MINGGU pekan lalu, sekira pukul 08.00 WIB, rumah yang berlokasi di Jalan Ijen No 73, Kota Malang, itu tampak sepi. Aneka bunga yang menghiasi halaman rumah gaya kolonial itu terlihat masih segar setelah menyerap energi sinar mentari pagi dan tetesan air.
Pintu rumah sudah terlihat terbuka seakan sudah siap menyambut tamu yang akan berkunjung. Saat MALANGTIMES memasuki halaman rumah yang terlihat asri dengan aneka bunga itu, sambutan senyum jadi hadiah dari sang penghuni. Ia adalah sosok perempuan yang sudah menjadi 'primadona' bagi warga Kota Malang. Ya, dialah Ya'qud Ananda Gudban.
Sosok Nanda, begitu ia populer disapa, kini menyandang sebagai wakil rakyat. Tepatnya sebagai Wakil Ketua Fraksi Gerindra Nurani Damai (FGND) DPRD Kota Malang. Di partai politik, ia dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kota Malang.
Nanda mulai terjun ke pentas politik sejak 2009 silam. Saat itu, ia menjadi kader Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA). Setelah mulai berpengalaman di organisasi politik, Nanda mulai melakukan ijtihad politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Malang (periode 2009 -2014).
Berkat perjuangan yang telah lama ditatanya di masyarakat, Nanda menjadi pilihan masyarakat untuk tampil dan berjuang di gedung wakil rakyat. Setelah terpilih, Nanda langsung dipercaya mengemban amanah partai dengan menduduki jabatan Wakil Ketua Fraksi GND (Gerindra Nurani Damai) dan anggota Komisi D DPRD Kota Malang.
Melihat latar belakang pengetahuan yang dimilikinya di sektor seni dan budaya, selain jabatan di DPRD Kota Malang, Nanda juga dipercaya menjadi pengurus Dewan Kesenian Malang (DKM) Kota Malang. Kepercayaan itu tak lepas dari kiprah Nanda yang juga konsisten memperjuangkan pelestarian seni dan budaya di Kota Malang.
Sukses menjadi wakil rakyat, pada Pemilu 2014, Nanda yang saat itu jadi orang nomor satu di Partai Hanura Kota Malang, kembali maju dalam pemilihan legislatif. Kiprahnya kembali mulus. Ia pun menduduki jabatan anggota Komisi B DPRD Kota Malang.
Keaktifan dan kiprahnya sebagai wakil rakyat tak pernah ia sia-siakan. Bahkan keaktifannya itu mengantarkan Nanda sebagai Wakil Sekjen Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi).
Sejarahnya, sebelum terjun ke dunia politik, Nanda memang sudah sejak menjadi mahasiswa aktif di dunia organisasi. Menjadi aktivis mahasiswa yang konsisten membela nasib kaum perempuan. Dengan penampilannya yang fashionable, membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman, berjuang bersama ibu dua anak itu.
Dengan setumpuk pengalamannya menjadi aktivis perempuan saat di kampus, menjadi kekuatan bagi Nanda untuk berkiprah dan berjuang melalui partai politik. Selama aktif di partai politik dan organisasi keperempuanan, seabrek prestasi yang sudah disabet oleh perempuan berjilbab itu.
Satu prestasi paling bergengsi yang diraihnya adalah ketika ia masuk dalam nominasi ''Women Leadership Award' di tahun 2012 silam. Penghargaan internasional itu diberikan pemerintah Amerika Serikat pada kaum perempuan yang mempunyai prestasi atau kepedulian terhadap negaranya.
Prestasi Nanda disejajarkan dengan sosok 'resi ilmu keuangan' yakni, Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan RI, dan Eva Sundari, anggota DPR RI, yang juga masuk sebagai nominator penghargaan itu.
Perempuan yang mendapatkan penghargaan itu, karena dinilai keaktifannya dalam sebuah perkumpulan atau organsiasi perempuan. Nanda masuk kategori itu, karena istri dari Hanif Thalib ini, aktif dan terbukti memberikan kontribusi jelas bagi negeri saat aktif di organisasi Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang. Di KPPI Kota Malang, Nanda menjabat sebagai ketua.
Sedikit tentang KPPI. Organisasi ini adalah organisasi tempat berkumpulnya para aktivis perempuan untuk memberikan advokasi di berbagai bidang keperempuanan. Misalnya, bidang unit usaha, kekerasan kepada perempuan, dan menangkap segala persoalan sosial, politik di masyarakat.
Sejak Nanda mengomando KPPI Kota Malang, organisasi ini mendapat mengakuan positif dari masyarakat Kota Malang. Sebagai organisasi yang beranggotakan kaum perempuan, KPPI terbukti menjadi wadah yang bisa melahirkan tokoh perempuan yang mempunyai peranan penting dalam berbagai hal.
Hadirkan Semangat Kartini dalam Pentas Politik
Sejak menjabat sebagai ketua KPPI Kota Malang, Nanda sudah 'hadir' menjadi motor penggerak bagi Organisasi Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang.
KPPI yang menjadi tempat berkumpulnya para aktivis perempuan, yang aktif dalam memberikan advokasi di berbagai bidang, seperti pendampingan UMKM, advokasi terhadap kekerasan kaum peremupuan, hingga menangkap segala persoalan sosial dan politik, betul-betul menjadi rumah perjuangan bagi Nanda.
Perjuangan Nanda pun semakin terlihat. Setelah menjabat sebagai ketua KPPI Kota Malang, ia menilai bahwa pendidikan politik, khususnya bagi kaum perempuan di Indonesia, terlihat masih sangat rendah.
Menurutnya, mayoritas kaum perempuan, masih cenderung apatis dan seolah tidak mau tahu dengan dunia politik. Indikasi itu bisa dilihat pada Pemilihan Umum 2014 lalu, di mana tingkat partisipasi pemilih perempuan cukup rendah.
Nanda mencontohkan, sosok perempuan pejuang bangsa, yang patut menjadi contoh dan ditiru semangatnya adalah perjuangan R.A. Kartini. Kartini berjuang di zaman yang lebih berat, tidak hanya bidang politik, tapi juga di semua sektor kehidupan.
Semua lini persamaan dibuka dan diperjuangkan oleh Kartini. "Harapan saya, perempuan masa kini menginspirasi jejak Kartini. Baik berjuang dalam dunia politik maupun sektor sosial lainya," katanya.
Menurut Nanda, sosok seorang Kartini memang layak dan mungkin harus menjadi contoh bagi kaum perempuan masa kini. Mengapa? Karena berkat perjuangannya-lah, perempuan-perempuan Indonesia bisa berkarya dan berkiprah dalam pembangun untuk memajukan bangsa.
Saat ini, sambung dia, tidak sedikit Kartini-Kartini muda Indonesia yang berperan sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, dan yang berkecimpung dalam dunia politik.
"Sudah banyak kepala daerah dari kaum perempuan, bahkan republik ini pernah dipimpin oleh seorang perempuan, dan ini suatu bukti nyata bahwa peran perempuan itu mempunyai hak sama dengan kaum laki-laki," tegas Nanda.
Perempuan Indonesia, katanya, jangan sampai melupakan adat istiadat ketimuran. Jangan sampai pula perempuan Indonesia tergilas oleh perilaku atau gaya hidup orang barat yang tidak sesuai dengan adat isitiadat yang ada di Indonesia.
"Dalam dunia politik, perempuan harus bisa berbuat serta bisa memberikan pemikiran-pemikiran atau kontribusi positif, meskipun tidak terlibat dan terjun langsung dalam politik praktis. Misalnya, dengan turut memilih dan menentukan tokoh perempuan terbaik untuk menjadi seorang pemimpin."
Kaum hawa yang tergabung dalam KPPI, kata Nanda, terus mengampanyekan Pilkada Damai dengan tujuan menyampaikan pesan damai sekaligus edukasi kepada publik. Tujuannya untuk menjadi pemilih cerdas.
"Ini karena kaum perempuan memiliki posisi strategis dalam memberi pencerahan kepada masyarakat dan mewujudkan demokrasi," tuturnya.
Nanda memandang, masyarakat punya pilihan politik yang berbeda. Namun, sudah sepatutnya untuk saling menghargai dan menjaga keharmonisan serta kebersamaan di tengah perbedaan itu.
Di setiap momentum pesta demokrasi, lokal, maupun nasional, Nanda selalu mewanti-wanti agar kaum perempuan dan masyarakat umum tetap menggunakan hak pilihnya alias tidak golput serta tidak terpengaruh dengan adanya praktik money politics.
"Kini saatnya kaum perempuan sadar akan hak warga negara dalam memilih pemimpin. Karena kaum perempuan memiliki potensi dan kontribusi yang besar dalam mewujudkan demokrasi yang damai," katanya.
Terus Membangun Kemandirian Ekonomi
SELAIN tak pernah lelah berjuangn di pentas politik, Nanda juga terus berjuang membanngun kemandirian dalam sektor ekonomi masyarakat. Hal itu juga digelutinya di KPPI Kota Malang. Terbukti, KPPI telah banyak melakukan kerjasama. Misalnya, dengan pemerintah Amerika Serikat untuk menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dan sosial masyarakat. Hal itu sudah terjalin selama lima tahun lamanya.
Adapun bentuk dukungan yang diberikan Pemerintah Amerika Serikat adalah melalui program marketing corner. Program tersebut berupaya untuk mendorong enterprenuer perempuan muda dalam mengembangkan usahanya melalui pelatihan-pelatihan kewirausahaan.
Dalam program itu, Nanda langsung menjadi motor penggerak dalam melakukan pendampingan kepada pelaku sektor ekonomi kreatif terutama nasib Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Malang.
Saat ini, kurang lebih 100 UMKM yang sudah menjadi binaan KPPI Kota Malang. Beberapa di antaranya bergerak di bidang kerajinan tangan dan industri tekstil skala rumahan.
Pendampingan yang dilakukan, tak hanya terkait skill pengrajin. Tapi juga menyangkut jaringan pemasaran hasil produk mereka.
"Pendampingan pada 100 UMKM itu kami lakukan karena saya melihat penanganan pemerintah pada UMKM tak pernah tuntas. Banyak program-progam pemerintah, hanya menyentuh permukaannya saja," kata perempuan berjilbab itu.
Nanda melihat, seringkali para pelaku UMKM hanya diundang mengikuti pelatihan keterampilan, tanpa ada tindak lanjut yang jelas menyangkut bagaimana teknik pemasaran produk dan akses permodalannya. "Padahal, itu yang sangat krusial," ujar alumnus STIBA itu.
Padahal, sambung Nanda, produk UMKM itu bisa menembus pasar internasional. Tapi di Indonesia, kurang begitu diseriusi oleh pemerintah. Terbukti, banyak pelaku UMKM yang bingung untuk memasarkan produknya," katanya.
Atas dasar itulah, bersama anggota KPPI Kota Malang lainnya, Nanda merancang program pendampingan UMKM secara utuh dan menyeluruh. ''Saya menamakannya one stop service,'' ujarnya.
Bentuk kegiatannya mulai pelatihan, dropping bahan baku, hingga pemasaran. KPPI Kota Malang telah banyak menggandeng praktisi untuk mematangkan skill, kalangan pemodal, dan membuat jaringan pemasaran.
Nanda berharap apa yang dilakukannya bersama anggota KPPI Kota Malang segera mendapat respons dari pemerintah Kota Malang. Apalagi hal itu adalah ranah pemerintah daerah.
"Saya lebih senang jika dinas terkait bisa berperan dalam quality control produk UKM. Sehingga, apa yang dibutuhkan pasar benar-benar terpenuhi. Keberadaan KPPI terjun di UKM berfungsi sebagai penghubung atau connecting people bukan untuk berbisnis," tegasnya.
Selain di sektor usaha, KPPI Kota Malang juga melakukan satu langkah konkret dalam menyambut era pasar bebas Asean atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal itu dibuktikan dengan melakukan sertifkasi gratis bagi 100 pelaku UMKM binaannya. "KPPI menggandeng Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Merdeka Malang."
Sebelum mengikuti uji sertifikasi, tambah perempuan yang dikenal ramah dan murah senyum itu, pelaku UMKM tersebut diberi pengarahan terkait 8 materi umum yang akan diujikan. Mulai dari perencanaan bisnis, manajemen keuangan (BEP), pemasaran, komunikasi dengan masyarakat, hingga kepemimpinan wirausaha.
Sertifikasi menjadi satu faktor penting dalam keberlangsungan UMKM, utamanya ketika sudah memasuki Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pelaku UMKM yang telah lulus uji sertifikasi bisa menjadi tolak ukur kemampuannya dalam hal manajemen dan marketing bisnisnya, guna bersaing di pasar bebas. (*)

