Malangtimes

Mengenang Perjuangan Raden Ronggo Prawirodirjo III, Banteng Yogyakarta Mancanegara Timur

Dec 16, 2022 21:57
Pintu depan makam GBRAy Maduretno dan Raden Ronggo Prawirodirjo III di Gunung Bancak Magetan.(Foto : Aunur Rofiq/JATIMTIMES)
Pintu depan makam GBRAy Maduretno dan Raden Ronggo Prawirodirjo III di Gunung Bancak Magetan.(Foto : Aunur Rofiq/JATIMTIMES)

JATIMTIMES - Namanya begitu harum dan pahlawan sejati bagi masyarakat di wilayah Madiun dan Magetan. Dialah Kanjeng Ario Adipati Ronggo Prawirodirjo III atau Raden Ronggo Prawirodirjo III, pejuang perintis perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Perjuangan Raden Ronggo yang begitu heroik diidolakan oleh banyak tokoh. Salah satunya Pangeran Diponegoro.

Sejarah mencatat, Raden Ronggo Prawirodirjo III menjabat sebagai bupati wedana Karesidenan Madiun menggantikan ayahnya, Raden Ronggo Prawirodirjo II, pada tahun 1795–1810. Pada masa itu, bupati wedana Madiun adalah pemimpin tertinggi wilayah Mancanegara Timur Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (kalau di pemerintahan modern zaman sekarang, setingkat dengan jabatan gubernur).

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, wilayah Jawa Timur meliputi Madiun, sebagian Pacitan, Magetan, Caruban, dan Tulungagung masuk dalam wilayah kekuasaan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di luar itu, wilayah meliputi Ponorogo, Jogorogo, sebagian Pacitan, Kediri, dan Blitar masuk dalam wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 

Isteri Raden Ronggo Prawirodirjo adalah putri Sri Sultan Hamengkubuwono II, yaitu Gusti  Bendara Raden Ayu (GBRAy) Maduretno. Walaupun masa hidupnya terkesan singkat, tidak bisa dipungkiri jika sepak terjang Raden Ronggo Prawirodirjo III atau yang akrab disapa Raden Ronggo sangat berpengaruh kepada sikap Pangeran Diponegoro yang anti-campur tangan Belanda terhadap pemerintahan Karaton Yogyakarta.

Pemberontakan Raden Ronggo terhadap Belanda merupakan peristiwa besar dalam sejarah Keraton Jawa bagian tengah selatan, sebelum meletusnya Perang Jawa. Meskipun pemberontakan ini gagal, peristiwa ini telah menginspirasi lahirnya pemberontakan yang lebih besar lagi, yakni Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Sisi-sisi inilah yang membuat Raden Ronggo Prawirodirjo III menarik untuk diulas.

Berdasarkan catatan sejarah, Raden Ronggo Prawirodirjo III (1710-1810) merupakan cucu  Kiai Prawirosentiko atau Raden Ronggo Prawiro Sentiko atau Raden Ronggo Prawirodirjo I. Raden Ronggo I merupakan keturunan Sultan Abdul Kahir I dari Bima.

Di awal kehidupannya, Raden Ronggo III tinggal di sebelah selatan Kali Catur, Desa Kranggan, wilayah Kabupaten Madiun. Dia diangkat menjadi bupati wedana Madiun pada 14  Januari 1796, saat itu usianya baru 16 tahun.

Keberhasilan Raden Ronggo III menghentikan perlawanan Rajegwesi yang dikenal sakti menimbulkan decak kagum Sri Sultan Hamengku Buwono II alias Sultan Sepuh. Kekaguman ini Sultan Hamengkubuwono II kemudian berlanjut dengan mengangkat Raden Ronggo III menjadi panglima perang pasukan Karaton Yogyakarta.

Sejak itu, dia memiliki ribuan pasukan. Dia juga dibolehkan tinggal di keraton dan berhubungan langsung dengan Sultan Sepuh. Bahkan, dia menikahi putri Sultan Sepuh dan Ratu Kedaton, yakni GBRAy Maduretno. Sebagai menantu Sultan Sepuh, Raden Ronggo berpeluang menjadi adipati wilayah Mancanegara Timur Jogjakarta.

Selama masa pemerintahannya sebagai bupati wedana Madiun, Raden Ronggo III lebih suka tinggal di keraton. Dia juga beberapa kali melakukan latihan militer di alun-alun muka Keraton Jogjakarta, sehingga menimbulkan kecurigaan kompeni.

 Tidak adanya batas jelas wilayah Jogjakarta dan Surakarta kerap menimbulkan perselisihan kedua penduduk. Setiap terjadi perselisihan itu, Raden Ronggo III kerap bertindak kejam dengan langsung menindak penduduk Surakarta. Bahkan pernah Raden Ronggo menyuruh membakar habis beberapa desa di Ponorogo sebagai balas dendam atas kerusuhan yang terjadi di wilayah perbatasan yang menurut laporan dilakukan oleh penduduk Surakarta.

Begitu pula saat terjadi monopoli perdagangan kayu jati di Mancanegara oleh Belanda. Raden Ronggo termasuk yang berang. Dia mengecam tindakan sewenang-wenang Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Deandels itu karena tidak hanya merugikan para bupati, tetapi juga warga yang tinggal di kawasan hutan jati. Konflik sosial benar-benar tak dapat dihindari.

Kondisi tersebut berimbas pada banyak penduduk sekitar yang menjadi pelaku-pelaku kriminal kecil. Mereka juga kerap terlibat bentrokan dengan penduduk di wilayah pesisir yang dikuasai oleh pihak Belanda.

Sebagai kepala pemerintahan distrik-distrik di wilayah Mancanegara Timur Karaton Yogyakarta, Raden Ronggo Prawirodirdjo III kerap dijadikan kambing hitam dalam kericuhan itu. Mengetahui hal itu, emosi Raden Ronggo III benar-benar  terbakar. Ditambah, pada waktu itu istrinya, GBRAy Maduretno, meninggal dunia pada pertengahan 1809. Kepergian istri tercinta benar-benar memukul batin Raden Ronggo III.

Luka Raden Ronggo III semakin bertambah manakala Deandels makin kejam. Dia melakukan kerja paksa terhadap penduduk untuk membangun jalan raya pos lintas Jawa. Proyek jalan ini, telah memakan lebih dari 12.000 jiwa orang Jawa. Alhasil, banyak warga yang mengungsi ke wilayah kerajaan.

Sementara itu, konflik perbatasan antara wilayah Jogjakarta dan Surakarta mencapai puncaknya yang pertama di Delanggu. Saat itu, terjadi insiden yang menewaskan kepala desa Delanggu oleh pasukan Raden Ronggo III. Puncak konflik selanjutnya perampokan dan pembunuhan dalam peristiwa Ngebel-Sekedok, pada 31 Januari 1810. 

Dalam peristiwa itu, tiga orang warga tewas dibunuh oleh orang Madiun yang diduga disuruh Raden Ronggo III. Menurut penyelidikan Dendeals, Raden Ronggo III bersalah atas peristiwa ini. Dia lalu menjatuhkan hukum tangkap hidup atau mati kepada Raden Ronggo. Sejak peristiwa itulah, perlawanan Raden Ronggo terhadap Belanda dimulai.

Pemberontakan Radeng Ronggo III berlangsung singkat. Meski demikian, dampaknya sangat besar dalam perkembangan sosial politik Jawa ke depannya.  Pada waktu itu, Raden Ronggo III mendeklarasikan dirinya sebagai Ratu Adil yang mengayomi semua korban kekejaman dan ketidakadilan Belanda. Dalam hal ini, dia berhasil menarik golongan Tionghoa ke dalam barisannya.

Komunitas-komunitas Tionghoa peranakan yang kaya di Lasem, Tuban, dan Sidayu diajaknya bergabung. Raden Ronggo III berharap dapat bantuan logistik untuk melancarkan serangan terhadap garnisun Belanda di sepanjang Rembang-Surabaya. Meski demikian, dukungan paling kuat terhadap perlawanan Raden Ronggo III justru berasal dari golongan Muslim Jawa.

Pemberontakan Raden Ronggo juga dinilai memiliki arti penting paham mesianis Jawa yang menjadi cikal bakal ciri-ciri perlawanan Pangeran Diponegoro yang berlangsung 15 tahun kemudian setelah Raden Ronggo III wafat. Perjuangan Raden Ronggo membangkitkan kesadaran banyak penguasa di Jawa.  Meski demikian, pemberontakan ini tetap gagal menyatukan kembali kerja sama antara Jogjakarta dengan Surakarta.

Sedangkan Deandels memang benar-benar tidak tidak bisa dianggap remeh. Gerakannya sangat cepat. Dia terus mengejar pasukan Raden Ronggo III tanpa henti dengan bantuan pasukan dari Karaton Yogyakarta yang sebenarnya membantu Deandels dengan sandiwara. Digempur dari berbagai penjuru, dengan gagah berani Raden Ronggo III terus melakukan perlawanan.

Dalam pertempuran penghabisan di Kertosono, sebagian besar pasukan Raden Ronggo III telah berhasil dipukul mundur dan lari ke dalam hutan. Saat itu, dia bertemu dengan bangsawan Yogyakarta Pangeran Dipokosoemo yang tak lain adalah saudara Pangeran Diponegoro.

Dalam pertempuran pada 21 Desember 1810 itu, Raden Ronggo III akhirnya gugur di tangan Pangeran Dipokosoemo. Dalam pertempuran pura-pura itu, Raden Ronggo III meminta agar Dipokosoemo menghabisi nyawanya dengan tombaknya sendiri.

Deandels menekan Sultan Hamengkubuwono II agar Ronggo III jangan diperlakukan sebagai pahlawan Yogyakarta. Saat itu sultan kedua bersikap lunak sebagai strategi melawan Daendels.

Untuk mengelabuhi Deandels agar Hamengkubuwono II dianggap tidak merestui menantunya melakukan pemberontakan, sultan kedua memerintahkan jenazah Ronggo III dipajang di Pangurakan (Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta) sehari penuh dan kemudian dimakamkan di Banyusumurup, makam tempat orang-orang yang dianggap durjana di dinasti Mataram Islam dan penerusnya.

Rupanya Deandels bukanlah orang yang bodoh. Insting marsekalnya mengatakan tetap tidak percaya bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono II tidak terlibat dalam pemberontakan Ronggo. Ketidakpercayaan itu kelak akan membuahkan Hamengkubuwono II diturunkan secara paksa dari takhtanya pada 31 Desember 1810 dan Keraton Yogyakarta diperintah oleh Putra Mahkota Pangeran Surojo (Ayah Pangeran Diponegoro) naik tahta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Deandels tidak main-main. Untuk memaksa agar sultan kedua turun takhta, pada 27 Desember 1810 dia membawa tentaranya dan siap meluluhlantakkan Keraton Yogyakarta dengan prajurit sebanyak 3.200 personel yang diparkir di Desa Kemloko, perbatasan antara Yogyakarta dan Kedu.

Perjuangan Raden Ronggo Prawirodirdjo III yang heroik benar-benar membekas di hati sanubari Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro yang tak lain adalah cucu dari Sri Sultan Hamengkubuwono II dalam babad karyanya (Babad Diponegoro versi Manado) memuji Ronggo III sebagai “Banteng (pahlawan) terakhir Kesultanan Yogyakarta”. Menurut Sang Pangeran, Ronggo III adalah seorang kesatria yang disebut sebagai Pangeran Wirayuda. Ronggo III dianggap sebagai role model bagi bangsawan-bangsawan lain yang saat itu sebagian besar takut terhadap kolonial Belanda.

Untuk membuktikan bahwa Sang Pangeran sangat ingin menjadi bagian dari keluarga mendiang Ronggo III sebagai patron-kliennya, Diponegoro menikahi putri Ronggo III yang bernama Raden Ayu Maduretno (sekitar 1798-1827). Setelah tahun 1827 Maduretno meninggal karena sakit, Diponegoro kemudian menikahi keponakan Ronggo III yang bernama Raden Ayu Retnoningsih (sekitar 1810-1885).

Tidak berhenti sampai di situ. Dalam Perang Jawa, Sang Pangeran juga memberikan kepercayaan kepada putra Ronggo III yang bernama Basah Abdulkamil sebagai panglima tertinggi Diponegoro.

Setelah Basah Abdulkamil gugur dalam Perang Jawa dan dimakamkan di pemakaman Kutogiri Kulonprogo, Pangeran Diponegoro mengangkat adiknya yang bernama Alibasah Sentot Prawirodirjo sebagai panglima tertinggi berikutnya dalam Perang Jawa.

Dan sebagai wujud penghargaan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1957 memberikan anugrah Pahlawan Perintis Kemerdekaan kepada Raden Ronggo Prawirodirjo III. Makam Raden Ronggo III di Banyusumurup kemudian dibongkar. Jenazah Raden Ronggo III kemudian dimakamkan kembali di Gunung Bancak Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur berdampingan dengan makam istri permaisurinya GBRAy Maduretno.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru