Peternak Keluhkan Luka Bernanah pada Sapi setelah Terkena Penyakit Mulut dan Kuku

Sep 01, 2022 15:11
Rumaji saat memeriksa perkembangan kondisi sapi miliknya.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Rumaji saat memeriksa perkembangan kondisi sapi miliknya.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Sejumlah peternak di wilayah Malang Barat, yakni Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Kasembon, masih harus berjuang untuk benar-benar bisa pulih dari wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Pasalnya, meskipun telah diklaim sembuh dari PMK, kondisi ternak masih harus menjalani pemulihan. 

Apalagi, setelah gejala PMK yang ada pada mulut dan kuku sapi tersebut hilang, beberapa sapi ada yang secara tiba-tiba mengalami luka. Luka tersebut bahkan cukup parah hingga keluar darah dan bernanah. 

Luka itu kerap ditemui pada sapi yang baru saja mengalami gejala PMK. Biasanya, muncul pada bagian paha sapi, atau sedikit ke bagian belakangnya. Menurut sejumlah peternak di Pujon, luka tersebut ada yang sampai berlubang cukup dalam. 

Hal tersebut salah satunya dialami oleh peternak asal Dusun Jurangrejo, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Rumaji. Dari keempat sapi miliknya yang terkena PMK, ada sebagian yang muncul luka terbuka secara tiba-tiba. 

"Waktu PMK itu kan sapi ini berliur dan kakinya terluka. Lalu yang parah itu, tiba-tiba sapi ada luka hingga memborok di bagian paha," ungkap Rumaji saat ditemui di kandang sapi miliknya, Kamis (1/9/2022).

Dari pantauannya, kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh sapi yang ada di Dusun Jurangrejo. Dan memang kebanyakan muncul pada sapi yang terpapar PMK. Bahkan, juga tidak sedikit sapi yang mati akibat PMK dan diperparah dengan luka tersebut. 

"Kemarin itu waktu diobati, ada yang sampai nanahnya muncrat," ujar Rumaji sembari memberi makan sapi miliknya. 

Ia memperkirakan ada sebanyak 500 KK di Dusun Jurangrejo yang berternak sapi perah. Setidaknya 1 orang peternak mempunyai 2 ekor sapi. Namun ada juga beberapa peternak yang sapinya  berjumlah lebih dari 5 ekor. 

"Mungkin kalau dihitung sudah ada sekitar seribu ekor sapi yang mati. Satu keluarga saja biasanya punya 2 ekor minimal. Ini ada yang sampai 9 ekor sapinya mati semua. Mungkin total ada sampai 1.000 ekor yang mati," kata Rumaji.

Salah seorang peternak di Pujon menunjukan luka bernanah pada sapinya yang berangsur pulih.(Foto: Istimewa).

Kondisi tersebut membuat sapi perah miliknya tidak dapat menghasilkan susu. Pada kondisi normal atau dalam keadaan sehat, keempat sapinya bisa memproduksi hingga 25 liter susu dalam satu hari. Namun, saat sedang sakit, sapi-sapi miliknya nyaris tidak dapat menghasilkan susu sama sekali.

"Satu liter, satu ekor sapi aja enggak keluar. Apa yang mau disetor," imbuhnya. 

Walau  begitu, atas upayanya secara mandiri, saat ini keempat sapi milik Rumaji sudah berangsur normal. Luka terbuka yang sempat ada di beberapa sapinya juga mulai sembuh. 

Menurut Rumaji, selama kurang lebih 15 tahun beraktivitas sebagai peternak dan mengandalkan hasil perahan susu, wabah PMK dengan berbagai gejalanya baru ia alami saat ini. Dan dia merasa hal itu cukup memukul kondisi ekonomi peternak. 

"Kalau obat dari pemerintah kayaknya hampir enggak ada sama sekali. Jadi, ini mulai terkena PMK. Sapi saya berlendir lalu sampai ada luka boroknya, itu pengobatan saya lakukan mandiri," pungkas Rumaji.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru