MALANGTIMES - Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, secara resmi beralih status sejak dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Nomor 188/734/KPTS/013/2017 yang menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat provinsi. Keputusan gubernur Jatim ini ditindaklanjuti dengan surat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim kepada bupati Malang tertanggal 11 April 2018.

Beralihnya  status Candi Badut yang awalnya berada dalam pengelolaan Pemerintah Kabupaten Malang melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya tentu juga berdampak pada proses pengelolaannya sejak ada Keputusan gubernur Jatim. Yaitu, pengelolaan beralih dari tingkat pemerintah daerah ke pemerintah provinsi.

Di dalam Perda 11/2011 Pasal 75 dan 76 mengenai pendanaan dan pengawasan Candi Badut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah beralih ke pemerintah provinsi. Seperti tercatat dalam Peraturan Gubernur Nomor 66 tahun 2015 tentang Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, khususnya di pasal 3 tentang tugas dan wewenang. Salah satu poinnya menyatakan, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian cagar budaya. Serta, diikuti dengan frasa lain di poin (h) mengenai pengalokasian dana bagi kepentingan pelestarian cagar budaya.

Peralihan pengelolaan Candi Badut dari cagar budaya peringkat kabupaten menjadi provinsi diharapkan mampu menjadikan berbagai nilai yang terkandung di candi  yang diperkirakan ditemukan oleh pakar arkeologi tahun 1923 tersebut menjadi semakin tersampaikan kepada khalayak umum secara utuh. Baik mengenai sejarah, struktur candi serta hal lainnya. Selain tentunya keberadaan fisik candi yang juga disebut Candi Liswa ini semakin terjaga.

"Untuk mencapai hal itu, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang benar memahami hal tersebut. Terutama di tataran juru kunci candi yang secara regenerasi belum terlihat ada pergerakan masif. Ini yang kita harapkan kepada pemerintah provinsi setelah Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi," kata Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Minggu (29/04).

Made Arya melanjutkan, juru kunci candi memiliki peran vital dalam pelestarian cagar budaya, khususnya yang ada di Kabupaten Malang. Dengan adanya peralihan status tersebut, pihaknya berharap banyak adanya berbagai program dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan SDM dan hal lainnya berkaitan dengan situs tersebut.

"Kita mengetahui juru kunci candi sudah sepuh-sepuh (tua, red). Sedangkan geliat pariwisata trennya semakin meningkat. Tentunya membutuhkan anak muda yang memahami dan mampu menyampaikan sejarah serta hal lainnya secara lengkap kepada masyarakat atau wisatawan nantinya," ujar Made Arya yang menegaskan harapan tersebut kini berada di tangan pemerintah povinsi untuk mewujudkannya.

Penetapan Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi dalam keputusan gubernur Jatim tercatat dalam kondisi saat ini menempati luas lahan sekitar 52,4 x 52,4 meter. Ukuran bangunan panjang dan lebar 11 m dan tingginya 3,62 m. Untuk deskripsinya,  Candi Badut terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman inti yang masuk sebagai tempat cagar budaya, serta halaman II dan III. 

Berbahan dasar batu andesit dan menghadap ke barat yang ditandai dengan pintu masuk pada sisi barat bagian  candi. Sedangkan untuk bagian tubuh candi terdapat relung-relung sebagai tempat arca yang  kini hanya berisi arca Durga Mahasasuramardini di relung sebelah utara. Pada  bilik candi terdapat lingga yang masih utuh, sedangkan yoni sudah rusak. (*)