Malangtimes

Kondisi 7 Pasien Tragedi Stadion Kanjuruhan di RSSA Malang Memburuk

Oct 04, 2022 21:16
Plt Direktur RSSA Malang, dr Kohar Hari Santoso saat jumpa pers (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Plt Direktur RSSA Malang, dr Kohar Hari Santoso saat jumpa pers (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kondisi 7 dari 30 pasien tragedi Stadion Kanjuruhan di RSSA Malang dalam kondisi memburuk. Hal tersebut disampaikan Plt Direktur RSSA Malang dr Kohar Hari Santoso, Selasa (4/10/2022) siang.

dr Kohar Hari Santoso mengatakan bahwa pihaknya menerima 56 korban luka tragedi Stadion Kanjuruhan. Dari 56 korban itu, 26 korban kondisinya mulai membaik dan telah diperbolehkan untuk pulang. Kini hanya tersisa 30 pasien, dimana 7 diantaranya dalam kondisi memburuk.

“Ada 7 pasien (korban luka tragedi Kanjuruhan) di ICU karena kesehatan menurun, perlu bantuan pernafasan, imun tak setabil dan sebagainya,” kata dr Kohar Hari Santoso.

Disinggung apakah pasien yang memerlukan bantuan pernafasan itu karena dampak gas air mata? Kohar mengaku tak bisa memastikan, karena dada orang yang terdesak dalam kerumunan juga membahayakan jiwa.

“Kami tidak bisa memastikan gas air matanya langsung dihirup masuk atau karena dia panik, lari berdesakan, terinjak injak. Kami tak bisa memastikan itu,” ungkap Kohar.

Namun menurutnya, pasien tersebut dikategorikan dalam korban luka berat. Kini pihaknya juga tengah melakukan pemantauan ketat terhadap 7 pasien itu. 

Sementara 23 pasien lainnya tengah dirawat di ruang high care unit dan ruang biasa RSSA Malang. Pasien ini menurutnya dalam kategori korban luka sedang dan luka ringan yang kondisinya mulai membaik.

Sementara itu, Kohar mengaku bahwa 21 jenazah korban tragedi Stadion Kanjuruhan yang dirujuk ke RSSA Malang telah teridentifikasi. Bahkan jenazah tersebut telah diambil oleh keluarganya dari berbagai daerah.

“Jenazah di sini total 21, di hari pertama sudah teridentifikasi semua dan sudah diambil keluarga semua,” kata Kohar.

Dari puluhan jenazah itu, Kohar mengaku mayoritas mengalami luka didada, kepala hingga patah tulang. Kematian mereka disebut lantaran trauma hingga membuat gagal nafas dan pendarahan di dalam kepala.

“Penyebab kematian terbanyak karena trauma. Jadi benturan keras dikepala, kalau berdarah di otak, bisa mengakibatkan kematian. Dada tertekan sampai tak bisa bernafas ya bisa meninggal,” ungkap Kohar.

“Tak ada luka bakar, tapi ada luka benturan karena berdesakan, di dada, kepalanya sehingga kesadaran menurun menjadi sesak, ada patah tulang dan sebaginya,” imbuhnya.

Dari keseluruhan jenazah itu, Kohar mengatakan tidak ada satupun yang diautopsi hingga membedah organ tubuh. Dia menyebut, jenazah hanya diidentifikasi untuk mendapatkan identitasnya.

“Autopsinya bukan dibuka bagian tubuhnya, tapi hanya pemeriksaan luar saja, pemeriksaan Dead Victim Identification (DVI) dan dilihat data sebelum meninggal. Mulai keterangan dari keluarga, KTP, tanda khusus, tato, pakaian kami cocokkan. Lalu juga pemeriksaan sidik jari dibantu Inafis Polda,” tutup Kohar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru