MALANGTIMES - Keberadaan makam Syaikh Raden Kenduruhan, salah satu anak dari Dewi Murtasimah yang merupakan anak Sunan Ampel dari Isteri keduanya yaitu Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, ternyata diyakini oleh warga setempat maupun luar daerah terletak di Dusun Ghejet (kini dusun Ringinanom, red) Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.
Letak makam yang tersembunyi, tanpa ada plang atau papan informasi di pinggir jalan, membuat banyak masyarakat tidak mengetahui keberadaannya di areal pemakaman khusus orang Islam ini.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Bahkan, menurut Munif Wasiso, warga setempat banyak warga Desa Kromengan sendiri tidak mengetahui bahwa di daerahnya ada makam dari cucu Sunan Ampel ini.
“Jarang yang mengetahuinya apalagi generasi muda sekarang. Anehnya malah orang dari luar Kabupaten Malang seperti Gresik, Surabaya, Jombang, Kediri bahkan Banyuwangi dan Probolinggo yang sering datang ziarah ke sini,”kata Wasiso, Sabtu (4/3/2017) sore di kediamannya yang merupakan jalan masuk ke areal makam Syaikh Raden Kenduruhan.
Saat MALANGTIMES bersama perangkat Desa Kromengan menuju areal pemakaman dengan berjalan kaki, sekitar 300 meter dari jalan antar desa yang merupakan satu-satunya jalan menuju arah Kromengan dari Jalan besar Kepanjen menuju Blitar, akan terlihat menara berwarna putih dengan asma Allah dalam bahasa Arab di atasnya.
Semakin mendekat ke areal pemakaman yang tidak dijaga oleh juru kunci (kuncen, red) seperti lazimnya pemakaman Keramat, kita akan bertemu dengan gapura setinggi dua meter yang dipenuhi dengan lapadz berbahasa arab di kiri kanan tembok gapura.
Di tengah bangunan gapura terdapat bentuk oval bertuliskan lapadz syahadat. Di baliknya, sebelum kita menaiki undakan dengan jumlah sembilan dan di sisinya tertera nama sembilan wali, mata kita akan melihat goresan tulisan di tembok yang ditebalkan dengan cat hijau hampir pupus mengenai Nasab Agung Waliyulloh Syaih Raden Kenduruhan yang merupakan salah satu cucu Sunan Ampel.
“Nasab Syaikh Raden Kenduruhan di tembok itu sudah ada sejak saya kecil. Katanya nasab itu dibuat sekitar tahun 1511 M atau 937 Hijriyah dan disadur dari Kitab Kuno tentang silsilah Sunan Ampel,”ujar Wasiso yang juga mengatakan sampai saat ini Kitab tersebut beserta baju perang pada zaman tersebut masih ada dan disimpan oleh orang yang dipercaya.
“Benda-benda tersebut masih ada sampai sekarang dan dijaga secara turun temurun oleh keluarga tersebut. Beliau yang jaga juga warga Kromengan,”terang Wasiso.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Keyakinan Wasiso dan sebagian warga Kromengan khususnya di Dusun Ringinanom terhadap keberadaan Raden Kenduruhan yang meninggal dan dimakamkan di dusunnya, juga semakin dimantapkan dengan banyaknya orang luar daerah yang ziarah ke makam.
“Biasanya mereka datang saat akan melakukan ziarah wali, walaupun dalam rombongan tidak besar. Mereka berdo’a dulu dimakam Syaikh Raden Kenduruhan. Warga sini juga seperti itu kalau mau ziarah Wali,” ujar Wasiso yang diiyakan oleh Eeng, perangkat Desa Kromengan.
Sayangnya, MALANGTIMES tidak bisa menemui orang yang dipercaya memegang berbagai bukti konkrit peninggalan Raden Kenduruhan, baik kitab kuno, baju zirah serta berbagai benda lainnya.
“Susah mas, kita saja kalau mau lihat kitabnya saja tidak bisa pegang langsung, tetapi dipegang beliaunya. Kita hanya bisa mendengarkan apa yang dibaca dari kitab tersebut,” pungkas Wasiso.
