Kisah Nabi Hud dan Kaum 'Ad, Terjemahan Kitab Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
08 - Aug - 2023, 03:58
JATIMTIMES - Kisah hidup Nabi Hud AS terkait erat dengan azab yang menimpa kaum 'Ad akibat kedurhakaan mereka kepada Allah SWT. Disebutkan, Nabi Hud AS adalah cucu Nabi Nuh AS atau keturunan dari Sam bin Nuh yang berasal dari suku ‘Ad.
Melansir dari Kitab Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh penulis dan pendiri Faktabahasa Erlangga Greschinov dan dibagikan melalui utasnya di Twitter, nama asli Nabi Hud AS adalah Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Beliau diutus untuk suku 'Ad.
Baca Juga : Anak Makan Harta Haram Orang Tua, Bagaimana Hukumnya?
Mereka merupakan bagian dari bangsa Arab yang tinggal di perbukitan antara Yaman, Oman, dan Hadramaut. Mereka tinggal di bangunan yang memiliki tiang-tiang besar.
Allah berfirman dalam surah Al-Fajr (6-8), "Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (yaitu) penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain."
Jadi, kaum Hud ini adalah umat manusia pertama yang memiliki kemampuan hebat dalam membuat bangunan-bangunan tinggi. Akan tetapi, kehebatan kaum 'Ad tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah, mereka justru menyembah berhala (patung).
Suku 'Ad memiliki tiga buah berhala yang sangat besar, yakni Shadan, Shamud, dan Hira. Allah kemudian mengutus Nabi Hud ke tengah-tengah kaumnya, sebagaimana yang dikisahkan dalam surah Al-A'raf 65-68:
"Dan kami telah mengutus kepada kaum 'Ad kerabat mereka, Hud. Ia berkata, 'Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya, maka mengapa engkau tidak bertakwa kepadanya? Pembesar kaum mereka yang kafir berkata, 'Sesungguhnya kami memandang engkau dalam keadaan kurang akal akal dan engkau termasuk orang-orang yang berdusta'.
Lantas Nabi Hud berkata, "Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal, sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan semesa alam. Aku menyampaikan pesan dari Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu."
Namun seruan Nabi Hud tersebut tidak dihiraukan oleh kaumnya, justru mereka menentangnya dan bahkan meminta didatangkan azab. Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an: Mereka berkata, "Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!" (7:70).
Kaum 'Ad juga berkata, "Sama saja bagi kami apakah engkau memberi nasihat atau tidak, agama kami ini adalah adat kebiasaan orang terdahulu dan kami sekali-kali tidak akan diazab" (QS Asy-Syu'araa 136-138).
Menanggapi sikap kaumnya yang menolak ajakannya, kemudian Hud berkata, "Dia (Hud) menjawab, "Sungguh, kemurkaan dari Tuhan akan menimpa kamu. Apakah kamu hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu buat sendiri, padahal Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu? Jika demikian tunggulah! Sesungguhnya aku pun bersamamu termasuk yang menunggu."
Baca Juga : Kisah Terselubung di Balik Buku Terra Infinita
Disimpulkan maksud dari ayat tersebut adalah kaum 'Ad dan nenek moyangnya-lah yang menghadirkan nama-nama berhala tersebut. Sedangkan Allah sama sekali tak pernah menurunkan hujjah untuk itu ataupun menurunkan dalil kebenaran mengenai apa yang mereka yakini.
Kedurhakaan kaum Hud kepada Allah ini kemudian mendatangkan azab. "Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, lalu kaum 'Ad berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.' Dan Hud berkata '(Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum 'Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa'," (Al-Ahqaf 24-25).
Setelah sebelumnya kaum 'Ad tertimpa panceklik dan kekeringan sebagai peringatan azab, mereka pun meminta hujan kepada berhala-berhala mereka. Kemudian saat mereka melihat gumpalan awan di langit, mereka mengira bahwa awan tersebut akan menurunkan hujan kepada mereka. Tetapi itu sebenarnya azab yang datang kepada mereka. Mereka diazab dengan topan dan badai besar yang sangat dingin.
Allah berfirman dalam surah Al-Haqqah ayat 7-8: "sedangkan kaum 'Ād, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum 'Ād pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk)."
Ketika azab itu mendatangi mereka, maka tidak ada seorang pun yang tersisa dari mereka, disebabkan oleh kedurhakaan mereka dan mendustakan Nabi-Nya.
Dalam kitab Shahih Muslim, Abu Jurayj menceritakan kepada kami dari Atha bin Abi Rabah, dari Aisyah ia berkata, bahwa Nabi senantiasa berdoa ketika berhembus angin kencang, berikut ini doanya:
"Ya Allah, aku memohon berkah dari angin ini dan kebaikan yang dibawanya, serta kebaikan yang Engkau berikan melalui angin ini. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan melalui angin ini, keburukan yang dibawahanya, dan keburukan apa yang Engkau kirimkan melalui angin ini."
