan pemilik NU. PBNU hanyalah salah satu bagian dari amanah besar yang dipercayakan umat.

NU jauh lebih tua daripada struktur kepengurusan, NU jauh lebih luas daripada kantor organisasi. NU hidup di pesantren, masjid, madrasah, langgar, sawah, pasar, rumah-rumah sederhana, dan hati jutaan warga yang mungkin tidak pernah tahu siapa pengurus pusatnya.

Karena itu, jangan sampai struktur merasa lebih besar daripada jamaah. Jangan sampai kantor merasa lebih penting daripada pesantren. Jangan sampai jabatan merasa lebih tinggi daripada ilmu. Dan jangan sampai trah merasa lebih tinggi daripada pengabdian.

Sebab para muassis telah meninggalkan pelajaran yang sangat sederhana: yang membuat NU kuat bukan karena satu keluarga, melainkan karena banyak orang memberikan kepercayaan dan mengikatkan dirinya dalam satu cita-cita.

Dari sinilah kita memahami bahwa NU sesungguhnya dibangun dengan apa yang dapat disebut sebagai sanad kepercayaan.

Kiai mempercayai kiai, santri mempercayai guru, masyarakat mempercayai kiai, dan generasi berikutnya mempercayai generasi sebelumnya karena melihat adanya ilmu dan keteladanan.

Rantai itulah yang harus dijaga. Sebab apabila rantai kepercayaan putus, struktur sebesar apa pun akan terasa kosong.

Dalam khazanah pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali berulang kali mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah sesuatu yang berbahaya bagi pemiliknya. Gagasan itu terasa sangat dekat dengan tradisi pesantren: ilmu harus melahirkan amal, dan amal harus dibimbing ilmu.

Maka ukuran seorang pewaris ulama bukan seberapa sering ia menyebut nama leluhurnya. Ukuran seorang pewaris ulama adalah apakah perilakunya membuat orang lain berkata: "Benar, ada ilmu yang hidup dalam dirinya." Sebab warisan terbesar para ulama bukanlah darah. Warisan terbesar mereka adalah akhlak.

KH Hasyim Asy'ari mewariskan ilmu dan keteguhan. KH Wahab Hasbullah mewariskan keberanian dan gerakan. KH Bisri Syansuri mewariskan kedalaman fikih dan keteguhan prinsip. Para kiai kampung mewariskan kesabaran dan kesetiaan kepada umat.

Dan semuanya bertemu dalam satu mata rantai besar bernama khidmah.

Maka NU tidak boleh dipersempit menjadi urusan keluarga. Bukan milik satu trah, bukan milik satu pesantren, bukan milik satu kelompok, bukan milik satu generasi. NU adalah rumah bersama.

Rumah yang dibangun dengan doa para ulama, ilmu para kiai, keringat para santri, kesetiaan warga, dan perjuangan panjang masyarakat pesantren.

Karena itu, siapa pun yang mendapatkan amanah dalam NU harus memahami satu hal yaitu sedang memegang sesuatu yang bukan miliknya.

Ia hanya sedang menjaga titipan dan setiap titipan pada akhirnya harus dikembalikan. Jabatan akan selesai, kepengurusan akan berganti, generasi akan datang dan pergi, tetapi NU harus tetap hidup.

Karena NU bukan tentang siapa yang sedang duduk di kursi.

NU adalah tentang nilai apa yang tetap berdiri ketika kursi itu sudah kosong.

Maka mari kita kembalikan NU kepada ruh para muassisnya. Kepada ilmu, kepada adab, kepada pesantren, kepada umat, kepada kemanusiaan, kepada kebangsaan, kepada keberanian melawan kedzaliman, kepada keteguhan menjaga ajaran Islam yang bersanad, dan terutama kepada kepercayaan bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin.

Sebab NU dapat bertahan sudah satu abad lamanya bukan karena setiap zaman selalu memiliki pengurus yang sempurna. NU bertahan karena selalu ada orang-orang yang bersedia merawatnya dengan ketulusan.

Ada kiai yang mengajar tanpa meminta pujian, ada santri yang mengabdi tanpa meminta jabatan, ada warga kampung yang menjaga tradisi tanpa pernah disebut dalam sejarah. Mereka semua adalah bagian dari NU, mereka semua adalah pemilik rumah besar ini.

Penutup dari tulisan ini adalah NU selawase dan menjadi pengurus secukupe.

Penulis :

Mahrus Ali