Kasus Campak Merebak, Ini Imbauan Dokter Anak

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

07 - Mar - 2026, 02:22

Potret ilustrasi tubuh kena campak. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Kasus campak tengah menjadi sorotan usai dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah di Indonesia. Dokter spesialis anak Arifianto SpA(K) mengingatkan para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi anak untuk mencegah penyakit yang bisa berujung komplikasi berat tersebut.

Dokter yang dikenal dengan sapaan dokter Apin itu menjelaskan bahwa meningkatnya kasus campak tidak selalu berkaitan langsung dengan kelompok antivaksin. Menurut dia, ada perbedaan antara kelompok antivaksin dan orang tua yang masih ragu terhadap vaksin.

Baca Juga : Dewan Pers Terbitkan Edaran Larangan  Wartawan Minta THR

"Antivaksin tidak sama dengan vaccine hesitancy. Cukup banyak yang masih ragu, dan saya perhatikan mayoritas cenderung memilih untuk segera melengkapi imunisasi anak-anaknya yang tertinggal," tulis dokter Apin melalui akun Instagram pribadinya, dikutip Sabtu (7/3/2026). 

Ia mengimbau orang tua yang masih ragu agar mencari informasi dari sumber yang kredibel sebelum mengambil keputusan.

"Segera mantapkan dengan ilmu. Ambil keputusan. Jangan terpengaruh narasi menyesatkan dari mereka yang pada hakikatnya tidak mampu bertanggung jawab ketika anak-anak tertukar penyakit berat yang bisa dicegah dengan vaksin."jelasnya. 

Dalam unggahannya, dokter Apin juga menunjukkan kondisi seorang anak yang sedang dirawat akibat campak dengan komplikasi serius. Menurut dia, jumlah pasien campak dengan komplikasi berat masih terus bertambah.

"Anak sakit campak terus bertambah. Termasuk dengan komplikasi Pneumonia berat seperti ini. Terintubasi terpasang ventilator." jelasnya. 

Ia juga menyampaikan doa agar anak tersebut segera pulih dari penyakitnya. "Kembali lagi ke gambar foto yang saya ambil sendiri. Saya berdoa agar adik ini segera pulih sembuh seperti sediakala. Begitu juga dengan semua anak yang sedang sakit. Terpasang oksigen nasal, HFNC, bahkan ventilator," tambahnya. 

Dokter Apin menjelaskan, orang tua tidak perlu khawatir jika imunisasi anak sempat tertinggal. Sebab, vaksin yang terlewat masih bisa diberikan melalui program imunisasi kejar.

"Vaksin yang tertinggal BISA dikejar. Tertinggal imunisasi DPT kombo, PCV, campak rubella, dll. Segera datangi faskes terdekat." ujarnya. 

Ia juga menjelaskan bahwa beberapa vaksin bahkan bisa diberikan dalam satu waktu secara bersamaan. "Dalam satu waktu, bisa diberikan suntik vaksin DPT kombo, PCV, dan MR (campak rubella) dengan bersamaan. Namanya imunisasi ganda/simultan." ungkapnya. 

Menurut dia, kondisi sakit ringan pada anak juga tidak selalu menjadi penghalang untuk imunisasi.

Dokter Apin menilai tidak semua orang tua yang anaknya belum imunisasi termasuk kelompok antivaksin. Ia menyebut banyak orang tua yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu untuk mempelajari informasi tentang vaksin.

"Tapi saya tidak setuju sepenuhnya apabila wabah yang terjadi menyalahkan kelompok antivaksin." ujarnya. 

Ia menambahkan, sebagian orang tua hanya termasuk kategori vaccine hesitant atau masih ragu.

"Karena tidak sedikit orangtua yang masih RAGU anaknya diimunisasi, bukan karena tergolong kelompok antivaksin. Tetapi masih butuh waktu untuk mempelajarinya." imbuhnya. 

Menurut dia, kelompok ini umumnya tetap terbuka terhadap vaksin setelah mendapatkan penjelasan ilmiah yang benar.

"Mereka tidak menolak vaksin, dan dengan penjelasan serta ilmu yang utuh, mereka akhirnya akan siap untuk memberikan vaksin pada anaknya." tandasnya. 

Selain faktor keraguan, dokter Apin juga menyoroti masalah lain yang cukup sering terjadi, yakni kelalaian orang tua dalam melengkapi jadwal vaksin anak. Menurutnya, cukup banyak imunisasi anak yang terlewat selama masa pandemi COVID-19.

"Ada juga yang mantap dan yakin dengan vaksin, tidak ragu, apalagi menolak, tapi agak abai (tidak teliti). Bahwa sebagian vaksin sudah terlewat, tapi tidak segera berusaha untuk melengkapi dan mengejar ketinggalan vaksinnya." ungkapnya. 

Baca Juga : Fakta-fakta Kasus Bigmo-Resbob, Tersangka Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha

Padahal, vaksin yang tidak diberikan berarti tubuh anak tidak memiliki antibodi terhadap penyakit tertentu. "Kekebalan alias antibodi tidak dimiliki." ujarnya.

Dokter Apin menjelaskan bahwa setiap vaksin bekerja secara spesifik untuk melindungi tubuh dari penyakit tertentu.

"Vaksin itu memberikan kekebalan SPESIFIK. Vaksin campak dan rubella, hanya merangsang tubuh untuk membentuk antibodi terhadap campak dan rubella saja." jelasnya. 

Ia mencontohkan bahwa vaksin campak tidak bisa memberikan perlindungan terhadap penyakit lain seperti difteri atau tetanus.

"Tidak membentuk antibodi terhadap difteri/pertusis/tetanus. Begitu juga vaksin DPT tidak membentuk kekebalan terhadap campak." imbuhnya. 

Karena itu, anak perlu mendapatkan semua jenis vaksin sesuai jadwal agar terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya. "Itulah sebabnya vaksin harus lengkap. Dan jumlahnya memang banyak." tandasnya. 

Menurut dia, imunisasi lengkap dapat melindungi anak dari penyakit serius seperti campak, pneumonia, meningitis, difteri, pertusis hingga tetanus.

Dokter Apin juga menjelaskan bahwa vaksin bekerja dengan cara mempersiapkan sistem kekebalan tubuh sebelum terpapar virus atau bakteri yang sebenarnya.

"Sebelum ketemu virus dan bakteri sesungguhnya yang bisa buat sakit bahkan kematian, vaksin diberikan untuk lebih dulu membentuk kekebalan dan 'sel memori' jangka panjang." jelasnya. 

Jika anak sudah memiliki antibodi dari vaksin, maka risiko sakit berat bisa berkurang. "Namanya 'imunisasi kejar' atau catch up vaccination. Vaksin mampu: (1) mencegah tidak sakit sama sekali, atau (2) kalaupun sakit, lebih ringan dan tidak mengalami komplikasi berat atau mematikan." ujar dokter Apin. 

Di akhir pesannya, dokter Apin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap informasi menyesatkan terkait vaksin yang beredar di media sosial.

"Vaksin itu aman dan efektif. Hati-hati terhadap berbagai misinformasi bahkan disinformasi yang beredar di berbagai media sosial. Kredibel kah sumbernya?" imbaunya. 

Ia juga menjelaskan bahwa kelompok antivaksin adalah pihak yang secara aktif menolak vaksin sekaligus mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

"Lalu, apakah antivaksin itu? Yaitu mereka yang secara individual/kelompok menolak vaksin, dan mengajak orang lain untuk ikut menolaknya." tegasnya. 

Karena itu, ia mengimbau orang tua yang masih ragu untuk mempelajari informasi dari sumber terpercaya. "Bagi yang masih hesitant/ ragu, Silakan pelajari ilmu tentang vaksin dari referensi terpercaya, dan berhati-hatilah narasi misinformasi dan disinformasi dari akun penyebar hoax di TikTok, Instagram, dll." tutup dokter Apin. 

Menurut dia, cakupan imunisasi yang tinggi selama puluhan tahun terbukti mampu menekan wabah penyakit menular. Namun ketika cakupan vaksin menurun, risiko wabah pun kembali meningkat.