Malangtimes

Gunung Semeru Asalnya dari India, Ini Kisahnya Bisa Sampai ke Indonesia 

Dec 06, 2022 18:32
Nampak depan Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. (Foto: google)
Nampak depan Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. (Foto: google)

JATIMTIMES - Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Dalam kosmologi Hindu, Semeru diartikan sebagai pusat jagat raya. Di mana orang-orang menjulukinya sebagai gunung tempat bersemayam para dewa. Alhasil Semeru sering diaktualisasikan sebagai wujud kebesaran karena tingginya yang mencapai 3.676 meter. 

Sebagai contoh, eksistensi Semeru tak cuma ada dalam dokumen Belanda karena Semeru telah ada di naskah kuno yaitu Tantu Panggelaran dari abad ke 15. 

Kehadiran Gunung Semeru dalam naskah Tantu Panggelaran jadi bukti bahwa gunung para dewa penting bagi peradaban di tanah jawa. 

Dalam naskah Tantu Panggelaran dikisahkan awal mula Gunung Semeru berasal dari India. Kala itu, pulau Jawa masih terombang-ambing oleh samudera. Dikutip dari Norman Edwin dalam tulisannya di majalah suara alam berjudul pertapaan Kameswara dan Prasasti di danau 1992. Pendudukan pulau jawa masih belum mantab pada posisi yang sekarang. 

Seketika bathara guru sang penguasa tunggal memerintahkan para dewa dan raksasa untuk memindahkan gunung Mahameru di India sebagai pemberat. Tujuannya adalah agar pulau Jawa tidak terombang-ambing lagi.

Baik dewa dan raksasa langsung melaksanakan perintah dari Bathara Guru itu. Dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura yang besar lalu menggendong mahameru. Sementara, Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular yang panjang sekali lalu melilit gunung itu agar bisa ditarik ke tanah jawa. 

Mahameru kemudian diletakkan di barat pulau Jawa. Namun karena tak seimbang, dengan buru-buru mereka memindahkan Gunung Mahameru ke timur. Dalam perjalananya, beberapa bagian dari mahameru tercecer dan membentuk gunung-gunung di sepanjang pulau jawa.Mahameru pun berhasil ditempatkan di sebelah timur. 

Akan tetapi masalah belum selesai. Karena ternyata gunung mahameru itu berdiri menghadap ke arah utara. Diputuskanlah untuk memotong ujung gunung itu, lalu memindahkannya ke arah barat laut dan dinamakan Pawitra. 

Mahameru itu kemudian dikenal sebagai Gunung Semeru. Sedangkan Gunung Pawitra sekarang dikenal Gunung Penanggungan. 

Gelar gunung para dewa pun dilegitimasi oleh cerita Gunung Semeru sebagai area pertapaan dewa Siwa. Untuk memperindah lokasi pertapaan, dewa Siwa disebutkan membuat sebuah danau untuk pemandiannya. Konon danau tersebut adalah ranu kumbolo.  

Kisah itu juga diperkuat dengan ditemukannya situs purbakala di sekitar Gunung Semeru. Yang paling terkenal, adalah prasasti di ranu kumbolo dan Arcapada.

Prasasti di Ranu Kumbolo yang berbahasa jawa kuno diperkirakan telah ada sejak awal abad ke-12. Pesan-pesan dalam prasasti bertuliskan memperingati kunjungan dari Sri Kameswara, seorang raja dari kerajaan kediri yang berziarah ke sebuah pemandian suci. Diduga raja pun sempat melakukan pertapaan di kawasan itu. 

Orang yang berjasa mengenalkan semeru ke dunia adalah ahli Biologi berkebangsaan Belanda yaitu GF Clingnett. Ia penasaran dengan legenda gunung semeru menjadi orang pertama yang mendaki gunung itu. Menurut Carel Willem Wormser dalam buku Kemewahan Gunung-Gunung (1928), empunya buku menulis Clingnett mendaki gunung semeru dari sebelah barat daya, lewat midodaren pada 19 oktober tahun 1838. Jalur itu dikenal jalur pendakian yang sukar. 

Akan tetapi setelah pendakian Clingnett, pendaki eropa lainnya muncul satu demi satu. Beberapa diantaranya ada nama seorang ahli botani berkebangsaan belanda yakni Junhuhn yang mendaki gunung semeru lewat utara yakni lewat Gunung Ayek-Ayek, Gunung Ider-Ider, dan Gunung Kepolo pada 1844. 

Sesudahnya residen Pasuruan mencoba peruntungan untuk mendaki semeru, namun pihak residen gagal mencapai puncak. Perlahan-lahan gunung semeru pun menjadi populer. Kepopuleran itu berkat badan pariwisata bentukan pemerintah Hindia-Belanda, mencatatkan asemeru sebagai wisata yang wajib dikunjungi, jika berkunjung ke pulau jawa. 

Lewat buku panduannya yang berjudul Java The Wondeeland tahun 1900, Hunung Semeru menjadi destinasi yang paling dibahas kala menyebut daerah Jawa Timur. 

Untuk mengenang eksistensi semeru, khalayak umum masih dapat mengakses catatan harian soe hok gie dalam catatan seorang demonstran 2008. Gie yang juga dikenal sebagai seorang aktivis mahasiswa era 1960-an menggambarkan Semeru sebagai tempatnya untuk menemukan kesunyian abadi. 

 

Selain itu kemegahan semeru juga dapat dilihat dari lagu kubahan dari salah satu band legendaris di Indonesia yaitu dewa19 yang berjudul mahameru tahun 1994. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru