Ada Sejak 1951, Rujak Legendaris di Kota Malang Ini Banyak Diburu

Deretan menu menggoyang lidah yang disajikan di Kedai Rujak Pojok. (Pipit Anggraeni)
Deretan menu menggoyang lidah yang disajikan di Kedai Rujak Pojok. (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Jalan-jalan ke Malang rasanya memang kurang pas jika tidak mencicipi aneka hidangan kulinernya. Apalagi, di Kota Pendidikan ini, ada banyak kedai makanan yang siap menggoyang lidah.

Salah satunya rujak milik Depot Rujak Pojok yang ternyata bertahan selama empat generasi dan berdiri sejak 1951. Generasi pertama yang membuka kedai ini pun awalnya merupakan imigran asal Tiongkok dan memulai bisnisnya dengan membuka kedai di Oro-Oro Dowo sampai 1957.

"Dan tahun 1958 ini baru pindah ke kawasan Jl Pajajaran dan bertahan di sini sampai sekarang," kata cicit pemilik Depot Rujak Pojok, Indra Agustina, kepada MalangTIMES belum lama ini.

Kakek dan nenek buyut Indra, yaitu Then Pian Shen dan Oe Tjie Iem yang merupakan pasangan suami istri asal Republik Rakyat China (sekarang Tiongkok; red), berkelana ke Indonesia pada 1950-an. Hingga akhirnya mereka memutuskan menetap di Kota Malang dan membuka warung di pinggir jalan.

Berdasarkan cerita, usaha jual rujak itu tak berjalan lancar. Pasalnya, terjadi peristiwa G30S/PKI pada 1965. Kakek dan nenek buyutnya terpaksa harus mengamankan diri ke wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang, selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya di 1968, setelah situasi aman, keduanya kembali dan membuka warung rujak di Jl Pajajaran.

"Saat itu, selain rujak, mereka juga menjual lontong cap gomeh, gado-gado, es dawet, dan es kolak," tambah perempuan ramah itu.

Selanjutnya, pada 1978, pengelolaan kedai rujak pun berpindah tangan ke generasi kedua, yaitu Then Ik Chen yang kemudian menikah dengan pria muslim di daerah Kidul Pasar bernama Abdullah. Sejak saat itu, Then Ik Chen menjadi seorang mualaf dan mengganti namanya menjadi Maryam. 

"Dan sejak dikelola oleh nenek saya (generasi kedua; red), rujak ini awalnya dikenal sebagai Rujak Cikde," tambah perempuan berambut panjang itu.

Tahun 1987, kedai pun berpindah pada generasi ketiga. Kemudian 15 tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2003, kedai kembali berpindah tangan ke generasi keempat dan berjalan sampai sekarang.

Berbeda dengan saat dikelola oleh generasi pertama sampai ketiga, saat ini kedai pun tak hanya menyajikan rujak cingur, lontong cap gomeh, dan gado-gado saja, melainkan sudah mengembangkan banyak varian menu baru seprti aneka olahan mi dan nasi.

Setiap menu dibanderol mulai dari Rp 10 ribu untuk pangsit mi ayam sampai dengan Rp 24 ribu untuk rujak cingur. Selain itu, kedai ini menyuguhkan rujak manis yang memang banyak digemari lantaran bumbu yang digunakan memang lebih kental dan disajikan dengan buah segar seprti belimbing, bengkoang, nanas, jambu, serta potongan tahu.

Sedangkan rujak cingurnya sendiri memang memiliki cita rasa yang berbeda. Bumbu dan petis terasa lebih kental dengan paduan sayuran segar. Cingurnya pun terasa lebih empuk dibandingkan dengan cingur yang disediakan dalam rujak pada umumnya.

Untuk bertahan hingga puluhan tahun, menurut Indra, memang bukan hal mudah. Salah satu yang terus dijaga adalah cita rasa dan kualitas dari setiap sajian yang disuguhkan. "Karena yang datang pelanggan kami kebanyakan memang turunan dari pelanggan kami sebelumnya. Jadi, memang harus tetap dijaga cita rasanya," ungkapnya lagi. 

Menariknya lagi, koki utama yang selama ini mengulek rujak cingur adalah bibinya sendiri, yaitu Mariyati yang bertahan sejak tahun 1987 sampai dengan saat ini. Depot Rujak Pojok ini buka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top