Malangtimes

Viral, Perjuangan Mahasiswi UNY Kesulitan Bayar UKT hingga Meninggal Dunia 

Jan 13, 2023 09:05
Ilustrasi kisah mahasiswi UNY yang kesulitan membayar uang kuliah hingga akhir hayatnya (foto dari internet)
Ilustrasi kisah mahasiswi UNY yang kesulitan membayar uang kuliah hingga akhir hayatnya (foto dari internet)

JATIMTIMES - Baru-baru ini di Twitter, ramai dengan kisah perjuangan seorang mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang disebut kesulitan bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga meninggal dunia. 

Kisah itu dibagikan oleh rekannya di akun Twitter @rgantas atau Ganta. Sementara mahasiswi yang kesulitan itu bernama Riska. 

Mulanya, Ganta menceritakan sosok Riska yang memiliki tekad gigih untuk melanjutkan kuliah. Riska datang dari desa terpencil di Purbalingga menuju Yogyakarta. 

"Kala itu Riska hanya memegang 130rb untuk ongkos perjalanan naik bus & uang saku seminggu di Yogya. Tentu ini bukan bagian yang terburuk," tulis Ganta.

Orang tua Riska, sehari-hari jualan sayur di gerobak pinggir jalan. Di saat yang sama, ibunya harus menghidupi Riska dan keempat adiknya yang belum lulus sekolah. Dengan kondisi itu, keuangan keluarga Riska tak akan cukup membiayai perkuliahannya. 

Menurut Ganta, di UNY, dirinya menemukan banyak kasus, di mana nominal UKT mahasiswa UNY melampaui kapasitas keuangan pembayarnya. Terbukti dari hasil temuan @unybergerak. Dari seribuan mahasiswa yang mengisi angket, sekitar 97 persen keberatan dengan nominal UKT-nya.

"Keanehan penentuan UKT di UNY memang bukan barang baru. Namun, dalam kasus Riska agak berbeda. Ia sudah mengisi nominal pendapatan yang sesuai dengan kondisi ekonominya. Tetapi, saat diminta mengupload beberapa berkas, ia tidak punya laptop. Sehingga ia meminjam hp tetangganya di desa," ujar Ganta. 

Karena hp tetangga Riska tak begitu canggih, akhirnya Riska pun tak bisa mengupload berkas-berkas untuk mendukung penentuan UKT. Ia mengira inilah alasan mengapa nominal UKT-nya melonjak. 

"Entah ada pengaruh atau tidak. Namun, secara ajaib nominal UKT Riska muncul dengan angka Rp 3.140.000," ungkapnya. 

Saat dinyatakan diterima, Riska pun sempat hampur mengubur impian untuk berkuliah. Beruntungnya, guru-guru di sekolahnya mau membantu UKT pertamanya. Desir harapan pun hadir. Ia resmi menjadi mahasiswa UNY. 

Menurut Ganta, selama menjadi mahasiswa, Riska dikenal sebagai orang yang ceria. Sayang keceriannya mulai luntur tiap mendekati pembayaran UKT. Ancaman putus kuliah, seolah meremas-remas hatinya. Menyergap semua mimpi indah yang dibangun.

"Tidak kurang-kurang usaha yg ia lakukan agar bisa melanjutkan studi. Segala cara dia coba, dari mencari beasiswa hingga mengambil part time. Menurut saya praktis semua usaha sudah ia coba. Namun hasilnya lebih sulit dari yg diduga," kata Ganta. 

Di awal perkuliahan, Riska juga sempat bolak-balik dari Rektorat UNY untuk mengajukan keberatan terhadap nominal UKT-nya. 

"Tapi, menurtnya, ia: "kaya bola yg lagi dimaenin oper sana-sini gak jelas." Pengalaman Riska nampak tak asing bagi kita yang berhadapan dengan birokrasi," ujar Ganta. 

Padahal, Ganta juga baru tahu untuk ke kampus, Riska harus berjalan kaki dari kosannya di Pogung sampai ke Jalan Colombo. Jaraknya sekitar 2,3 kilometer berdasarkan google map. 

"Riska memang selalu jalan kaki ke mana saja. Mahfum, ia ga memiliki cukup uang utk memesan driver online," tulis Ganta. 

Menurut Ganta, Riska dikenal selalu berhati-hati untuk menggunakan uang. Diberikan abon oleh salah satu temannya saja, senangnya luar biasa. Termasuk peralatan mandi hingga mie instan juga pemberian teman. 

"Riska pernah bilang, bila akhirnya dia tdk bisa melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kerja agar dpt menguliahkan adiknya. Dia ingin mewujudkan mimpi adiknya. Kata itu terucap saat lagi-lagi masa pembayaran UKT mendekati deadline. Ia nyaris kehilangan asa, karna tak bisa membayar UKT," ujarnya. 

Ganta mengaku sempat menghubungkan Riska dengan salah satu petinggi kampus. Pihak birokrat kampus meminta beberapa dokumen penting untuk membantu penurunannya secara langsung. Dia juga sudah mengisi link pengajuan penurunan UKT yang disediakan kampus. Ironinya, UKTnya cuman turun sekitar Rp 600 ribu.

"Ini masih belum cukup. Ia hampir menyerah. Namun, di detik-detik terakhir bantuan pun datang. Ia menyebut ini sebagai "keajaiban". Teman-teman, DPA, dan Kajur membantu patungan," ujarnya. 

Sayangnya meski demikian, kata Ganta, nominal tersebut masih belum cukup untuk membayar uang semester Riska. Orang tuanya dan Riska masih harus mencari sisanya. 

"Maklum, periode itu pandemi sdg mengamuk. Akhirnya ia mencoba meminjam uang. Dan di babak akhir Riska bisa mengisi KRS & perkuliahan semester itu masih aman," ucap Ganta. 

Namun setelah itu, Ganta mengaku tak mengetahui lagi kabar Riska. Ada yang mengatakan ia akhirnya menyerah. Ganta lebih percaya alasan yang kedua, ada yang bilang dia cuti dan mencari kerja untuk membayar UKT semester selanjutnya.

"Namun, entahlah saya tidak benar-benar tau. Banyak yang ingin saya tanyakan sendiri. Apa benar ia menyerah? Mengapa ia tidak meminta bantuan/sekedar mengabarkan? Semua pertanyaan itu tidak mungkin dijawabnya secara langsung lagi. Karna tepat 9 Maret 2021 ia sudah meninggal dunia," cerita Ganta.

Riska selama ini ternyata mengidap hipertensi yang amat buruk. Ancaman putus kuliah kian memperburuk keadaannya. Setelah beberapa waktu tidak kuliah, tiba-tiba muncul kabar, ia sedang kritis di RS. Pembuluh darah di otaknya pecah. 

Di hari pemakamannya, Ganta mendapat cerita dari ibu Riska bahwa Riska adalah sosok anak yang tak pernah minta uang. Sejak sekolah Riska sudah membantu ibunya. Dulu dia jualan kecil- kecilan di sekolah dari susu jeli, teh tarik, bakso, sampai sosis. Riska juga seorang pesilat. Bahkan dia mencoba mencari uang dengan ikut tarung bebas di desa-desa.

"Riska adalah korban dari kejamnya institusi dan sistem pendidikan di negeri ini. Ia memberi kita semua alasan untuk terus mengawasi tata kelola institusi besar seperti UNY. Memberi kita kekuatan untuk selalu bicara tentang ancaman komersialisasi pendidikan," ujar Ganta. 

Ganta ingin menyampaikan poin penting terkait peristiwa tragis ini.

"Tata kelola yang buruk dari institusi besar seperti UNY, bukan tidak akan menimbulkan korban. Riska adalah satu dari sekian banyak korbannya,” ungkapnya.

Maka menurut Ganta, cerita ini dibuat agar tekanan publik hadir dalam pengawasan institusi besar seperti UNY.

"Karna UNY nampaknya tdk pernah belajar. Terbaru, mekanisme penurunan UKT, hanya diberikan pada mahasiswa yg orangtuanya meninggal. Apakah ini tidak terlampau kejam? Apakah harus ada yg meninggal utk mendapatkan keringanan besar? Logika ini sudah tidak waras," tulis Ganta. 

Menanggapi hal itu, pihak UNY pun buka suara. Rektor UNY Sumaryanto mengaku sedih mendengar kisah Riska. 

"Saya sedih, sangat berduka kalau sampai penyebabnya mahasiswa sampai tidak bisa bayar, sampai depresi, saya betul-betul sedih," ucap Sumaryanto, dilansir Detikcom pada Jumat (13/1). 

Sumaryanto mengklaim UNY memiliki komitmen untuk membantu mahasiswa yang kesulitan membayar uang kuliah. 

"Kalau bukan UNY, yang membantu Sumaryanto, komitmennya seperti itu," ujarnya. 

Sumaryanto juga menambahkan bahwa UKT di UNY yang terendah adalah Rp 500 ribu hingga yang tertinggi Rp 6 juta. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru