Produksi Susu Sapi di Pujon Anjlok, Imbas Banyak Sapi Perah Mati Akibat PMK

Jun 12, 2022 20:05
Sapi perah yang dalam perawatan dari PMK di Desa Pujon Kidul Kabupaten Malang.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Sapi perah yang dalam perawatan dari PMK di Desa Pujon Kidul Kabupaten Malang.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Malang yang hingga saat ini masih terus meningkat, ternyata juga mengancam produktifitas susu sapi. Terutama di wilayah Malang Barat yang meliputi tiga kecamatan yakni Kecamatan Pujon, Ngantang dan Kasembon.

Apalagi, berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, dari 5.623 sapi yang telah dipastikan tertular PMK, paling banyak ada di wilayah Malang Barat, khususnya Pujon yang mencapai 3.688 ekor. 

Hal ini jelas berdampak pada produktifitas susu sapi yang kian hari semakin menurun. Pasalnya, hampir 75 persen masyarakat di wilayah Malang Barat, bergantung pada sektor sapi perah dan mengandalkan produktifitas susunya.

"Kalau datanya, di Pujon saja itu diprediksi  ada sebanyak 5.500 ternak yang terindikasi PMK. Potensi itu nampak dari produktifitas susunya yang turun. Jadi yang awalnya 117 ton per hari, saat ini hanya tinggal 70 ton per harinya. Jadi sekarang sudah ada penurunan produktifitas susu sebanyak 40 ton per hari," ujar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sodiqul Amin, Minggu (12/6/2022).

Dirinya berasumsi bahwa jika pada 1 ekor sapi laktasi bisa menghasilkan susu sebanyak 10 liter. Maka dengan jumlah produktifitas susu yang menurun hingga 40 ton per hari, dirinya memperkirakan ada sekitar 4.500 ekor sapi yang tidak bisa menghasilkan susu karena diduga tertular wabah PMK

"Itu kalau sesuai dengan nilai produktifitas. Lalu itu tadi di Ngantang, oleh KUD Sumber Makmur sudah disampaikan bahwa saat ini sudah di atas, 5.000 (ekor), di kasembon sekitar 1.500. Sehingga estimasi kita yang dipastikan terjangkit ditambah ternak yang sudah menunjukan gejala klinis, sudah di angka sepuluh ribu," terang Politisi Partai NasDem ini.

Untuk itu, dirinya meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang segera menyajikan data secara lebih kongkret. Tidak hanya sapi, namun juga ternak lain yang dinilai berpotensi tertular wabah PMK. 

Sementara itu, hal senada juga dicatat oleh Koperasi Andadani Ekonomi (SAE) Pujon. Dimana penurunan produktifitas susu terjadi hingga 40 persen. Menurut Humas Koperasi SAE Pujon, Suyono, setelah wabah PMK ini terjadi produksi susu hanya menghasilkan 40 hingga 50 ton per hari. Turunnya produktifitas susu ini disinyalir akibat banyaknya sapi perah di Pujon yang mati akibat PMK.

“Kematian sapi perah penyebab utamanya untuk sementara ini akibat tertular PMK,” ujar Suyono.

Berdasarkan catatannya, populasi sapi perah di Pujon yang tercatat sebagai anggota Koperasi SAE ada sebanyak 18 ribu ekor. Namun, semenjak wabah PMK ini menyerang, populasi sapi perah di Pujon disinyalir turut anjlok. 

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang agar memikirkan kondisi peternak yang kehilangan ternaknya yang mati akibat tertular PMK. Sebab, satu ekor sapi yang sudah bisa menghasilkan susu, harganya bisa mencapai Rp 50 juta. Kondisi banyaknya sapi perah yang mati, tentu sangat memukul peternak sapi perah. 

“Jika peternak memiliki 5 ekor sapi perah lalu mati, maka akan mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Sehingga untuk meringankan peternak yang mengalami kerugian tersebut, maka diharapkan pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) seperti kasus Covid-19,” terang Suyono. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
razia satpol pp kota batupenolakan ustaz abdul somadkasus pmk di jatimKabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru